… jika dibandingkan hinaan dan celaan yang diterima  Gus Dur, kasus Pak Jokowi  belum seberapa. Selain difitnah Gus Dur juga ‘dijatuhkan’, dan ketika itu tidak ada satu pun  orang yang memfitnah ditangkap justru banyak yang naik pangkat.”

Oleh : Mukhlas Syarkun*

SEBAGAI orang manusia biasa, adalah wajar jika Pak Jokowi marah dan akan melawan mereka yang tukang fitnah. Sebab hinaan dan apalagi fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, begitulah firman Tuhan.

Tetapi, sebagai Presiden RI, kemarahan dan ancaman untuk membalas dan  melawan, sesungguhnya tidak patut dijalankan oleh Pak Jokowi sebagai seorang pemimpin, sebab dalam falsafah jawa pemimpin harus bisa seperti lautan, dapat menerima apa saja termasuk ‘sampah dan comberan’.

Begitu juga dalam doktrin berbagai agama, menempatkan pemimpin sebagai ‘wakil tuhan’. Dalam agama hindu menempatkan pemimpin sebagai kesatria dan rakyat kasta sudra. Jika pemimpin hilang sifat kepemimpinanya, maka akan berubah menjadi sudra.

Oleh karena itu, rencana Pak Jokowi ingin melawan atau membalas, merupakan pernyataan yang dapat menurunkan derajat sebagai pemimpin. Dan, tentu, secara langsung rakyat melihat dia sudah berubah sebagai rakyat biasa. Tidak lagi sebagai pemimpin ( kesatria). Sungguh ini kerugiaan dan kecelakaan.

Belum Seberapa

Pak Jokowi harusnya belajar dari Gus Dur, Dan, jika dibandingkan hinaan dan celaan yang diterima  Gus Dur, kasus Pak Jokowi  belum seberapa. Selain difitnah Gus Dur juga ‘dijatuhkan’, dan ketika itu tidak ada satu pun  orang yang memfitnah ditangkap justru banyak yang naik pangkat.

Bahkan ketika ada rakyat yang akan membelanya dan membalas perbuatan tukang fitnah itu,  Gus Dur justru bilang: Tidak ada jabatan di dunia ini yang harus dipertahankan mati-matian.

Luar biasa. Ohh,.. sungguh ini sebuah kemuliaan yang harus jadi teladan,  maka wajar kal;au kemudian makamnya diziarahi ribuan orang setiap hari.

Sementara jaman Pak Jokowi para pemfitnah sudah banyak yang ditangkap dan dipenjarakan dan kini malah akan dilawan dengan luapan emosi kamarahan.

Sekali lagi sebagai manusia biasa, maka bisa dimaklumi luapan emosi itu, tetapi sebagai pemimpin dan jika ingin tetap dipandang rakyat sebagai  ‘pemimpin’, solusinya Pak Jokowi bisa merevisi ucapannya. Jika tidak, maka akan dapat menurunkan elektabilitas dan akan terbangun opini di kalangan rakyat untuk mengembalikan Pak Jokowi pada posisi awalnya, rakyat biasa, karena dianggap sudah kehilangan wisdom (kearifan) dan jati diri sebagai kepemimpinan.

Itu artinya, jika 17 April 2019 nanti Pak Jokowi kalah di Pilpres, maka, kekalahan itu bukan semata-mata oleh pasangan Prabowo-Sa ndi, tetapi kalah oleh ucapannya sendiri. Bukankah demikian? Waallahu’alam. Selangor 24, Maret 2019. (*)

Mukhlas Syarkun, Pengurus Pribumi Bersatu

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.