Mabroer MS (kiri) dan Abd Kholiq. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Rame! Komentar warga NU di media sosial terkait maju atau mundurnya jadwal Muktamar ke-34 NU, semakin rame. Selain dukung-mendukung dua kubu (Rois Aam-Katib PBNU — yang ingin muktamar maju Vs Ketum-Sekjen PBNU – yang ingin muktamar mundur), ada juga yang berdiri tegak, di tengah.

“Intinya NU tak boleh pecah. Tak boleh kalah melawan politisi dan oligarki. Yang pertama selama ini terselamatkan usai mukmatar ke-33 Jombang, karena almaghfurlah Gus Solah dan KH Hasyim Muzadi mengalah. Tetapi yang kedua semakin gila, menjadi-jadi sehingga terjadi seperti ini,” demikian Drs H Abd Kholiq, warga NU dari Jombang, Senin (29/11/21).

Hal yang sama disampaikan Mabroer MS, kader NU yang dikenal sebagai Ketua Tim Sembilan Konvensi Capres NU, bahwa, kondisi sekarang sudah terbilang darurat. “Saatnya Mustasyar PBNU mengambil alih. Mendamaikan dan mendinginkan suasana. Hari ini sudah tidak kondusif, masak ada kader NU demo Rois Aam, ini kelewatan,” tegasnya.

Menurut Mabroer, NU memang tidak boleh pecah. Karena, NU itu soko guru NKRI. Bahkan ia menyebut hasil survey, bahwa, jumlah warga yang (setidaknya) mengaku NU, di Indonesia berkisar 49% atau hampir separo.

“Jadi, posisi NU sangat penting bagi stabilitas NKRI. Maka, pasca muktamar ke-33 Jombang, almaghfurlah KH Hasyim dan Gus Solah sudah mewanti-wanti, jangan sampai NU pecah, jangan ada NU tandingan. Beliau ikhlas mengalah,” terangnya.

Sekarang, tambahnya, belum ada tanda-tanda dua kubu mengalah. “Karenanya, harapan warga nahdliyin, segera ada solusi. Dan kita berharap Mustasyar PBNU segera mengambil alih masalahnya,” terangnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry