TAK MENYERAH : Nurul Hikmah (24), peserta tuna netra tes Seleksi Bersama masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) mengikuti tes di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (FISIP UINSA), Selasa (16/5). DUTA/Wiwiek Wulandari

 

SURABAYA | duta.co – Keterbatasan fisik tidak menghalangi Nurul Hikmah (24) untuk bersaing dengan teman-temannya yang normal untuk mengikuti tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Nurul asal Jombang ini, tidak dibedakan, yang dibedakan hanyalah dia didampingi seorang panitia untuk membacakan soal-soal tes. Selain itu, Nurul ditempatkan di ruangan khusus yang nyaman, sendirian di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (Uinsa), Selasa (16/5).

“Saya baru lulus Paket C di Sanggar Belajar Ya Latif, Jombang, memang telat karena saya sempat berhenti sekolah tujuh tahun,” kata Nurul sebelum mengikuti tes SBMPTN.

Nurul mengaku awalnya dia ditempatkan di lantai tiga gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) bersama peserta lain. Namun, kemudian pihak panitia menempatkannya di lantai satu secara khusus, dengan pendampingan pengawas yang juga pendamping untuk membacakan soal dan mengisi jawaban.

Dalam SBMPTN ini Nurul mengambil Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sebagai pilhan pertama. Untuk pilihan kedua ia memilih prodi Pendidikan Luar Biasa Unesa. Sementara pilihan terakhir ia mengambil pendidikan luar biasa di Universitas Negeri Malang.

“Biasanya orang berkebutuhan khusus ambilnya pendidikan luar biasa, tapi karena saya bisa Bahasa Inggris saya ya ingin bisa jadi pengajar Bahasa Inggris,” ujarnya.

Nurul menjelaskan, dirinya mengalami kebutaan sejak usia 13 tahun akibat kecelakaan saat pelajaran olahraga. Dikatakannya, akibat gerakan salto yang salah, hingga saraf di bagian tengku terluka. Kemudian menyalur ke saraf mata. “Dulu sempat buta total, sekarang kelihatan cahaya dan bayangan. Selama ini terapi karena yang masalah saraf bukan kornea atau lainnya yang bisa dioperasi atau cangkok,” tuturnya.

Untuk mempersiapkan tes SBMPTN, dia mengaku telah melakukan berbagai persiapan, seperti belajar lebih dari materi belajar untuk paket C. Selain itu, pelajaran sejarah yang harus dia pelajari mulai dari awal “Saya daftarnya pakai ‘laptop’ yang ada ‘screening’ baca buat tunanetra. Tapi ada beberapa bagian yang tidak terbaca jadi dibantu teman, ke Surabaya juga sama teman motoran,” katanya.

Wakil Rektor I Uinsa Syamsul Huda mengatakan pihaknya memang sengaja menempatkan Nurul di lantai satu karena ingin membuatnya nyaman. Menurutnya, Nurul mempunyai semangat yang luar biasa sehingga pantas diberi pelayanan yang sama seperti halnya anak lain.

“Sayangnya sampai saat ini masih belum ada ketentuan nasional yang mengatur penggunaan braile untuk penyandang disabilitas, jadinya ya dia tetap tes seperti halnya anak normal lainnya,” ujarnya.

Namun dirinya berharap, pemerintah akan mengatur penggunaan braile itu untuk peserta tunanetra.(end/ara)

Express Your Reaction
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry