
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan salah satu instrumen penting dalam pembangunan ekonomi desa di Indonesia. BUMDes dibentuk dengan tujuan utama untuk mengelola potensi ekonomi desa secara optimal, meningkatkan pendapatan asli desa (PADes), serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.
Namun, dalam praktiknya, banyak BUMDes yang belum mampu mengoptimalkan potensi bisnis yang dimiliki dan masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan keuangan dan akuntansi yang terstruktur serta akuntabel.
Pengembangan unit usaha BUMDes di Desa Peterongan ini sejalan dengan klasifikasi jenis usaha BUMDes yang diatur oleh pemerintah, seperti Koperasi, Bank Sampah, dan pelayanan kemudahan pembayaran token listrik. Dengan memanfaatkan potensi lokal secara maksimal, BUMDes mampu memberikan pelayanan publik sekaligus menghasilkan pendapatan desa yang berkelanjutan.
Dengan pengelolaan bisnis yang terstruktur dan pengelolaan keuangan yang transparan, BUMDes di Desa Peterongan berpotensi menjadi contoh sukses dalam pemberdayaan ekonomi desa. Optimalisasi potensi bisnis yang didukung oleh tata kelola keuangan akuntansi yang baik akan memperkuat kemandirian desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Kegiatan yang mengusung tema “Optimalisasi Potensi Bisnis BUMDes dan Pengelolaan Keuangan Akuntansi Secara Terstruktur” ini melibatkan mahasiswa UNUSA prodi S1 Akuntansi FEBTD yaitu Abdul Hady, Putri Diana Anggraeni, Khoirotun Nisak, Yeni Septiani, Kasih Rizka Utami, Talitha Ridha Aryani, Ahmad Daqiqi, Ahlul Sufi Agil Siraj, Sella Suryani, dan Rony.
Program ini dihadiri oleh 50 peserta yang terdiri dari pengurus BUMDes, pelaku UMKM, perangkat desa, serta warga setempat yang antusias mengikuti rangkaian kegiatan.
Selain itu, mahasiswa juga menggelar pelatihan khusus untuk para pelaku UMKM di Desa Peterongan mengenai manajemen keuangan sederhana. Pelatihan ini mencakup cara membuat catatan arus kas, perencanaan anggaran, pencatatan modal, hingga laporan laba rugi untuk usaha kecil. Diharapkan dengan pelatihan ini, UMKM lokal dapat lebih tertib dalam pembukuan serta mampu mengevaluasi usahanya secara berkala.
Pendekatan yang diterapkan bersifat partisipatif dan praktis, dengan simulasi dan diskusi interaktif bersama para peserta. Materi disusun agar mudah diterapkan, terutama oleh pengurus BUMDes dan UMKM yang belum terbiasa dengan sistem pencatatan berbasis akuntansi. Dengan pengelolaan bisnis yang terstruktur dan pengelolaan keuangan yang transparan, BUMDes di Desa Peterongan berpotensi menjadi contoh sukses dalam pemberdayaan ekonomi desa. Optimalisasi potensi bisnis yang didukung oleh tata kelola keuangan akuntansi yang baik akan memperkuat kemandirian desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Pemerintah desa dan masyarakat diharapkan terus berpartisipasi aktif dalam pengembangan BUMDes agar potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal. Ke depan, pengembangan BUMDes di Desa Peterongan juga akan berfokus pada inovasi usaha dan pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi pengelolaan usaha.
Dengan langkah-langkah strategis ini, Desa Peterongan di Mojokerto siap menjadi desa mandiri yang ekonominya tumbuh pesat melalui optimalisasi potensi bisnis BUMDes dan pengelolaan keuangan yang terstruktur dan akuntabel, memberikan dampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat desa. *








































