Diskusi dengan para ahli terakit penyakit kardiovaskuler dan penanganan dengan terapi obat terbaru di Surabaya, Minggu (1/2/2026). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co –  Obesitas menjadi salah penyebab terjadinya penyakit kardiovaskuler. Dengan kelebihan berat badan menjadi sumber berbagai macam faktor pemicu terjadinya penyakit jantung seperti diabetes, darah tinggi dan  kolestrol.

Dr dr Soebagijo Adi, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, FACP, endokrinolog di RSUD Dr Soetomo mengatakan diabetes dan kolesterol memang menjadi penyebab terbesar terjadinya kardiovaskuler. “Dan diabetes serta kolesterol itu salah satunya dari berasal dari tubuh yang mengalami obesitas,” ujarnya saat Daewoong Dyslipidemia Treatment Surabaya Regional Launch Symposium” di Novotel Surabaya, Minggu (1/2/2026).

Dikatakan dr Soebagijo sejak 2017 World Health Organization (WHO) menetapkan obesitas sebagai penyakit. Karena obesitas ini mengandung berbagai macam penyakit. “Karenanya obesitas ini harus diintervensi. Edukasi pada masyarakat sangat penting. Tidak hanya jaga mulut dengan tidak mengonsumsi sembarang makanan, tapi juga harus diimbangi dengan olahraga. Selain itu kini sudah ada obat-obatan untuk penurunan berat badan, jika obesitas sudah parah, maka bisa dilakukan potong usus atau bariatriks,” kata dr Soebagijo.

Prof Dr dr Yudi Her Oktaviono, Sp.JP (K), FIHA, selaku Kepala Divisi Kardiologi dan Kedokteran Vaskular, RSUD Dr. Soetomo menambahkan kardiovaskuler menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia.

Selain diabetes, kolesterol juga menjadi penyebab penyakit jantung. “Menekan angka kolesterol dalam tubuh penting agar terhindar dari penyakit jantung,” ungkapnya.

“Untuk bisa menekan angka kolesterol jahat  atau LDL ( low-density lipoproteins) dengan menghambat produksi kolesterol di hati dan mencegah penyerapan kolesterol di usus. Selama ini hanya salah satu yang bisa dilakukan. Tapi sekarang sudah ada obat yang bisa untuk keduanya,” jelasnya.

Terapi Obat Terbaru

Saat ini sudah ada obat yang bisa berfungsi menghambat produksi kolesterol di hati dan mencegah penyerapan kolesterol di usus. Obat ini diharapkan bisa menakan kadar LDL pasien dengan kolesterol tinggi sehingga bisa terhindar dari terjadinya penyakit kardiovaskuler.

Dr dr Suryono, Sp.JP (K), FIHA, selaku Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Surabaya, menyampaikan dalam praktik klinis sehari-hari, pengobatan kerap kali belum optimal atau tidak terkontrol dengan baik.

“Terapi dislipidemia berbasis kombinasi dosis rendah dari Daewoong akan berperan penting dalam menjawab tantangan kompleks penyakit kardiometabolik,” jelasnya.

Terapi Daewoong bekerja melalui kombinasi Rosuvastatin, yang menghambat sintesis kolesterol di hati, dan Ezetimibe, yang menghambat penyerapan kolesterol di usus halus. Keunggulan utama dari terapi ini adalah
kemampuannya memberikan efek penurunan LDL-C yang lebih kuat dan tetap aman, bahkan pada dosis yang relatif rendah.

Sekitar 91,5% pasien penyakit jantung koroner di Indonesia belum mencapai target LDL-C kategori risiko sangat tinggi, yaitu 55 mg/dL. Dalam konteks ini,
terapi kombinasi sejak dini dengan efektivitas yang telah terbukti merupakan strategi rasional untuk menjembatani kesenjangan terapi dan secara signifikan meningkatkan prognosis pasien.

Dengan adanya obat yang lebih efektif ini, dr Suryono menegaskan pihaknya akan berusaha untuk melobi pembuat kebijakan agar obat yang lebih ampuh ini bisa masuk untuk ditanggung BPJS Kesehatan.

“Karena pasien-pasien di daerah sangat bergantung pada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Kalau bisa obat dari Daewoong ini bisa dicover BPJS Kesehatan,” tukasnya.

Pihak Daewoong sendiri mengaku senang bisa membantu masyarakat yang memiliki keluhan dengan kolesterol agar bisa hidup lebih baik dan terhindari dari risiko penyakit jantung.

Dokter Wicak Prasetiadi, Brand & Marketing Head, Daewoong Pharmaceutical Indonesia menegaskan Daewoong akan bekerjasama dengan para ahli di Surabaya dan Jawa Timur untuk membantu masyarakat.

“Semoga ini bermanfaat. Kami akan serius dan komitmen untuk membantu masyarakat. Karenanya kami berencana untuk membangun pabrik farmasi di Indonesia. Karena dengan begitu, harga obat bisa ditekan atau lebih murah,” jelasnya. ril/lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry