“Tidak terasa, 3 tahun Cak Anam wafat, Senin 9 Oktober 2023. Tulisan dan perjuangannya masih melekat pada aktivis muda NU. Skripsinya yang menjadi buku berjudul “Pertumbuhan dan Perkembangan NU” seakan menjadi bacaan wajib bagi kita.”
Oleh A. Effendy Choirie*

SAYA memulai menjadi aktivis muda NU, saat masuk Kota Jakarta pada sekitar tahun 1983,  melalui organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Saat itu, tingkat kepengurusan PMII di Jakarta masih menggunakan Cabang DKI Jakarta, Ketuanya, Abdul Djalil, mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur’an (PTIQ), yang asli Jombang, dan sedang mengadakan Pendidikan Kewartawanan di Kantor PBNU. Jaman-jaman itu, organisasi ‘underbouw’ NU seperti IPNU, PB PMII dan PMII Cabang DKI Jakarta memang berkantor di lantai 2 (Gedung Lama) Kantor PBNU, di Kramat Raya 164 Jakarta.

Sebagai aktivis baru, saya merasa tertarik dengan kegiatan kursus kewartawanan itu. Memang, belum menjadi peserta tetap, tetapi karena acara bersifat terbuka saya hampir selalu ikut ‘nguping’ menjadi mustami-in dan muhibbin, pendengar dan pencinta setia kegiatan itu.

Narasumbernya tidak main-main, hadir dari berbagai media besar dengan nama-nama besar dalam dunia pers dan jurnalistik. Ada Jakob Oetama, Fikri Jufri, Goenaman Mohamad hingga Panda Nababan. Mereka semua tokoh-tokoh wartawan non NU. Ada juga senior-senior PMII yang terjun di dunia media, seperti Selamat Effendy Yusuf, Ichwan Syam, Musthafa Helmi. Yang lebih senior dari itu, ada nama Mahbub Djunaidi dan Said Budairi. Mereka semua berkarir di Jakarta. Tak lupa, ada juga alumni PMII yang menjadi wartawan bergengsi Majalah Tempo, berdomisili di Surabaya. Namanya, Choirul Anam dan Masduki Baidlawi. Ada juga nama Sholihin Hidayat, wartawan Jawa Pos.

Terus terang, saya tertarik dan mengagumi senior-senior PMII yang terjun di dunia media itu. Lebih jauh, saya ingin mengenal mereka dan ber-himmah kuat untuk menjadi seperti mereka. Dalam imajinasi saya, menjadi seorang wartawan pastilah bisa bertemu dengan tokoh tokoh besar, bisa keliling nusantara, dan ujungnya memiliki ilmu dan wawasan luas, sekaligus berdakwah melalui tulisan.

Seiring  perjalanan waktu, sebagai aktivis, tentu saya dengan mudah mengenal senior, dan pesohor dunia media yang ada di Jakarta. Tetapi saya masih penasaran bagaimana cara mengenal Cak Anam, yang tinggalnya di Surabaya. Saya penasaran, selain karena laporannya di Majalah Tempo yang dikenal ‘enak dibaca dan perlu’, juga karena dia punya karya yang keren! Dia menulis skripsi sarjana lengkapnya dengan judul “Pertumbuhan dan Perkembangan NU“. Setelah diterbitkan, buku ini menjadi bacaan wajib bagi para aktivis muda NU.

***

Suatu saat, saya ditugaskan dan ikut meliput Kongres Gerakan Pemuda Ansor di Ujungpandang (Makasar) Sulawesi Selatan, dimana  Selamet Effendy Yusuf terpilih sebagai Ketua Umum untuk periode kedua. Sebelumnya, Mas Selamet terpilih dalam kongres Ansor di Lampung. Di Kongres Ansor Makasar itu Cak Anam sebagai peserta utusan GP Ansor Jatim menjadi bintang forum. Selain tampil berbicara sebagai peserta, juga dapat apresiasi dari ketua umum dan seluruh peserta karena Cak Anam punya karya baru yang tak kalah monumental. Dia menerbitkan buku ‘Gerak Langkah Gerakan Pemuda Ansor’.

Saya makin kagum, makin penasaran untuk bertemu. Bertemu untuk ‘ngangsu kaweruh’. Bagaimana menjadi aktivis, wartawan dan sekaligus mahir menulis buku. Tiga dimensi yang melekat pada diri Cak Anam, menjadi faktor pembeda potret anak muda NU saat itu. Langka dan istimewa! Cak Anam menjadi inspirasi saya.

Saya kian menggebu dan bertekad untuk bertemu dan menemuinya. Dengan tekad itu, berangkatlah saya dari Jakarta ke Surabaya menemui Cak Anam di rumahnya, Kutisari. Saya datang, tidak dengan tangan kosong, tapi membawa naskah tentang PMII. Naskah ini pun dia baca. Kami berdiskusi sampai malam, hingga diminta menginap di rumahnya. Saya minta Cak Anam menerbitkan Naskah itu. Cak Anam menyanggupi. Maka terbitlah buku, ‘Pemikiran PMII dalam Berbagai Visi dan Persepsi’. Sebuah kumpulan tulisan dari berbagai tokoh PMII dan tokoh pemuda.

Buku ini ditulis, di momen  peringatan harlah PMII ke-30, pada 1990. Dalam terbitan awal, sampulnya didominasi warna kuning dan biru, senada dengan warna logo organisasi yang dibentuk pada tanggal 17 April 1960 ini. Pada halaman sampul juga memuat gambar seorang pria yang tengah menenteng buku, pena besar, dan juga perisai besar (logo) PMII.

Setelah buku PMII itu, kami berkolaborasi kembali menerbitkan buku GP Ansor menjelang Kongres Ansor di Palembang. Buku ini, juga dimaksudkan sekaligus sebagai sarana sosialisasi Cak Anam untuk menjadi Calon Ketua Umum Ansor. Namun Akhirnya, Muhammad Iqal Assegaf yang terpilih sebagai ketum Ansor menggantikan Selamet Effendy Yusuf.

Setelah itu, banyak sekali buku yang ditulis Cak Anam. Selain tetap menjadi aktivis dengan memimpin Ansor dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur, Cak Anam terus berkarya, menulis tiada henti!

Semoga semua karyanya itu  menjadi amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir ke alam barzah. Selamat jalan, Cak Anam. Sampean akan terus dikenang sepanjang zaman dan menjadi salah satu tokoh NU inspiratif bagi generasi  mendatang. Amin (*)

*Dr H A. Effendy Choirie adalah Ketua Dewan Nasional Kesejahteraan Sosial (DNIKS), tinggal di Jakarta.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry