Suasana ricuh muktamar ke-33 NU Jombang. FT.tribunews.com

SURABAYA | duta.co – Belum ada, tanda-tanda Muktamar ke-34 NU di Lampung, bakal lebih baik dari muktamar ke-33 di Jombang. Sebaliknya, kondisi sekarang makin mengkhawatirkan. Kalau NU gagal memperbaiki kualitas muktamar, ke depan jelas, semakin parah.  Demikian pandangan Prof Dr H Rochmat Wahab, Ketua Komite Khitthah NU 1926 (KKNU-26).

“Terus terang, kami berharap para masyayikh, para kiai, habaib, juga cendekiawan NU yang berintegritas, yang jumlahnya seabrek, untuk memberikan kontribusinya. Kawal semua ini. Sehingga Muktamar ke-34 NU nanti bisa berlangsung lancar, aman, damai, tentu menghasilkan keputusan yang kredibel,” jelas Prof Rochmat kepada duta.co, Senin (22/11/21).

Menurut Ketua Tanfidziyah PWNU DIY tahun 2011-2016 ini, sampai sekarang belum ada tanda-tanda Muktamar ke-34 NU akan lebih baik dari muktamar ke-33 di Jombang. ”Sebaliknya, justru mengkhawatirkan. Kalau kondisi ini kita biarkan, bukan tidak mungkin PBNU mendatang menjadi kumpulan politisi haus kekuasaan, NU menjadi alat politik cari jabatan,” terangnya.

Cucu (menantu) muassis NU, almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah ini, merasa prihatin dengan kondisi PBNU sekarang. Menurutnya, NU itu didirikan dengan penuh riyadhah, untuk membangun umat dengan pendekatan jamiyah, kolektif atau organisatoris. Bukan pendekatan nafsiyah, personal atau individual.

Prof Dr H Rochmat Wahab, Ketua Komite Khitthah NU 1926 (pegang mic) dalam sebuah acara.

Dalam konteks ini, jelasnya, upaya membangun institusi merupakan jalan yang sangat strategis. Dengan begitu pendirian NU ini, memiliki visi dan misi yang jelas, terjangkau, strategis. Kebijakan organisasi, haruslah efektif, program terfokus pada pemberdayaan. Ini dibutuhkan kepemimpinan lembaga yang, benar-benar adil, jujur, bertanggung jawab, dan professional demi umat.

Jangan Dibiarkan

Keberadaan dan keberlanjutan NU, masih kata Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode 2009-2017 ini, sangatlah strategis. Semua bertumpu pada kapasitas, kredibilitas dan akseptabilitas pimpinannya.

“Maka, untuk memilih dan menetapkan pimpinan, diperlukan level tertinggi, muktamar. Nah, forum ini jangan sampai ternodai. Cukup pelajaran terburuk Muktamar ke-33 di Alun-alun Jombang. Secara faktual, inilah muktamar paling hitam, mencoreng wajah NU. Jangan sampai terulang. Sayangnya, sampai detik ini, pelaku-pelaku ‘rusuh’ muktamar ke-33 di Jombang masih mendominasi,” tegasnya.

Guru Besar Ilmu Pendidikan Anak Berbakat UNY ini, mengapresiasi tema muktamar kali ini: Menuju Satu Abad NU, Membangun Kemandirian Warga Untuk Perdamaian Dunia. “Ini komitmen dan harapan yang wajib terwujud. Jangan hanya bangga dengan slogan. Banggalah dengan aksi nyata, bagaimana caranya nahdliyyin mandiri dan bermartabat. Jangan temanya mentereng, hasilnya mencoreng,” jelasnya.

Masih menurut Prof Rochmat, memang, tidak mudah meluruskan jalannya PBNU sekarang. Karenanya, butuh kebersamaan. “Faktanya masih memprihatinkan. Misalnya, tarik menarik jadwal muktamar. Ini sudah bau kepentingan. Maka, usaha menjaga Muktamar dari tangan-tangan kotor serta maraknya politik uang, harus dilakukan. Kita tidak akan ikhlas, politik uang menghancurkan tatanan NU. Kalau saat ini (muktamar ke-34) kita gagal, maka, ke depan PBNU semakin parah,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry