“Digitalisasi silsilah dan dakwah juga penting untuk dilakukan sebagai jawaban terhadap tentangan kemajuan zaman.”
Oleh : Firman Syah Ali

JARINGAN Dzurriyah Bhuju’ (Katoronan Bhuju’) di Madura bukan sekedar entitas terminologis, melainkan struktur modal sosial yang sangat kuat. Penulis menganalisis bagaimana jejaring nasab bhuju’ bertransformasi dari penjaga gawang tradisi menjadi aktor perubahan sosial (agent of social changes). Penulis hendak mengajak kita untuk membedah bagaimana prospek jaringan dzurriyah bhuju’ dalam menavigasi modernitas dan disrupsi.

Di Madura, leluhur keramat atau ulama pembabat alas (pembuka wilayah) yang semuanya merupakan keturunan Walisongo adalah episentrum identitas kolektif. Keturunan mereka yang sering disebut sebagai lajur atau dzurriyah kepemimpinan ulama maupun kepemimpinan umara memiliki social capital yang terdiri dari social trust, social networks, dan norms guard.

Masyarakat madura sangat patuh bahkan mengkultuskan para dzurriyah Bhuju’. Sebuah kepatuhan tanpa syarat mirip suasana zaman feodal di mana rakyat sudah siap sehidup semati dengan para aristokrat. Inilah yang disebut social trust sebagai modal besar mobilisasi sosial.

Dzurriyah bhuju’ terkoneksi satu sama lain melalui endogami (pernikahan antar kerabat dekat) yang sangat ekslusif dan kohesif sehingga menjadi benteng moral dan benteng identitas yang sangat kuat dan sulit ditembus oleh orang luar. Ini disebut modal social networks yang sulit dicari tandingannya.

Jejaring dzurriyah bhuju’ juga menjadi benteng penjaga norma, tradisi, nilai keislaman dan etika yang sangat otoritatif di tengah-tengah masyarakat. Inilah yang disebut modal norms guard.

Outlook kepemimpinan jaringan dzurriyah ini tidak hanya terbatas pada ranah ritual, melainkan merambah juga ke sektor-sektor strategis. Jaringan dzurriyah bhuju’ kini mulai mengintegrasikan kurikulum pendidikan salaf pesantren dengan pendidikan formal dan vokasi. Modernisasi ini bertujuan untuk melahirkan santri yang tidak hanya mahir membaca kitab kuning, tapi juga kompeten dalam memimpin kemajuan zaman.

Potensi zakat, infaq dan shodaqoh yang dikelola oleh jaringan dzurriyah bhuju’ mulai diarahkan pada pemberdayaan ekonomi umat. Pendirian koperasi, pusat perbelanjaan, SPBU dan jaringan bisnis berbasis pesantren menjadi bukti nyata perubahan dari pola konsumtif ke produktif.

Untuk memetakan masa depan kepemimpinan dzurriyah bhuju’ kita bisa menggunakan peta analisis SWOT. Dalam aspek kapasitas politik, jaringan dzurriyah Bhuju’ mempunyai potensi memobilisasi massa secara masif untuk kebijakan publik. Namun dapat pula terjebak dalam risiko pragmatisme yang dapat menggerus marwah dzurriyah.

Digitalisasi silsilah dan dakwah juga penting untuk dilakukan sebagai jawaban terhadap tentangan kemajuan zaman. Digitalisasi yang diarahkan untuk menjangkau generasi Z ini tentu dapat menjawab dengan tangkas arus disrupsi informasi yang selalu mempertanyakan otoritas tradisional.

Isu yang sangat krusial saat ini adalah keselamatan ekologi. Pesantren sebagai pusat jaringan dzurriyah bhuju’ dapat memimpin pelestarian alam berbasis kearifan lokal (pesantren go green). Dzurriyah bhuju’ dapat selalu mengawasi jalannya pembangunan dan industrialisasi agar tetap berada di dalam rel keselamatan keberlangsungan lingkungan hidup demi generasi penerus.

Ke depan, jaringan dzurriyah bhuju’ diprediksi akan bergerak menuju kepemimpinan transformatif. Jaringan ini tidak lagi bersikap defensif bahkan resisten terhadap kemajuan, melainkan menjadi katalisator, dinamisator dan mobilisator dengan skenario sosial (agenda setting) berupa intelektualisasi trah, kedaulatan digital dan diplomasi kebudayaan.

Kuantitas dan kualitas dzurriyah bhuju’ yang menuntut ilmu ke negara-negara maju harus ditingkatkan, agar mereka pulang dengan segudang metodologi baru untuk memimpin kemajuan bangsanya. Contoh dzurriyah bhuju’ yang menempuh pendidikan di negara-negara maju adalah anak-anak Prof Mahfud MD, Ikhwan Zen di Belanda dan Royhan Akbar di Amerika Serikat.

Kuantitas dan kualitas dzurriyah bhuju’ yang menguasai kemajuan digital juga harus ditingkatkan karena masyarakat masa depan adalah masyarakat digital yang serba cepat dan serba tepat.

Kuantitas dan kualitas dzurriyah bhuju’ dalam kepemimpinan gerakan islam washatiyah, islam yang moderat dan toleran juga harus semakin ditingkatkan agar masyarakat madura dapat diselamatkan dari perkembangbiakan teologi dan idelologi radikal fundamentalis.

Outlook jaringan dzurriyah bhuju’ di madura menunjukkan tren positif yang adaptif. Kekuatan genealogis yang dipadukan dengan kapasitas intelektual modern akan menjadikan jaringan ini sebagai kekuatan stabilitator sekaligus akselerator perubahan sosial yang signifikan sehingga dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Madura secara signifikan. Kalau IPM di Madura sudah meningkat signifikan, maka pintu gerbang Madura Emas Abad 21 sudah di depan mata.

*)Penulis adalah dzurriyah Bhuju’ Rabah Pamekasan*) Penulis adalah dzurriyah Bhuju’ Abdul Qidam Arsojih, Bhuju’ Azhar Bagandan dan Bhuju’ Agung Toronan Pamekasan.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry