SURABAYA | duta.co –   Spanduk yang terpasang di pagar Gedung Pusdikkum TNI AD, Bandung menjadi perhatian publik. Tulisannya kontras: ‘Waspadai Bangkitnya Komunis Gaya Baru’. M Rizal Fadillah, SH, Ketua Masyarakat Unggul (MAUNG) Bandung Institute, menyebutnya ini peringatan serius.

“Di tengah situasi seperti ini pimpinan negara, termasuk Presiden, nampaknya masih menganggap enteng PKI dan komunisme. Bahkan kata Panglima TNI, tidak mungkin PKI hidup di negara Pancasila. Lupa? Dulu waktu PKI berontak juga dasar negara kita adalah Pancasila. Bahkan buku Aidit berjudul “Membela Pantjasila,” demikian catatan M Rizal Fadillah, SH yang terbaca duta.co Kamis (3/1/2019).

Komunis Gaya Baru? Maksudnya, gerakan politik mereka telah berubah. Ketua Barisan Kiai dan Santri Nahdliyin (BKSN) H Agus Solachul A’am Wahib, yakin, PKI tengah menerapkan modus baru. Apalagi sekarang mereka sudah mulai menguasai titik-titik strategis. Mereka tidak lagi menghabisi nyawa jenderal, tetapi, melumpuhkan lawan politiknya, termasuk NU.

Gus A’am Wahib (FT/IST)

“Salah satunya melemahkan pengurus NU. Caranya menarik pengurus NU ke pusaran politik, agar jamiyah para kiai dan santri ini ikut babak belur berebut kekuasaan. Di saat seperti itu, NU dan kiai akan dijauhi umat. Padahal, semua tahu, NU adalah musuh bebuyutan PKI pada 1965,” jelas Gus A’am Wahib panggilan akrabnya kepada duta.co, Kamis (3/1/2019).

Sekarang, lanjut Gu A’am, mereka berhasil melumpuhkan pengurus NU dalam ring pertarungan kekuasaan. Buktinya majunya KH Ma’ruf Amin sudah diklaim sebagai perwakilan NU. Akhirnya yang bekerja keras di arus bawah adalah pengurus NU.

“Padahal, begitu pengurus NU ikut berebut kekuasaan, maka, NU akan dibunuh karakter keislamannya, sehingga dijauhi dan dibenci umat. Maka, NU harus kita selamatkan, karena NU ini benteng terakhir yang sanggup menjaga NKRI sekaligus mempertahankan Islam ahlussunnah wal jamaah. Kalau sampai NU lepas dari kendali khitthah 26, negeri ini juga habis,” tegasnya serius.

Sementara M Rizal Fadillah, lebih mengkritisi fenomena yang ada. Ia mengingatkan warning dari mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, bahwa, ada bahaya proxy war yang dimainkan China. Menteri Pertahanan Keamanan Ryamizard Ryacudu juga menyatakan adanya fenomena kebangkitan PKI dan Komunisme.

Simbol Palu Arit menyebar di masyarakat. Buku-buku PKI, paham komunis dan marxis dijual bebas di toko- toko buku. Pusdikkum TNI AD di Bandung sampai membuat spanduk: ‘Waspadai Bangkitnya Komunis Gaya Baru’.

Sementara itu kader politik PDIP terang-terangan membuat buku bangga menjadi anak PKI, menghadiri rapat kelompok ‘alumni PKI’ dan menantang, “Jika PKI bangkit, apa salahnya.” Lalu, ada desakan ke Jokowi agar memecat anggota TNI atau Polri yang men-‘sweeping’ atau merazia buku berbau komunis dan atribut PKI yang marak.

Di sisi lain, Partai Komunis Cina (PKC) sudah “bersilaturahmi” akrab di Istana bersama Presiden Joko Widodo. Kader partai dikirim dan dibina ke dan oleh PKC. Aparat penegak hukum kabarnya juga “sekolah” di Beijing. Betapa eratnya hubungan PKC dengan petinggi negeri ini.

Tiga Aspek Penting

Sayangnya, “Presiden Joko Widodo lebih menekankan bahaya Radikalisme daripada Komunisme. Tanpa bisa mengangkat bukti apa, siapa dan bagaimana Radikalisme yang dimaksud. Sementara Komunisme lebih mudah dilihat dan dibuktikan ancamannya,” jelas Rizal.

Sikap menganggap enteng kebangkitan PKI dan Komunisme ini, menurut M Rizal dapat dianalisis dari tiga aspek.

Pertama, memang petinggi negara itu tidak tahu bahwa PKI telah melakukan infiltrasi ke Pemerintahan. Pembisik “orang PKI” telah berhasil meninabobokan dan meyakinkan tidak adanya gerakan komunisme. Pembodohan tingkat tinggi telah terjadi. Dahulu pun sekelas Bung Karno saja masih bisa “dibodohi” dan dipengaruhi.

Kedua, memang figure-figur inti negara ini adalah bagian dari jaringan kolaborasi dan konspirasi. Mencoba meredam publik seolah tak ada kebangkitan PKI. Hal ini agar reaksi dan kekhawatiran dapat diantisipasi dan ditutupi. Dengan menganggap enteng masalah PKI dan Komunisme, maka masyarakat diharapkan menanggapi isu yang berkembang itu sekadar isapan jempol. Komunis adalah gerakan bawah tanah. Operasi senyap.

Ketiga, ada semangat baru untuk mengkristalisasi tiga kekuatan aliran politik yaitu nasionalis, agama dan komunis (Nasakom). Nasakom ingin dihidupkan kembali dan jika ada dari kalangan agama yang menentang agenda ini akan masuk dalam kategori “Islam Sontoloyo”.

 “Sekali lagi, waspadai kebangkitan PKI dan penyebaran paham Komunisme. Hentikan kepemimpinan yang memberi peluang. Jika berlanjut, umat dan rakyat mesti bersiap membentuk front-front perjuangan anti PKI dan Komunisme. Anak cucu kita semua yang tengah kita selamatkan dari bahaya dan kejahatan Komunisme,” tutupnya. (mky,net)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.