SURABAYA | duta.co – Rencana Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar istighotsah untuk membantu pemenangan Capres Jokowi dan Cawapres KH Ma’ruf Amin, dikritisi pengamat politik. Apalagi kegiatan yang akan digelar bersamaan dengan Harlah NU (Rajab atau akhir Februari dan awal Maret 2019) itu, menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam mengatakan, bahwa istighotsah untuk kebaikan dan keselamatan negara, itu kelasnya PBNU. Sebaliknya, kalau PBNU menggelar istighotsah untuk dukungan politik, sama saja masuk pusaran kekuasaan dan berisiko menjadi partisan.

“Karena itu tetap harus ada yang mengingatkan, ngunu yo ngunu tapi ojo kebangeten ngunu. PBNU ini milik umat bukan milik perorangan,” ujar pria yang juga Dekan FISIB UTM saat dikonfirmasi Jumat (4/1/2019).

Lebih jauh Surokim menjelaskan, kalau istighotsah PBNU  seperti itu justru akan mendegradasi peran PBNU dalam politik dan aKan mengkerdilkan PBNU berada dalam ketiak kekuasaan.

“Tentu kita semua menyayangkan, NU ini lebih besar dari sekadar untuk perebutan kekuasaan politik. NU yang wajib didatangi peserta pemilu, bukan NU yang harus menghamba pada kandidat,” tegasnya.

Jangan Rendahkan NU

Benar bahwa KH Ma’ruf Amin adalah mantan Rais Aam PBNU sehingga warga NU didorong berkidmad kepada Rais Aam PBNU. Namun, dukungan yang terlalu vulgar akan mematik kontroversi dan sintimen negatif warga NU yang juga punya aspirasi lain.

“PBNU seharusnya cerdas memainkan peran tanpa harus mendegradasi kelas seperti itu,” harap akademisi asal Madura ini.

PBNU, lanjut Surokim sudah terperangkap dalam agenda parpol dan kelewat akrab dengan parpol sehingga sering selip antara tugas kepolitikan dan tugas keumatan. Bisa jadi ini perlu dievaluasi agar kedua orang itu berada dalam kamar yang berbeda. Akan lebih elegan jika temanya untuk kebangsaan bukan menyolidkan dukungan pada pasangan capres-cawapres tertentu.

“Kalau saya menyarankan agar temanya diperluas untuk keselamatan bangsa sebab tugas mandatori keumatan dan kebangsaan NU, jauh lebih strategis dari sekadar dukung mendukung capres-cawapres,” pungkas Surokim Abdussalam. (ud)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.