
SURABAYA | duta.co – Saat mengisi Kajian Rabu Senja Al-Yasmin episode 2 (14/1), Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi, Ampel, Surabaya KH Ahmad Mujab Muthohar (Gus Mujab) menyatakan obat galau adalah Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mengajarkan ibadah terbaik adalah mencari solusi dan saat mencari solusi itu ada tiga ibadah sekaligus yakni kesabaran, kepasrahan/Ikhlas, dan berharap/memohon/mendekat kepada Allah SWT.
“Afdolu ibadah atau sebaik-baik ibadah adalah menunggu solusi, jadi kalau kita menerima masalah itu justru punya kesempatan banyak untuk ibadah. Menunggu solusi itu dikatakan ibadah yang utama/terbaik (afdol), karena isinya husnudzon (berbaik sangka) kepada Allah yakni bersabar atas apa yang menimpa, bahkan ada pasrah atau Ikhlas dan memohon kepada Allah, jadi makin mendekat kepada Allah, itu afdolu ibadah,” katanya dalam Kajian Senja di Ballroom Al-Yasmin Surabaya, itu.
Dalam kajian bertema ‘Oase Al Qur’an Bagi Jiwa yang Lelah’ di hadapan puluhan Bunda Muslimah Perkotaan itu, menantu Alm. KH Nu’man Thohir itu menjelaskan setiap menjalani hidup, baik di dalam rumah tangga maupun saat bekerja di luar rumah, kadang ada dalam titik jenuh, baik karena problem yang datang, baik problem personal dari kita, rumah tangga, atau anak, maupun problem eksternal yang datang dari teman.
“Di tengah titik jenuh, di tengah ombak yang datang, kita butuh penguat. Nah, Al-Qur’an itulah yang datang memberi pegangan agar tidak jenuh, bingung, dan Lelah. Pegangan dari Al-Qur’an bagi jiwa yang lelah, adalah Himmah Aliyah atau mempunyai cita-cita/harapan yang tinggi. Aplikasi dari Himmah Aliyah itu juga bukan hanya untuk diri sendiri (sa’yan lii nafsi) tapi juga manfaat untuk orang lain (sa’yan lii ghoiri), jadi cita-cita atau harapan yang tinggi itu untuk kita, anak, dan orang lain,” katanya.
Pegangan lain dari Al-Qur’an (selain cita-cita/harapan) adalah al-judd atau mempunyai kesungguhan, karena tidak ada orang sukses yang tidak capek atau tidak berproses dari bawah. “Untuk kesungguhan itu, butuh ada semangat. Yang membuat semangat dalam hidup itu bukan hanya diri kita tapi juga orang di sekitar kita, karena kita memberi manfaat orang lain. Kalau kita memberi manfaat, maka Allah akan memberi kebermanfaatan untuk kita, orang menyemangati kita untuk meraih cita-cita. Itu action,” katanya.
Selain Al-Qur’an (mengajarkan pentingnya mempunyai cita-cita/harapan dan kesungguhan dalam action/berjuang dari bawah), para ulama juga mengajarkan pemahaman konsep tangguh/sabar agar tidak lemah. Menurut para ulama, sabar/tangguh itu ada tiga konsep yakni sabar untuk konsisten dalam kebaikan/ketaatan, sabar ketika ada cobaan/ujian, dan sabar untuk tidak tergoda dengan kemaksiatan.
“Karakter orang sabar menghadapi ujian itu ada dua tipe yakni rojulun aqil atau the winner (pemenang) dan rojulun jahil atau the losser (pecundang). Tipe pemenang itu tenang menghadapi masalah dan fokus pada solusi, sedang tipe pecundang itu mudah bingung, galau, dan panik, serta fokus pada masalah, sehingga masalah kecil pun dianggap berat. Jadi, yang jadi masalah itu justru dirinya sendiri,” katanya.
Oleh karena itu, Gus Mujab menyarankan orang tua untuk mencetak anak bertipe pemenang, sehingga anak itu perlu diajari untuk menjadi kuat dan memiliki mental pejuang. “Ada kisah sahabat nabi yang dalam Hadits Riwayat Abi Said Al Hudri diceritakan bermental bingung atau galau, lalu datang ke Masjid Nabawi, meski belum waktunya sholat. Ketika ditanya Nabi, kenapa datang sebelum waktu sholat, maka Abu Umamah yang sahabat Ansor itu mengaku bingung dan banyak utang,” katanya.
Akhirnya, Nabi mengajarkan doa: Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzu bika minal jubni wal bukhl, wa a’udzu bika min ghalabatid dain wa qahrir rijal. (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kebingungan dan kesedihan. Aku berlindung kepadaMu dari ketidakberdayaan dan kemalasan. Aku berlindung kepadaMu dari kepengengecutan dan kekikiran. Aku berlindung kepadaMu dari lilitan utang dan penindasan orang).
“Jadi, Nabi mengajarkan kita menjadi arroja’ atau mempunyai cita-cita/harapan dan action, bukan tamanni atau mempunyai harapan tapi berpangku tangan, agar tidak galau, tahu arah, tidak bingung, dan mempunyai tujuan, bahkan Al-Qur’an mengajarkan sebaik-baik ibadah adalah mencari solusi, karena menggabungkan tiga hal yakni sabar, ikhlas/pasrah, dan memohon/berharap, semua itu cara mendekatkan diri kepada Allah. Juga, perlu mengamalkan doa yang diajarkan Nabi itu pada setiap pagi dan sore/petang,” katanya.
Mengakhiri kajiannya, Gus Mujab mengutip Imam Ghazali dalam kitab “Bidayatul Hidayah” yang mengajarkan empat panduan untuk menghindari godaan dalam hidup/duniawi, karena godaan itu tidak hanya menghampiri orang biasa tapi juga tokoh/ulama, tentu dengan tingkat godaan yang berbeda.
Imam Ghozali mengajarkan untuk membagi waktu dalam sehari menjadi empat bagian yakni waktu untuk upgrade ilmu (dua tipe ilmu yakni ilmu memahami kekurangan diri dan ilmu sesuai tingkat keahlian tapi tetap perlu memahami pendapat orang lain tanpa merasa benar); waktu untuk zikir, sholat sunnah, baca Al-Qur’an; waktu untuk kemaslahatan orang (membantu orang/organisasi); dan waktu untuk maisah/cari nafkah.
“Kalau waktu dalam sehari dibagi dalam empat bagian, maka kita akan hidup secara imbang, karena sehari sudah terbagi dalam momen untuk ilmu, momen untuk ibadah, momen untuk manfaat kepada masyarakat, dan momen untuk keluarga, jadi nggak ada/sempat galau,” katanya. (*/al-yasmin)





































