Pak Jokowi saat menerima hadiah peci yang biasa dipakai Gus Dur dari Bu Nyai Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid (FT/nu.or.id)

“Jangan takut jatuh, kehilangan jabatan. KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) sudah memberi contoh, apalah arti sebuah jabatan, kalau rakyat harus jatuh bergelimpangan.”

Oleh: Mukhlas Syarkun

MELALUI keterangan pers, Ketua Satgas Penanganan Corona (Covid-19), Doni Monardo, mengatakan, bahwa Pak Jokowi anti-lockdown (dalam mengatasi wabah corona). Pun pendukungnya setuju, meskipun banyak yang tidak setuju, tapi diam.

Yang setuju dengan kebijakan Pak Jokowi, anti lockdown, alasannya karena lockdown bisa mengacaukan ekonomi, ujungnya malah jatuh Presiden Jokowi, demikian para buzzer yang maha kebal hukum, itu berdalil.

Padahal, corana yang dahsyat di Wuhan, solusinya lockdown. Malaysia juga melakukan lockdown, meskipun tidak seketat Wuhan (sudah mulai membaik). IDI (Ikatan Dokter Indonesia) juga sudah minta agar lockdown. Pak JK (Jusuf Kalla) Ketua PMI sudah mengusulkan perlunya dipikirkan, lockdown.

Konon, alasan menolak lockdown karena ekonomi dan UU karantina yang menyebabkan pemerintah menanggung logistic keperluan rakyat yang dikarantina. Kenapa takut memberikan kompensasi ke rakyat demi sebuah missi keselamatan rakyat? Bukankah menjadi tanggungjawab pemerintah!!!

Bayangkan, kemarin BI (Bank Indonesia) melakukan intervensi dolar sampai Rp300 triliun, kok bisa?  Sidang kabinet mengumumkan mau pindah ibu kota dan sudah ada dana Rp100 triliun lebih duitnya. Bahkan kalau masih kurang, mau jual asset, kok serius sekali? Sampai mau jual aset negara demi ibu kota?

Tetapi giliran untuk keselamatan rakyat dengan cara lockdown, tak berani. Rame rame bilang gak setuju, alasannya bisa kacaukan ekonomi dan tidak mampu memberi kompensasi logistik ke rakyat. Ini sangat aneh!

Oleh karena itu, dengan kerendahan hati, kami memohon para pendukung Pak Jokowi agar suarakan pentingnya lockdown dan mendesak agar uang (untuk pindah ibu kota baru Rp100 triliun) digunakan untuk lockdown, insyaallah cukup.

Kalau tak mau mendesak, berarti ‘Pendukung Jokowi’ lebih senang punya ibu kota baru, ketimbang selamatkan nyawa saudaranya. Apa iya begitu???

Pendukung Jokowi tidak setuju lockdown, karena takut  Pak Jokowi jatuh. Kalau ini alasannya, sama artinya rela korban berjatuhan terus bertambah. Padahal, kata Gus Dur: Tidak ada jabatan apa pun di dunia ini yang harus dipertahankan mati matian. Tidak ada Pak Jokowi.

Jangan sampai Rakyat Berjatuhan

Saatnya Pak Jokowi meniru Gus Dur. Jangan takut jatuh. Jangan susah kehilangan jabatan. KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) sudah memberi contoh. Apalah arti sebuah jabatan, kalau rakyat harus jatuh bergelimpangan.

Pendukung Pak Jokowi, mari kita menjadi humanis. Hilangkan ego (pribadi) demi keselamatan bersama. Ayo gaungkan lagi, selamatkan NKRI, bersatu bersama hadapi Corona. Ayo gaungkan “Kami tidak perlu ibu kota baru, kami perlu selamatkan nyawa anak bangsa yang terancam oleh corona”. Bekunakah begitu? Alhamdulillah jika demikian .

Jakarta

24/23/2020

Mukhlas Syarkun

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry