H Tjetjep Muhammad Yasin, Ketua PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah) (FT/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Soal raibnya nama-nama tokoh NU, seperti almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari, KH Zainal Arifin, KH Wahid Hasyim, KH Masjkur, KH Yusuf Hasyim dalam buku ‘Kamus Sejarah Indonesia’ Jilid I, menjadi perhatian serius nahdliyin.

“NU jangan ‘cuek bebek’ (tak peduli red.), harus bicara. Hari ini, kesannya ‘Mati Urip Melu Jokowi’. Dijadikan komisaris saja, sudah ‘sariawan’. Ini risikonya kalau NU larut dalam politik, mengabaikan keputusan penting para masyayikh kembali ke Khitthah 26,” demikian disampaikan H Tjetjep Muhammad Yasin, Ketua PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah) kepada duta.co, Selasa 20 April 2021.

Menurut Gus Yasin, raibnya sejumlah tokoh NU dalam Kamus Sejarah RI Jilid I versi PDF, ini tidak boleh dianggap sepele. Jawaban Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid yang mengungkit Museum Islam Indonesia Hasyim Asyari di Jombang yang didirikan oleh Kemendikbud, bukanlah alasan tepat.

“Itu (Museum Islam Indonesia Hasyim Asyari di Jombang red.) bukan jawaban yang baik. Dia (Hilmar) ahli sejarah, mestinya tahu, bahwa, beredarnya Kamus Sejarah RI Jilid I yang ngawur ini, bisa berakibat fatal. Karena menjadi materi ajar, menjadi referensi nasional bagi anak-anak kita,” jelas Gus Yasin, alumni PP Tebuireng, Jombang yang dikenal sebagai pengacara senior ini.

Sebelumnya, Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid melalui rilisnya di duta.co menegaskan, bahwa, Kemendikbud selalu berefleksi pada sejarah bangsa dan tokoh-tokoh yang ikut membangun Indonesia, termasuk Hadratus Syech Hasyim Asy’ari dalam mengambil kebijakan di bidang pendidikan dan kebudayaan.

Hilmar juga melengkapi pernyataannya dengan fakta. “Museum Islam Indonesia Hasyim Asyari di Jombang didirikan oleh Kemendikbud. Bahkan, dalam rangka 109 tahun Kebangkitan Nasional, Kemendikbud menerbitkan buku KH. Hasyim Asy’ari: Pengabdian Seorang Kyai Untuk Negeri,” terangnya.

Soal tudingan menghilangkan peran tokoh NU, Hilmar menjelaskan, bahwa, “Buku Kamus Sejarah Indonesia Jilid I tidak pernah diterbitkan secara resmi. Dokumen tidak resmi yang sengaja diedarkan di masyarakat oleh kalangan tertentu merupakan salinan lunak (softcopy) naskah yang masih perlu penyempurnaan,” katanya.

Penjelasan Hilmar ini langsung ditepis Gus Yasin. “Apa pun bentuknya, mau tidak resmi, masih softcopy, masih perlu penyempurnaan, ini menunjukkan kecerobohan yang nyata. Bisa jadi, kalau kita diam, semua akan berjalan biasa-biasa saja. Pelan-pelan, habislah peran tokoh-tokoh NU dalam Sejarah Indonesia. Sadis bukan? Masak ahli sejarah (Hilmar red.) tidak paham yang demikian,” katanya dengan nada serius.

Lebih jauh, ia mengulas munculnya sejumlah nama tokoh komunis muncul dalam kamus yang diterbitkan oleh Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu.

Ada beberapa nama tokoh komunis diulas dalam kamus setebal 339 halaman tersebut. Misalnya, muncul profil Henk Sneevliet. Ini dapat ditemukan dalam kamus di halaman 87. Sneevliet adalah pendiri Indische Social-Democratische Vereniging (ISDV), organisasi beraliran kiri yang menjadi partai komunis pertama di Asia.

Ada juga profil Darsono atau Raden Darsono Notosudirjo yang ditemukan pada halaman 51. Ia adalah tokoh Sarekat Islam (SI) yang pernah menjabat sebagai Ketua Partai Komunis Indonesia pada 1920-1925. Lalu profil Semaoen ditemukan di halaman 262. Semaoen menjabat Ketua Partai Komunis Indonesia yang semula bernama ISDV. Ia juga dikelan sebagai aktivis komunis dan pimpinan aksi PKI 1926.

Selanjutnya ada profil Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit yang juga pernah menjabat sebagai ketua Partai Komunis Indonesia. Profil DN Aidit ditemukan pada Kamus Sejarah Indonesia halaman 58. DN Aidit membawa PKI sebagai partai terbesar keempat di Indonesia pada Pemilu 1955 dan partai komunis ke-3 terbesar di dunia setelah Rusia dan China.

“Kita (nahdliyin) harus bangkit. Kita tidak bisa menyerahkan urusan penting seperti ini ke PBNU. Kebanyakan pengurus NU sudah ewuh pakewuh, karena banyak di antara mereka sudah memangku jabatan,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry