PEKALONGAN | duta.co – Mendekati Muktamar ke-34 NU (2020) semangat tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) mengawal tegaknya khitthah 1926 NU semakin menguat. Ratusan kiai dari berbagai daerah, Rabu (17/7/2019), dengan tekun mengikuti jalannya halaqah ke-9 yang digelar Komite Khitthah 1926 NU (KK-26 NU) di Gedung Pertemuan Batik Pekajangan, Kedungwuni, Pekalongan, Jateng.

Seperti biasanya, peserta halaqah bisa menyimak taushiyah KH Tholchah Hasan sesepuh NU yang disampaikan pada Halaqah ke-5 di PP Al-Taqwa, Cabean, Pasuruan, Sabtu 16 Februari 2019. Almaghfurlah KH Tholchah mengaku sangat senang diberi kesempatan untuk menjelaskan proses lahirnya keputusan kembali Khitthah 26 NU melalui Muktamar 27 di Situbondo, Jawa Timur.

Pakem khitthah yang disampaikan Kiai Tholchah, kini, menjadi populer di kalangan kiai. Menurutnya, “NU ini (oleh pendiri red.) sudah diberi pakem, yaitu melayani umat, bukan menguasai umat,” demikian disampaikan KH Tholchah yang juga dikenal sebagai pendiri Universitas Islam Malang (UNISMA) di depan peserta halaqah ke-5.

Tidak sedikit peserta yang tertarik dengan pakem tersebut. “Ini bahasa yang mudah dipahami. Harus disampaikan ke umat. Bahwa NU itu melayani, bukan menguasai. Nah, sekarang ini pengurus NU menguasai umat. Warga NU dijadikan komoditi politik, kapitalisasi politik. Ini berbahaya,” tegas H Agus Solachul A’am Wahib alias Gus A’Am, cucu pendiri NU KH Wahab Chasbullah ini.

Selain video Kiai Tholchah, peserta juga menyaksikan taushiyah almaghfurlah KH Hasyim Muzadi. Peserta tampak menikmati penjelasan Kiai Hasyim yang tegas, lugas tentang bahaya politisasi NU. Menurut Kiai Hasyim, politik itu bukan manhaj NU. Kalau NU sibuk politik, maka, NU tidak sempat bahtsul masail.

“Karena pengurus NU-nya sudah menjadi bagian dari masail itu tersendiri,” jelasnya disambut geer peserta halaqah.

Masih menurut Kiai Hasyim, sekarang ini kiai-kiai NU dipimpin anak-anak (politisi). Sementara dalam politik, tegasnya, tidak ada perjuangan, yang ada perdagangan. “Sekarang ini ulama-ualama dipimpin anak-anak, dikumpulkan dipidatoni, dikumpulkan dipidatoni. Akhirnya tidak menjadi nahdlatul ulama, tetapi nahdlatul kanak-kanak,” katanya.

Jadi? Pungkas Kiai Hasyim: “Terakhir, saya sampaikan kembalilah ke khitthah. Soal partai, dipikir lima tahun sekali,” tegasnya.

Hadir dalam halaqah ke-9 adalah KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), KH Suyuthi Toha, Prof Dr Nasihin Hasan, Prof Dr Ahmad Zahro, Prof Dr Rahmat Wahab, Prof Dr H Juhaya, S Praja MA (PP Al-Qutub, Cipadung, Ciberu, Bandung), KH Abdullah Muchith, KH Ghozi, ratusan ulama Jawa Tengah, puluhan kiai AUTADA (Aliansi Ulama Tapal Kuda), para kiai Jawa Barat dan Jakarta. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry