BEDAH BUKU : Guru Besar UINSA Prof. Nur Syam (dua dari kiri) bersama Suko Widodo (kiri), Prof. Drs. Kacung Marijan, Dr. Imam Safe’I, M.Pd. (Direktur Pendidikan Agama Islam Kemenag RI) dan Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen (Ketua STAI Al-Anwar Sarang) dalam diskusi di UINSA, Rabu (12/9). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co –  Islam Nusantara sampai saat ini masih menjadi perdebatan publik.

Namun, Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama (Kemenag) RI, Prof. Nur Syam menegaskan masalah Islam Nusantara jangan lagi menjadi perdekabatan.

“Ini penting untuk dipahami. Agar energi kita tidak habis untuk membahas sesuatu yang sebenarnya sudah ‘clear’,” tandas Guru Besar Sosiologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) usai membedah tiga buku hasil karyanya, Rabu (12/9).

Dikatakannya, tidak perlu hanya berdebat masalah ini karena energi yang seharusnya untuk memberdayakan masyarakat, mengedukasi masyarakat itu menjadi terbengkalai.

“Karena kita membesar-besarkan persoalan seperti ini,” tukasnya.

Salah satu dari tiga buku yang dibedah itu memang berjudul Islam Nusantara Berkemajuan: Tantangan dan Upaya Moderasi Agama.

Dalam hal ini, Nur Syam mengakui tujuannya dari buku ini adalah untuk memberikan penjelasan kepada publik tentang  hal-hal yang selama ini menjadi pertanyaan besar.

Misalnya pertanyaan tentang Islam Nusantara.

Melalui diskusi yang dihadiri banyak pakar itu, Nur Syam mengatakan Islam Nusantara Berkemajuan itu bisa memberikan sedikit pencerahan.

Dikatakan Nur Syam, Islam Nusantara Berkemajuan bukan varian baru dalam Islam. Sebab secara teologi dan secara ritual tentu tidak ada hal-hal yang amat krusial yang membedakan, antara Islam di Timur Tengah, Amerika, Eropa dengan di Indonesia.

“Kalau misalnya ada perbedaan aspek ritual itu karena faktor pemahaman. Tentu ada yang membedakan,” ujarnya.

“Ada tradisi-tradisi pada masing-masing wilayah. Misalnya dalam hal berpakaian, tradisi-tradisi yang tidak dikenal di Timteng tapi ada di Indonesia dan sebagainya. Tentunya hal itu bukan menjadi sesuatu yang besar,” jelasnya.

Tantangan saat ini, kata Nur Syam adalah masuknya teknologi informasi yang sangat masif dengan media sosial yang sangat memasyarakat.

“Karenanya perlu adanya literasi media. Karena agar kita bisa membangun media sosial berbasis pada nilai kebaikan,” ungkapnya.

“Membangun gerakan toleransi dipahami dalam satu aspek bahwa di antara kita berbeda dan perbedaan jangan dibesar-besarkan. Dan di antara kita ada persamaan dan berbasis pada kesamanaan mambangun kerukunan toleransi dan sebagainya,” imbuhnya.

Nur Syam menulis tiga buku yang masing-masing berjudul Islam Nusantara Berkemajuan: Tantangan dan Upaya Moderasi Agama; Menjaga Harmoni Menuai Damai: Islam, Pendidikan dan Kebangsaan.

Serta Demi Agama, Nusa, dan Bangsa: Memaknai Agama, Kerukunan Umat Beragama, Pendidikan, dan Wawasan Kebangsaan dari kumpulan artikel yang ditulisnya selama ini.

Diakuinya ada 1.777 artikel yang sudah ditulis dan dijadikannya banyak buku, tiga diantaranya yang dibedah tersebut.

“Setiap langkah yang saya lakukan selalu saya jadikan tulisan. Saya mengimbau para dosen dan mahasiswa untuk giat menulis untuk membanjiri media sosial ini dengan konten Islam Watahiyah atau beragama yang moderat,” tuturnya.

Hadir sebagai pembedah dalam kesempatan bedah buku ini, Prof. Drs. Kacung Marijan, MA., Ph.D., (Guru Besar Bidang Ilmu Perbandingan Sistem Politik Unair Surabaya), Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen, MA. (Ketua STAI Al-Anwar Sarang).

Dan Dr. Imam Safe’I, M.Pd. (Direktur Pendidikan Islam Kemenag RI) yang akan dimoderatori oleh Dr. Drs. Suko Widodo, M.Si., Pakar Ilmu Komunikasi sekaligus Ketua Pusat Informasi dan Humas Unair Surabaya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.