dr Achmad Yarziq Mubarak Salis Salamy, MHPE – Dosen Fakultas Kedokteran (FK)

NYERI dada menjadi salah satu gejala yang ditakuti masyarakat luas, karena dikhawatirkan serangan jantung. Mengingat angka kejadian serangan jantung akut dan kematian yang di dahului oleh nyeri dada meningkat tidak hanya pada orang dengan usia lanjut tetapi juga tak jarang menyerang orang dengan usia muda.

Hal ini tentunya menjadi perhatian bagi masyarakat luas terkait kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi ketika menderita nyeri dada.

Nyeri dada memang tidak serta merta diartikan sebagai penyakit jantung. Seringkali nyeri dada juga bisa terjadi akibat penyakit lambung, ulu hati, dan otot dada. Nyeri dada yang terkorelasi dengan penyakit jantung cenderung memiliki ciri-ciri khusus dan karakteristik yang khas. Pengetahuan akan hal ini sudah banyak tersebar di masyarakat luas sebagai sarana pencegahan komplikasi lanjut dari gejala nyeri dada.

Nyeri dada yang dapat menyebabkan serangan jantung cenderung dikorelasikan dengan perubahan emosi yang mendadak pada penderita seperti sedih, marah, dan kecewa. Penelitian yang dilakukan Vlachakis (2018) menunjukkan adanya korelasi signifikan antara angka kejadian serangan jantung dengan perubahan emosi mendadak yang terjadi sebelum nyeri dada terjadi.

Perubahan emosi yang mendadak seringkali terjadi tanpa kita sadari. Hal ini akan berbahaya ketika kita sudah memiliki faktor resiko terjadinya penyakit jantung seperti obesitas, merokok, memiliki penyakit darah tinggi, penyakit gula, atau sudah memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya. Apabila kita memiliki faktor resiko tersebut, sebaiknya kita bisa mengatur lonjakan emosi kita agar tidak menyebabkan terjadinya serangan jantung.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu mengatur agar tidak terjadi lonjakan emosi yang mendadak adalah dengan berlatih mengatur pernafasan baik melalui meditasi ataupun olahraga yoga, selain itu kita juga bisa menjaga kestabilan emosi kita dengan selalu mengingat Tuhan.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Sebagai seorang muslim, cara terbaik untuk mengingat Allah adalah dengan berdzikir. Dzikir menjadi anjuran bagi setiap kita untuk dilakukan tidak hanya setelah sholat, tetapi juga menemani keseharian kita.

Dzikir juga dapat menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga lonjakan emosi ketika kita selalu berdzikir baik di dalam hati maupun secara lisan. Dalam penelitian Zuhri (2020) menemukan bahwa Dzikir secara konsep tidak hanya sebagai pengingat kepada Allah, tetapi salah satunya juga sebagai psikoterapi/relaksasi bagi orang yang melaksanakannya.

Dzikir ternyata juga dapat menjadi terapi pendamping obat untuk dapat mengurangi gejala nyeri dada. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh pangestika (2020) dimana dikatakan bahwa kombinasi dzikir dan terapi pengobatan dapat menurunkan intensitas nyeri dada pada penderita penyakit jantung coroner akut dibandingkan hanya menggunakan terapi pengobatan saja.

Karenanya mari kita dapat memaksimalkan berdzikir sebagai sarana pengingat kepada Allah sekaligus menjaga kestabilan emosi kita dan bagi masyarakat yang sudah memiliki penyakit jantung dan sering mengalami nyeri dada, mari kombinasikan pengobatan yang dilakukan dengan selalu berdzikir. Wallahu a’lam bish showab. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry