PEMUDA : Semangat para pemuda dan anak-anak desa Sukolilo saat menyemarakan Agustusan.(duta.co/dok Icroel).

MALANG | duta.co – Bermula dari gagasan ingin membuka wawasan anak kampung, yang kemudian terbentuk Gubuk Baca. Tak disangka selanjutnya berkembang menjadi budaya yang dapat mendongkrak pemikiran, juga kesehatan sampai perekonomian warga. Pihak Astra pun tertarik untuk turut berpartisipasi memberdayakan secara lebih maksimal dengan beberapa program yang disiapkan.

Adalah Fachrul Alamsyah (42 th) – biasa disapa Irul yang memiliki ide awal untuk mencerdaskan anak-anak kampung Sukolilo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang melalui gemar membaca.

“Mulanya saya membuat pustaka keliling kampung, ngemper di dekat tempat anak-anak bermain. Para pemudanya pertamanya cuek, kemudian berempati, hingga kemudian berembuk, gotong royong membangun gubuk untuk membaca,” ungkap pria yang doyan berpetualang ini mengawali cerita.

Tak disangka program pembuatan Gubuk Baca ini seiring waktu berjalan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Tapi jangan disangka semuanya semudah membalikan tangan. Awalnya Irul harus berjuang sendirian, meyakinkan program ini sangat baik untuk kebaikan kedepan. Lantas kemudian memberi pendampingan dari titik nol.

“Alhamdulillah program literasi ini terus bergerak dan berkembang. Disamping minat baca anak-anak dan masyarakat yang ternyata cukup tinggi,” ujar bapak satu anak ini.

14 Gubuk Baca Membuka Cakrawala Warga

GUBUK : Suasana Gubuk Baca dengan berbagai aktivitas anak-anak di dalamya. (duta.co/dok Icroel).

Irul berkeyakinan, melalui gerakan gemar membaca yang diwadahi dalam Gubuk Baca ini merupakan ikhwal pintu gerbang membuka cakrawala wawasan. Membaca bukan hanya buku, tapi ‘membaca’ situasi kondisi juga termasuk membaca. Ia juga merencanakan Gubuk Baca ini sebagai kawah Candradimuka, yang menggembleng para pemuda menjadi leader dan agen perubahan.

Program Gubuk Baca yang digagas pemuda desa lugu, yang mengaku jebolan Fakultas Ekonomi Manajemen Unisma ternyata punya segudang manfaat. Dengan adanya Gubuk Baca anak-anak kampung menjadi berkutat disitu, tanpa harus keloyongan kemana-mana. Para pemuda mengasuh adik-adiknya, menjadikan mereka minim dari hal-hal  negatif.

“Para pemuda mau pacaran, atau mau mabuk-mabukan jadi segan, karena ada anak-anak kecil di dekat mereka. Pemabuk desa pun menjadi berkurang. Disamping itu para pemuda kalau malam kumpul juga disitu, hingga maling mau nyuri enggan,” jelasnya.

Lantaran mulai awal Irul menekankan pembangunan Gubuk Baca harus atas dasar kesadaran bersama, dan harus didasari pula dengan semangat gotong royong warga kampung sekitar, maka rasa memiliki Gubuk Baca ini sangat tinggi.

“Saat ini ada 14 Gubuk Baca dari 16 kampung di wilayah Kecamatan Jabung. Mencapai 400 anak dan pemuda kampung yang rutin bermain dan berkumpul disitu. Di desa Sukolilo ini di tiap kampung dan gang sudah ada Gubuk Baca,” ungkap pria bersahaja ini.

Uniknya Gubuk Baca di tiap kampung memiliki nama sendiri-sendiri sesuai tonjolan ikon masing-masing. Seperti Gubuk Baca Puring, Gubuk Baca Egrang, Gubuk Baca Gang Tato, Gubuk Baca Anak Alam, Gubuk Baca Lepen Sabin, dan lain sebagainya. “Rata-rata yang menamai anak-anak sendiri, saya nggak begitu andil. Jadi anak-anak bangga dengan kampung mereka sendiri,” tambahnya.

KBA Membawa Angin Segar dan Semangat Warga Sukolilo


SEMANGAT : Irul ketika memberikan semangat pada anak-anak di Gubuk Baca Gang Tato. (duta.co/dok Icroel).

Ditanya mengenai kendala dalam pemberdayaan Gubuk Baca ini, Irul menyampaikan bahwa semua arah kebaikan pasti ada aral melintang, dan tantangan programnya adalah gadget yang sudah merambah ke anak-anak desa, hingga minat baca jadi berkurang.

Juga pemerintah desa setempat yang kurang perhatian, dan mengangggap program ini kurang penting bagi mereka. Padahal fasilitas pendukung semua Gubuk Baca sangatlah kurang, terutama dalam jumlah pengadaan buku yang masih jauh dari kata memadai.

Beberapa saat lalu Irul sempat frustasi, lantaran semangatnya yang menggebu-gebu dalam menggairahkan literasi harus terkendala minimnya fasilitas. Namun rasa ‘down’ tersebut cepat terobati karena tim Kampung Berseri Astra (KBA) memilih Sukolilo sebagai kampung binaan satu-satunya di Malang.

Hadirnya Astra di Sukolilo memang membawa angin segar menyenangkan, namun lagi-lagi Irul harus berjibaku untuk meletakan fondasi sosial mengenai semangat kemanfaatan. Bahwa semua kegiatan ada atau tidak ada uangnya para pemuda desa Sukoliloh harus tetap ‘bergerak’.

“Kami berusaha menjaga mental dengan tidak terlalu berharap dengan proposal,” tandasnya.

Bersama Astra mereka pun mengadakan pasar murah dengan menggelontorkan 500 paket sembako. Termasuk dalam peringatan Agustusan yang menggelar berbagai lomba bernuansa Asean Game, seperti memanah, voli, lari 100 Meter.

2019, Target KBA Sukolilo Jadi Wisata Edukasi

SEMARAKKAN : Para Duta KBA se-Jawa yang berkumpul menyemarakan Asean Game beberapa waktu lalu. (duta.co/dok Icroel)

Tak berhenti disitu, setelah dicanangkan September lalu sebagai KBA, desa Sukolilo dengan puluhan ragam Gubuk Baca berupaya mengangkat budaya kearifan lokal, seperti Topeng Panji.

“Proyeksinya, kami ingin menjadikan Sukolilo sebagai tujuan wisata edukasi, dimana 2019 nanti wisatawan penasaran dengan berbagai kegiatan Gubuk Baca disini. Kami harapkan pula, nantinya yang berkunjung  banyak mahasiswanya yang hadir membawa ilmu. Jadi saling transfer pengetahuan,” papar Irul.

Sukolilo juga berencana mengembangkan sentra batik Jabung, yang warganya didorong untuk memproduksi batik khas Malang ini dengan khusus mendatangkan instruktur batik yang difasilitasi oleh Astra. Dengan begitu pilar ekonomi di desa ini akan tegak berdikari. Dalam waktu dekat, 2 Gubuk Baca yang akan dibangun Astra, akan dijadikan Kampus Rakyat.

“Program ini sudah disetujui pemuda pengasuh dan warga, dimana seminggu sekali kami akan mendatangkan dosen untuk memberi kuliah disini, khususnya bagi pemuda Sukolilo yang belum sempat mencicipi bangku kuliah,” tandasnya.

Geliat gerakan Gubuk Baca Sukolilo yang disuport penuh oleh Astra ini ternyata sudah sampai ke telinga media besar yang berkantor pusat di Jakarta. Seperti CNN dan Net TV yang mengekspose melalui program Lentera Indonesia. Bahkan artis dan musisi kondang sekelas Candra Malik, Debu, Sam Skuter menyempatkan berkunjung dan membuat rekaman 8 lagu anak.

“Karena menurut kami merupakan suatu bencana bagi anak Indonesia ketika mereka menyanyi dan hapal di luar kepala lagu Via Vallen. Maka dari itu kami gencar memproduksi lagu anak yang nada dan liriknya sesuai umur mereka, ini akan jadi tamparan bagi produsen lagu anak,” pungkas Irul yang pernah dinobatkan sebagai Duta Baca Nasional. (Dedik Achmad)

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry