
“Teka-teki siapa Ketua Umum PBNU mendatang terus menjadi perbincangan. PKB jelas, tidak ingin lepas kendali soal ‘penguasa’ Kramat Raya. Dr M Sholeh mengulas teka-teki itu! Red.”

Oleh M Sholeh Basyari*
MUKTAMAR ke35 NU 2026, bintangnya masih Saifullah Yusuf, Gus Ipul (GI). Muktamar Agustus nanti, tampaknya mengulang skenario serupa, yang pernah terjadi pada muktamar Jombang 2015.
“Bersama” Muhaimin Iskandar Cak Imin (CI), GI memulai operasi dari, “memandulkan” peran ketua panitia nasional, imam Azis, bentukan PBNU.
ID card panitia nasional, di-off-kan. ID card panitia daerah (PWNU Jatim dan PCNU Jombang), di-on-kan. Hingga kabarnya banserisasi salah satu Matra militer yang berbasis di Gedangan, Sidoarjo, sebagai satgas organik di forum-forum Muktamar.
Menariknya, dengan operasi senyap dan massif seperti itu, GI gagal mendesakkan misinya dan “tidak menjadi apa-apa”, tidak masuk dalam kepengurusan inti PBNU hasil muktamar ke-33 Jombang.
GI Selalu Mencari Musuh Utama
Pola permainan GI, biasanya diawali dari adanya common enemy. Pada muktamar Jombang, GI memposisikan Kiai Hasyim plus Gus Solah, sebagai semacam common enemy.
Kiai Hasyim Muzadi, yang saat itu, gigih mendukung Gus Solah, sebagai ketua umum dan dirinya sebagai Rois Aam, nyaris tidak berkutik, menghadapi koalisi GI dan CI.
Menarik untuk ditelisik, siapa common enemy yang diusung GI pada muktamar 2026, yang lokasinya diperebutkan oleh banyak PWNU ini.
Untuk menjawab siapa common enemy bikinan GI, ada baiknya kita lihat pola permainan GI berikutnya: yakni kekuatan dan kelemahan kubu lawan.
Dengan melihat kekuatan perkubuan jelang muktamar 2026 yang ada: kubu Gus Yahya (GY), kubu Nusron Wahid (NW) dan “kubu CI”, tampaknya GI mengincar kubu GY sebagai “musuh utama”.
Hal ini tidak saja sebagai kelanjutan konflik PBNU Kramat dengan PBNU Sultan, lebih dari itu, GI melihat dan meyakini bahwa dirinya lebih layak sebagai ketua umum PBNU ketimbang GY.
Kesimpulan tentang keyakinan GI lebih layak ketimbang GY, atau bahkan GI melihat GY hanya “magang” sebagai ketum PBNU hasil muktamar Lampung, penulis (Sholeh Basyari) dengar langsung dari GI.
Kisahnya: Dua Minggu sebelum GI memecat saya dari semua PTNU, pada pertemuan di sebuah hotel di kawasan tugu Pancoran, penulis menemani Lukman Edy, mantan Sekjen PKB, bertemu dengan GI yang didampingi Umarsyah. Saat itu GI bilang “Yahya pake baju Ketua Umum PBNU ternyata pantas juga”.
Ketika GY sebagai semacam common enemy, di sisi lain GI butuh tandem. Tandem menjadi penting ketika GI tidak yakin menang mutlak. Itung-itungan di lapangan, dengan tidak melibatkan negara (istana), besar kemungkinan GI berkoalisi dengan PKB (kubu CI).
Koalisi dengan CI adalah strategis dan paling ideal. PKB memiliki SDM ke-nu-an melimpah. PKB juga rawe-rawe rantas untuk menumpas program utama GY: menjauhkan PBNU dari PKB.
Bagi PKB, menjauhkan PBNU dari PKB, seperti memisah ikan dari kolam. PBNU dan PKB tidak sekedar “ayam dan telor”, tetapi sebuah ekosistem.
Gelagat ini tampaknya dibaca dengan cermat oleh NW. NW tampak hati-hati dan tidak banyak bermanuver pada muktamar kali ini.
GI tampak juga kurang menghitung aspek NW. NW bagi GI bukan faktor yang penting. NW kehilangan kontrol atas PCNU maupun PWNU. Upayanya mendorong program kementerian ATR/ BPN untuk percepatan sertifikasi wakaf dilingkup NU, menuai jalan terjal.
Konsolidasi GI dengan Blok M
Kabar bahwa GI menggunakan salah satu penanggung jawab keamanan yang berbasis di Blok M untuk kesuksesan muktamar, terdengar nyaring. Kabar ini setidaknya telah terverifikasi validitasnya. Kapan itu? Ketika GY gagal melakukan konsolidasi PCNU PWNU di Surabaya enam bulan lalu.
Ketika konflik PBNU Sultan dan Kramat, memuncak, konsolidasi GY, “terganggu” oleh lobby sejumlah kepala resor keamanan kepada sejumlah ketua PCNU dan PWNU.
Berkaca dari konsolidasi GY yang diganggu, seperti apa bentuk pelibatan korp coklat yang dimainkan GI pada muktamar nanti? Ini yang menjadi bahan analisis sejumlah kubu.
Muhaimin Sang Pemenang
Alih-alih menjadikan CI sebagai common enemy, justru kubu CI bisa jadi sebagai prioritas utama mitra koalisi GI.
Berkaca pada muktamar PKB 2005 di Semarang, medan laga pertama yang mempertemukan CI dengan GI, dan dimenangkan oleh CI, GI berhitung serius: melawan CI atau koalisi?
Pada muktamar Jombang, GI koalisi dengan kubu CI. Koalisi ini menjadi pemenang. Tragisnya GI gagal masuk pengurus inti.
Pada muktamar Lampung, CI di ujung waktu (kurang seminggu sebelum muktamar), mengalihkan dukungan ke kubu GI yang mengusung GY.
Koalisi CI, GI dan GY, menang. GI sekjen.
Nah, pada muktamar Agustus nanti, jika GI menenangkan koalisinya dengan kubu CI, GI porensial “hanya” diplot satu posisi dari empat posisi yang ada: Rois Aam, Katib Aam, Ketum dan Sekjen. Perkembangan terkini, GI mendorong Rois Aam tetap dipegang Kiai Miftahul Akhyar. Jika kabar itu benar adanya, koalisi menang sekalipun, GI terlempar dari empat posisi kunci. Kondisinya persis seperti hasil muktamar Jombang.
Tetapi, jika GI tidak memaksakan Kiai Miftahul Akhyar sebagai Rois Aam, kursi sekjen atau bahkan ketua umum, aman dalam genggaman mantan walikota Pasuruan ini. Wallahu A’lam





































