Ima Nadatien – Dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK)

DI Masa Pandemi Covid-19, dunia kesehatan harus terus waspada dan mengupayakan penguatan tenaga kesehatan terutama perawat dan pegiat maupun volunteer sebagai upaya pencegahan penularan serta meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat untuk hidup sehat.

Sumber daya manusia perawat, keberadaannya sangat diperlukan ditengah masyarakat dengan menguatkan motivasi serta meningkatkan komitmen sebagai garda terdepan untuk memberikan pelayanan yang diperlukan. Oleh karenanya, komitmen untuk terus mengabdi memberikan pelayana kesehatan menjadi sumber tumbuh dan terbentuknya rasa bangga mempunyai profesi perawat.

Profesi perawat dituntut untuk lebih mengoptimalkan kekuatan teamwork yang diperlukan dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Salah satu dasar meningkatkan mutu pelayanan keperawatan adalah perawat harus memiliki rasa bangga sebagai perawat profesional dengan kompetensi yang dapat menjawab tantangan internal dan ekternal.

Di sini saya, akan mengulas kembali tentang rasa bangga yang dimiliki oleh perawat. Ulasan saya dalam artikel kali ini, merupakan kajian pentingnya rasa bangga sebagai perawat dalam keseharian tugas rutin mengabdi di rumah sakit merupakan modal utama sebagai penumbuk dan pemupuk perilaku ektra role (OCB).

Perawat sebagai pemberi jasa keperawatan merupakan ujung tombak pelayanan di rumah sakit, dikarenakan kita semua mengetahui bahwa perawat berada selama 24 jam memberikan asuhan keperawatan. Tanggung jawab yang demikian berat menuntut perawat mempunyai bekal kompetensi dan mental tangguh. Keberhasilan teamwork perawat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, mampu menumbuhkan rasa bangga sehingga memotivasi dan mendorong perawat untuk berperan serta menampilkan kinerja kompeten professional memberikan pelayanan keperawatan

Perawat yang selalu memupuk kebanggaan dalam dirinya berdampak positif dalam menumbuhkan semangat dan motivasi untuk terlibat sebagai teamwork handal dalam memberikan pelayanan keperawatan berkualitas tinggi.

Bangga sebagai perawat dapat membuat dirinya merasa lebih baik mempunyai profesi sebagai perawat dan sebagai diri perawat sendiri sehingga dapat mendorong self efficacy untuk memberikan kinerja terbaik. Kinerja perawat dalam teamwork dipengaruhi oleh motivasi dan komitmen diri sendiri, yang dilandasi rasa kebanggaan yang dimiliki.

Pada pembahasan kali ini, saya menyoroti tentang perilaku ekstra role. Seorang Perawat yang berperilaku ektra role tercermin dalam perilaku keseharian perawat sebagai teamwork, dimana perilaku ini melampaui deskripsi tugas dan tidak meletakkan klaim atas imbalan jasa kontektual berdasarkan sistem reward formal rumah sakit. Tipe perilaku perawat seperti ini dinamakan sebagai perilaku keanggotaan organsisasi atau lebih dikenal dengan OCB (Organizational Citizenship Behavior).

OCB dapat mengobati penyakit utama birokrasi, yaitu kelambanan dan inefisiensi. Tidak hanya itu, OCB juga mampu menciptakan suatu lingkungan kerja yang kondusif untuk kerjasama. Pada pembahasan saya ini, berdasarkan pada 5 (lima) dimensi OCB diantaranya yaitu sayadimensi Altruism, Courtesy, Sportmanship, Conscientiousness dan civic virtue, yang merupakan kehandalan penerapan OCB guna perbaikan bahkan peningkatan kinerja individu perawat yang ujung-ujungnya mendongkrak peningkatan kinerja organisasi.

Mengacu dari yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa Rasa bangga ini, merupakan sisi positif dalam diri seseorang sangat berperan memotivasi bahkan membentuk seseorang berprinsip dalam berperilaku melakukan aktifitas sehari hari kala elakukan aktifitas pekerjaan.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Pandangan saya, bahwa perasaan senang, nyaman, tenang sebagai perawat akan memunculkan situasi saling menghargai dengan toleransi tinggi sehingga amat mudah terbentuk rasa memiliki organisasi sebagai perwujudan rasa bangga terhadap organisiasinya, yang telah memberikan manfaat positif pada dirinya yang berprofesi perawat.

Perawat yang memiliki rasa bangga tinggi menciptakan kondisi dimana perawat akan secara sukarela membela, sepenuh hati bahkan mati-matian mempertahankan organisasinya saat ada yang berusaha merongrong atau menjelek-jelekkan. Kenyataan seperti ini, membangun integritas dan rasa memiliki organisasi sebagai modal penting untuk meningkatkan komitmen serta produktifitas invidu maupun organisasi.

Perilaku ektra role yang dimiliki oleh perawat, merupakan potensi luar biasa untuk membangun kebersamaan dan peduli sebagai anggota organisasi. Perawat akan merasa terpanggil untuk mengerjakan pekerjaan tambahan diluar tugas pokoknya, artinya perawat mampu memberikan toleransi terhadap kondisi kekurangan atau keterbatasan teman sejawat.

Mereka dengan sukarela tanpa imbalan akan membantu sejawat yang mengalami keulitan dalam bekerja atau membutuhkan bantuan. Tukar dinas jaga, atau menggatikan tugas dinas untuk sejawat yang kena musibah, atau sedang berhalangan dinas, seringkali kita temui diantara perawat dalam berinteraksi dan membantu saling melengkapi sesama sejawat. Inilah, yang dinamakan perilaku ektra role yang dimiliki perawat yang sangat dipengaruhi oleh rasa bangga dan cinta pada organisasinya.

Rasa senang dan bangga membuat seseorang lebih berkomitmen melakukan pekerjaan dan merasa lebih nyaman dengan pekerjaan. Bahkan seseorang akan rela berkorban dan bersusah payah membela kelangsungan hidup dan kebesaran organisasi. Dengan demikian menghasilkan kinerja lebih baik.

Organizational Prideness para perawat yang merasakan rumah sakit memberikan nilai positif dan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi dirinya, sehingga apapun yang bersentuhan dengan rumah sakit sebagai organisasi, akan membuat perawat dengan berbagai cara akan berusaha sekuat tenaga membela. Bahkan, ketika ada yang melecehakan dan menyerang rumah sakitnya, akan mati-matian untuk mempertahankan rumah sakitnya.

Para perawat selanjutnya dapat menjadikan rasa bangga dan senangnya sebagai motivator dan pendorong semangat yang berkontribusi dalam ikhtiar mencapai kinerja sebagai perawat profesionl. Pada akhirnya, Organizational Prideness yang dibuat dengan tindakan diyakini dilakukan sendiri dapat berkontribusi bagi perkembangan dan keberhasilan rumah sakit sebagai organisasi yang menaunginya untuk meningkatkan kualitas hidupnya kelak..

Dengan demikian, saya sampaikan bahwa Organizational Prideness dan Perilaku Ektra Role (OCB) bagi para perawat merupakan suatu keniscayaan. Ketika rassa bangga dan perilaku ektra role memang sudah dimiliki dan dipupuk terus dalam interaksi keseharian saat bertugas, mampu mengatur pola komunikasi dan hubungan teamwork saat menjalankan tugas dan peran sebagai perawat professional kompeten.

Hubungan antar perawat dengan sejawat maupun seluruh pegawai di rumah sakit akan terjalin harmonis, terjaga baik dan selalu berorientasi pada kebersamaan, kesepahaman, saling menghormati dan menghargai dengan menjunjung tinggi toleransi dalam keberagaman adalah perwujudan dari implementasi

Organizational Prideness dan Perilaku Ektra Role (OCB). Kondisi yang kondusif ini merupakan suasana bekerja yang sangat nyaman dan damai yang mampu memicu semangat mewujudkan tujuan dari organisasi dan tujuan perawat mencapai kinerja yang baik-baiknya.

Para perawat berpotensi tinggi menghasilkan performance dan produktifitas tinggi yang berkontribusi untuk kemajuan dan kejayaan Organisasi karena perawat mampu melaksanakan tugas dan perannya dalam memberikan asuhan dan pelayanan keperawatan secara optimal. Para perawat mampu menunjukkan kemampuannya untuk mengatur, mengontrol dan mengendalikan perilaku dirinya, sehingga meningkatkan produktivitas dan mampu memberikan kinerja terbaiknya. sesuai yang diharapkan oleh organisasinya, pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kinerja organisasi atau rumah sakit dimana perawat bekerja. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry