Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Harian Duta Masyarakat. Kamis, 5 Agustus 2021, Henoch Kurniawan, salah satu bagian dari perusahaan ini telah mendahului menghadap Sang Kuasa

ENO sapaan akrab Henoch Kurniawan, yang menggawangi pos hukum ini dikenal cukup mumpuni di bidangnya. Selain memiliki jaringan luas, juga cukup detil menangkap isu persoalan hukum.

Tulisan yang runtut dan enak dibaca menjadi ciri khasnya. Sebagai seorang yang memang dididik menjadi seorang jurnalis, membuat Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa – Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA-AWS) mampu menghasilkan tulisan hukum yang berbobot.

Eno sosok jurnalis yang sangat menguasai hukum. Istilah-istilah hukum hingga regulasi hukum terbaru dilalapnya. Dia jurnalis yang mau belajar. Jangan heran kemampuan menguasai ilmu hukumnya tidak kalah dengan mereka yang lulusan hukum.

“Nek cuma nulis tapi gak gelem belajar percuma jadi wartawan”. (Kalau hanya sekedar menulis tapi tidak mau belajar percuma jadi wartawan).

Prinsip yang membuatnya menjadi sosok yang memiliki dedikasi tinggi pada pekerjaan, itulah yang membuat setiap penugasan selalu tuntas. Kecintaanya pada dunia jurnalistik membuatnya ingin terus menghasilkan karya.

Bahkan ketika dalam perjalanan ke rumah sakit sebelum ajal menjemput pun dia masih sempat ingin menulis berita. “Meski sudah tidak bisa bicara banyak dia sempat membisikkan ingin kirim berita. Tolong Mah, aku pingin titip berita ke Mbak Rum,” cerita Indra, istri Eno.

Di luar persoalan perkejaan, bapak tiga putera ini dikenal gampang bergaul dan cepat beradaptasi. Hampir semua karyawan dekat dengan dirinya. Gaya flamboyan dan suka guyon menjadi ciri khasnya. Setiap pertemuan akan menjadi menarik jika dia hadir.

Dia juga terkenal ringan tangan untuk membantu siapapun. Bahkan dengan orang baru. Gayanya yang tidak tegaan membuat banyak orang yang tak canggung untuk meminta tolong kepadanya.

“Sakno jeh”. Kata itu selalu muncul ketika ditanya kenapa harus membantu orang. Bahkan, dia akan mengulurkan tangannya menolong orang yang sebelumnya berseberangan dengannya. Di balik tampangnya yang sangar, ada sosok yang lemah lembut. zal

———————

“Ah….. Hanya Sakit Biasa, Nggak Serius”

SABTU, (5/6/2021) siang, aku dan keluarga bertandang ke Kedung Turi, Sidoarjo, rumah sahabat Henoch Kurniawan (Eno). Selain lama tak berkunjung karena pandemi Covid-19, kabar kondisi Eno yang sakit membuatku sekeluarga ingin menjenguknya.

Sesampainya di rumahnya, aku langsung menuju lantai 2, letak kamar Eno. Di situ aku melihat dia di balkon rumah, sedang menulis berita lewat HP-nya. “Bah (saya biasa panggil dia abah sepulang diaUmroh), katanya sakir, sakit apa?” cecarku dengan penasaran.

Dia hanya senyum, sambil  menyuruh anak bungsunya mengajak anakku untuk mainan. “Loro opo Cal! Aku gak loro,” katanya sambil mengambil sebatang rokok.

Kemudian dia menawari dibuatkan kopi. Lalu bercerita soal rencananya menyiapkan berita kerjasama dengan TNI. “Sik kate nyiapno kerjasama kantor iki lo,” katanya sambil sibuk menjawab chat WA-nya.

Saat itu dia terlihat sibuk telepon beberapa orang, termasuk redaktur halaman Hukum dan Kriminal (Hukum) Duta Masyarakat untuk membahas persoalan ini.

Aku heran karena dia tidak terlihat seperti orangsakit. Meskipun sebelumnya dia sempat periksa ke Rumah Sakit (RS), karena mengeluh kepalanya sering mengalami sakit luar biasa. Aku pikir itu efek dari sakit stroke ringan yang dialaminya setahun lalu.

“Bah gak loro temenan ta?” tanyaku lagi.

“Ojokanggep aku loro, aku iki gak loro!” kilahnya.

Dia tak ingin orang tahu soal sakitnya. Setelah beberapakali dilempar pertanyaan, barulah mengaku sakit tapi tidak serius. Sayangnya aku tidak percaya, karena aku sudah memperoleh infomasi  dari Ketua KOMPAK (Komunitas Media Pengadilan dan Kejaksaan) soal penyakit yang dideritanya.

Saat itu dilakukan pemeriksaan di RS, ditemukan masalah di antara jantung dan paru-parunya, meski dokter tidak spesifik mengatakan penyakitnya, tetapi dimungkinkan ini adalah kanker.

Namun, kenyataan ini tidak membuat Abah Eno menyerah. Bahkan dia tetap tak ingin merepotkan teman-temannya, dia tidak ingin mereka mengkhawatirkan keadaannya. Teman-teman di kantor harian Duta Masyarakat pun tidak ada yang tahu penyakitnya yang parah ini.

“Sakit biasa”. Jawaban itu yang selalu muncul ketika ditanya soal kondisinya. “Gak usah crito aneh (soal kondisinya) nang kantor, jarno ae,” pesannya kepadaku.

Sore harinya, aku dikagetkan dengan fotonya sedang terbaring di kamar RSI Jl A Yani. Dengan infus di tangannya dan dengan senyum khas di wajahnya. “Biasa, pingin nginep ae,” jawabnya ketika aku Tanya kenapa kok sampai harus dirawat di RS.

Eno termasuk orang yang supel dan sering membantu temannya ketika ada masalah dan datang pada dirinya. Sehingga wajar, banyak yang khawatir ketika mendengar kabar Eno sakit. Namun di tengah terpaan penyakitnya yang parah, dia tak ingin orang mengkhawatirkan dirinya. Ia memberikan contoh pada kita untuk tetap semangat dalam kondisi apapun, meskipun aku tahu, ujian yang dialaminya sangat berat.

Dan akhirnya sekitar pukul 15.15 WIB aku mendapat kabar dari grup WA, Henoch Kurniawan mendahului kita semua. Selamat jalan Abah Eno, semoga ujian sakitmu bisa menjadi penghapus dosamu. Semoga Husnul Khotimah. Kami semua mencintaimu sahabat! zal

—————————-

MEREKA BICARA TENTANG ENO :

Wartawan Muda yang Memiliki Daya Dobrak Kuat

ENO, wartawan muda yang memiliki daya dobrak kuat khususnya di bidang hukum. Dia sekarang sudah harus menghadap Sang Pemilik Allah Swt. Eno seperti sudah mempersiapkan semuanya. Setelah beribadah umroh, dia sudah mengubvah seluruh perilakunya yang mungkin dalam dunia wartawan dianggap biasa, termasuk dalam hal bicara. Selamat Jalan Eno, Semoga Allah meridoinya.

Moklammad Kaiyis, Pemred Duta Masyarakat

 

Pribadi Santun dan Supel

MAS Eno pribadi yang baik. Sebagai wartawan dia melaksanakan tugasnya sesuai dengan pedoman kewartawanan. Menulis berita dengan berimbang. Sebagai pribadi dia orang yang baik, santun dan supel. Mudah bergaul dengan semua orang. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah Swt.

Dr. H. Mohamad Dofir, SH.,M.H, Kajati Jawa Timur

 

Menangis Saat Dapat Undian Umroh

ENO orang yang baik dan suka membantu orang. Banyak kenangan bersama dia. Saya masih ingat momen yang mengharukan ketika dia menangis saat mendapat undian umroh, waktu itu acara di Batu. Dia yang kelihatan bandel dengan tatonya, bisa menangis saat mendapat kesempatan umroh ke Baitullah. Saat itu saya yang menyaksikan ikut meneteskan air mata. Semoga kebaikan-kebaikannya menjadi amal ibadahnya. Semoga semua dosanya diampuni.

Rahmat Santoso, Wakil Bupati Blitar

 

Setia dengan Pertemanan

ENO sebagai teman yang sangat loyal dan setia dengan pertemanan. Banyak kenangan bersama almarhum, karena dia adalah teman paling dekat saat menjadi wartawan. Dua kali kita bersama-sama membuat organisasi wartawan yang bertugas di wilayah hukum Pengadilan dan Kejaksaan. Sudah banyak perjalanan dan cerita suka duka yang kita lalui bersama.

Momen mengharukan, saat dia menceritakan jika ingin umroh supaya menjadi salah satu jalan untuk bisa mendekat kepada Tuhan. Dalam percakapan itu dia menunjukkan niat yang sangat serius, bahkan seorang Eno bisa menangis. Dan tak berselang lama, keinginan Eno terkabul.

Alhamdullillah! Berlabuh lah dulu kawanku, saudaraku, partnerku. Kita semuabakal bergantian untuk berlabuh ditujuan yang sama yaitu kematian. Semoga Husnul Khotimah.

Budi Mulyono, Ketua KOMPAK

 

 

Pribadi Luwes dan Humoris

 ORANGNYA aktif meliput berita, muatan beritanya sistematis dan berimbang, pribadinya luwes dan humoris

Fariman, Kasipidum Kejari Surabaya

 

Diskusi Sebelum Menulis Berita

SELAMA empat tahun saya bertugas di Surabaya dan bergaul dengan Mas Eno, orangnya terbuka dan suka banget mengajak bercanda. Sering setiap saya selesai sidang, kita diskusi untuk bahan pemberitaan yang akan ditulisnya. Selamat jalan sahabat, semoga mendapat tempat terbaik Surga di sisi-Nya

Ali Prakoso, Kasi Intel Kejari Mojokerto

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry