
SURABAYA | duta.co — Kehadiran teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan kini menjadi solusi nyata untuk mengatasi beban kerja pendidik.
Menyikapi hal tersebut, sebuah program pelatihan pemanfaatan AI untuk guru sukses digelar dengan menghadirkan Franklin Styne sebagai pembicara utama, seorang pakar AI dari Malaysia.
Pelatihan ini berfokus pada bagaimana AI dapat memangkas waktu kerja administrasi yang selama ini banyak menyita waktu para guru.
Dalam paparannya, Franklin menyoroti fakta bahwa 38 persen waktu guru habis hanya untuk mengurus administrasi rutin harian.
“Apa yang paling membutuhkan banyak waktu guru? Menyusun rencana pembelajaran (lesson plan) dan membuat soal ujian. Biasanya, menyiapkan soal ujian saja bisa memakan waktu hingga satu minggu. Dengan AI, pekerjaan ini menjadi sangat cepat, hebat, dan efisien,” jelas Franklin di hadapan para peserta pelatihan.
Untuk menguasai teknologi ini, Franklin memperkenalkan tiga langkah utama: Basic (memahami cara kerja dan interaksi dengan AI), Utilize Tools (memanfaatkan alat AI yang mudah digunakan), dan Boost (meningkatkan produktivitas kerja).
Menepis Kekhawatiran Guru Terhadap AI
Di tengah kemajuan pesat AI, banyak tenaga pendidik yang khawatir peran mereka akan tergantikan oleh mesin. Menanggapi hal ini, Franklin memberikan pandangan yang tajam dan realistis.
“Ada kabar baik dan buruk. Kabar baiknya, peran guru tidak akan pernah digantikan oleh AI. Namun kabar buruknya, Anda akan digantikan oleh guru lain yang sudah mahir menggunakan AI,” tegasnya.
Menurut Franklin, pemanfaatan AI dalam pendidikan mencakup dua aspek utama: mempermudah tugas pendidik dan membantu siswa belajar.
Lebih lanjut, Franklin menjelaskan perbedaan mendasar antara AI dan perangkat lunak konvensional seperti Excel. Jika Excel bekerja berdasarkan aturan baku yang diprogram, AI bertindak layaknya “mesin ramalan” yang terus dilatih menggunakan data. AI menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan (Artificial Neural Network) yang meniru cara kerja neuron manusia.

“Misalnya ketika kita memasukkan gambar kambing, AI akan mengidentifikasi bentuk badan, kepala, hingga kakinya, lalu menyimpulkan output bahwa itu adalah kambing,” tambahnya.
Proyek Percontohan dan Pelatihan Gratis Berkelanjutan
Pelatihan yang dikemas dengan cara sederhana dan mudah dipelajari (very easy to learn) ini mendapat antusiasme tinggi. Sugiati Ningsih, salah satu guru TK yang menjadi peserta, merasakan langsung manfaat dari pemaparan materi tersebut mengenai cara memberikan instruksi (prompt) yang tepat kepada AI.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja sama pilot project yang bertujuan memberikan pelatihan AI secara gratis dan berkelanjutan bagi tenaga pendidik. Wilayah Wonorejo tercatat sudah mulai menerapkan inisiatif teknologi ini.
Ke depannya, program pelatihan ini menargetkan pengembangan yang lebih luas, termasuk penerapan sistem bilingual (dua bahasa) untuk semakin menunjang kualitas pendidikan di era digital.
Dengan langkah ini, diharapkan para guru dapat mengalihkan fokus mereka dari sekadar menyelesaikan urusan administrasi, menjadi lebih fokus pada interaksi dan pengembangan karakter siswa. lis




































