
YOGYAKARTA | duta.co – Siapa paling tepat menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)? Pertanyaan iitu mulai ramai diperbincangkan. Ada sejumlah nama yang beredar. Bagi Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), posisi Rais Aam PBNU menjadi sangat penting dalam Muktamar ke-35 NU mendatang.
“Tantangan NU ke depan semakin kompleks. Jamiyah ini butuh sosok yang aliman, faqihan bi ulumiddin mashalihil ummah. Zahidan, muru’atan, futuwwah, muharrikan dan amilan ala Sabili Nahdlatil Ulama. Kualifikasi itu ada di sosok Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA,” demikian disampaikan KH Nur Kholik Ridlwan, dari JKSN Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (22/1/26).
Mendekati Muktamar ke-35 NU, JKSN DIY membuat pernyataan sikap. Diakui, bahwa, NU sekarang berada pada satu titik, krusial. Di tengah arus globalisasi, digitalisasi dakwah, dan penetrasi ideologi transnasional, NU menghadapi tantangan serius untuk mempertahankan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah agar tetap hidup, relevan, dan menjadi rujukan keilmuan yang menenteramkan.
“Pada saat yang sama, dinamika internal organisasi—mulai dari penguatan tata kelola kelembagaan, konsistensi khittah perjuangan, hingga kebutuhan merawat persatuan dan kepercayaan warga nahdliyin—menuntut kepemimpinan yang mampu meredam friksi, memperkuat konsensus ulama, dan mengembalikan marwah NU sebagai jaminan moral, keilmuan, dan kebangsaan bagi umat,” tegasnya.
Tantangan eksternal, lanjutnya, berupa tuntutan publik agar NU tetap menjadi penjaga moderasi, perekat pluralisme, serta penopang peradaban Islam yang ramah dan inklusif semakin menegaskan pentingnya figur pemimpin yang visioner, berintegritas, dan berakar kuat pada tradisi keulamaan. “Atas dasar itu, JKSN DIY menyampaikan dukungan penuh kepada Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA sebagai calon Rais Aam PBNU,” tambahnya.
Ada pun pertimbangan keumatan, KH Nur Kholik Ridlwan menyebut ‘Rekam Jejak Historis dan Keterikatan Ke-NU-an’ Prof Dr KH Asep yang lengkap. Beliau putra almaghfurlah KH Abdul Chalim Leuwimunding, salah satu ulama pendiri NU yang berperan strategis bersama tokoh-tokoh awal NU dalam menjaga dan mengembangkan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah,” terangnya.
Di samping itu, ia memiliki model Kepemimpinan yang Visioner dalam Pendidikan Islam. “Beliau pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, dikenal memiliki visi pendidikan masa depan yang kuat: menghasilkan santri yang unggul, berakhlak mulia, berwawasan global, serta mampu berkontribusi dalam berbagai ranah kehidupan umat dan bangsa. Visi ini bukan sekadar slogan, tetapi direalisasikan dalam kurikulum dan program strategis lembaga yang berorientasi pada kualitas lulusan,” tambahnya.
Bicara tentang kontribusi dalam Pengembangan Organisasi Guru NU, KH Asep dinilai berada di garda terdepan. “Beliau Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU), organisasi guru yang berperan penting dalam penguatan kualitas pendidikan di lingkungan pesantren dan sekolah-sekolah NU,” urainya.
Begitu juga soal pengakuan nasional, KH Asep dinilai paling bisa diterima berbagai pihak. Ia juga telah memperoleh banyak penghargaan bergengsi, termasuk Bintang Mahaputera Nararya — sebagai bentuk apresiasi negara atas kontribusinya dalam pendidikan dan kesejahteraan umat — serta penghargaan sebagai Tokoh Peduli Anak Bidang Pendidikan dan Kesehatan oleh KPAI, menunjukkan bahwa keberpihakan beliau tidak hanya pada dunia pesantren semata, tetapi pada kemajuan bangsa secara umum.
“Melalui kepemimpinan yang mengintegrasikan nilai tradisi pesantren dengan pendekatan yang moderat dan inklusif, KH Asep telah menunjukkan leadership style yang mampu menjalin hubungan yang sehat antara berbagai elemen NU, membangun komunikasi yang kuat, serta memotivasi civitas pesantren dan organisasi NU untuk terus bergerak maju,” pungkas aktivis NU DIY ini. (net)






































