Pagelaran wayang kulit "nguri-nguri budaya" di lapangan Desa Rangkah Kidul, Sabtu malam (29/9/25). (FT/LOETFI)

SIDOARJO | duta.co – Pagelaran Wayang Gagrak Porongan kembali digelar di Desa Rangkah Kidul, Kecamatan Sidoarjo, Sabtu malam (20/9/25). Pertunjukan ini menghadirkan Dalang Ki Didik Iswandi dari Candi Pari, Kecamatan Porong, dengan lakon Lahirnya Anjilo Kencono.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Dr. Ng. Tirto Adi, M.Pd., mewakili Bupati Sidoarjo, menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Bupati dan Wakil Bupati karena agenda yang padat.

“Pagelaran Wayang Gagrak Porongan di Sidoarjo ini adalah kegiatan pelestarian budaya khas Sidoarjo untuk memperkenalkan kesenian kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Ini merupakan pagelaran ketujuh dari dua belas kali dalam setahun,” ujarnya.

“Terima kasih Pak Kades, luar biasa antusias masyarakat Rangkah Kidul. Ini bagian dari ikhtiar kita untuk nguri-nguri budaya asli milik kita, agar masyarakat tetap melestarikan nilai budaya lokal,” tegas Tirto.

Saat ditemui, Dalang Ki Didik Iswandi mengatakan bahwa cerita ini menyimbolkan keimanan yang diturunkan dari dewa ke bumi untuk mengimbangi angkara murka, khususnya Rahwana Raja.

“Karena apa? Tandingannya Rahwana Raja itu satu, yaitu Anjilo Kencono atau Hanoman dan Ramawijaya. Kalau tidak ada tandingannya, dunia ini berbahaya karena tidak ada yang meredam angkara murka,” jelasnya.

Ia menambahkan, simbol Hanoman mengajarkan manusia untuk menekuni iman dalam memerangi sifat angkara murka yang ada dalam diri.

“Untuk itu, saran saya mari kita menekuni iman, itu simbol dari Hanoman memerangi jati diri angkara murka di dalam jiwa kita,” pungkas Ki Didik

Kepala Desa Rangkah Kidul, H. Warlheiyono, kepada duta.co juga menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Sidoarjo.

“Atas terselenggaranya pagelaran wayang ini, kami berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, Bapak Bupati dan Wakil Bupati, khususnya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Kegiatan ini bertujuan mengenalkan kembali seni budaya lokal (nguri-nguri budaya) kepada masyarakat agar terus dilestarikan dan menjadi jati diri bangsa melalui filosofi yang terkandung dalam wayang,” ujarnya.

“Harapannya, semakin tumbuh rasa cinta dan apresiasi warga Desa Rangkah Kidul terhadap kearifan lokal dan budaya Jawa,” pungkas Warlheiyono.

Senada, Sekretaris Desa Rangkah Kidul, Drs. H. Santriyo, menegaskan dukungan Pemdes terhadap program pelestarian budaya.

“Pemdes mendukung program Pemkab Sidoarjo dalam melestarikan budaya lokal wayang kulit gagrak porongan yang hampir punah terkikis oleh kemajuan zaman. Harapannya, generasi muda lebih menyukai budaya bangsanya sendiri daripada budaya asing yang belum tentu sesuai dengan nilai luhur bangsa Indonesia sesuai dengan dasar Pancasila,” ujarnya.

Sementara itu, Udin (52), salah satu pedagang, turut merasakan manfaat dari pagelaran ini.

“Alhamdulillah, dengan adanya pagelaran wayang kulit ini saya bisa berjualan sehingga dapat menyambung kebutuhan hidup. Hari ini banyak sekali warga Rangkah Kidul yang menonton,” ucapnya.

Ia berharap pemerintah terus konsisten melestarikan budaya bangsa agar tidak diklaim oleh negara lain. (loe)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry