
CATATAN NENER ROMADLON SUKARDI: Wawancara Imajiner dengan Abah Hasyim Muzadi
KONON, NU itu seperti kapal raksasa: Badannya pesantren, mesinnya jama’ah, nahkodanya ulama. Masalahnya, setiap kali ombak politik datang, selalu ada yang sibuk ribut soal siapa pegang kemudi, bukan ke mana kapal hendak berlayar.
Di sinilah Abah Hasyim Muzadi sering nyeletuk dengan senyum separuh serius, separuh guyon: “NU itu jangan kebanyakan gaya, nanti lupa arah.” Sebuah kritik halus, tapi pedasnya menempel lama di lidah sejarah.
Dalam banyak ceramahnya—di kampus, pesantren, hingga forum internasional—Abah Hasyim konsisten menyebut NU sebagai kekuatan peradaban, bukan sekadar organisasi.
NU baginya adalah pabrik akhlak, laboratorium toleransi, dan mesin pendingin konflik bangsa. NU besar di akar, kuat dinilai, dan luwes di dunia global. Kalau NU hanya sibuk urusan struktural, kata Abah, itu seperti orang kaya yang bangga pada brankas tapi lupa isinya, kosong.
Strategi Abah, memang sederhana, tapi kelas dunia: Memperkuat SDM umat, bukan memperbanyak spanduk. Mengirim kader NU ke panggung internasional, tapi tetap berpijak pada tahlil kampung. Mengajarkan nasionalisme tanpa kehilangan tauhid, mengajarkan Islam rahmatan lil ‘alamin tanpa minder di hadapan dunia. NU, menurut Abah, harus hadir sebagai penjaga Indonesia dan juru damai global, bukan penonton ribut di grup WhatsApp sendiri.
Namun, Abah juga dikenal paling alergi pada konflik internal yang diumbar ke publik. “Beda pendapat itu vitamin,” katanya. “Tapi, kalau overdosis, jadi racun,” tambahnya suatu ketika.
NU boleh berdebat, tapi jangan saling menjatuhkan. NU boleh berbeda, tapi jangan kehilangan adab. Bagi Abah, konflik elit yang berlarut-larut itu ibarat orang dewasa berebut mainan anak-anak—ramai, memalukan, dan tak mendidik siapa-siapa.
Dari kegelisahan itulah catatan ini ditulis. Bukan untuk menghakimi, apalagi menggurui, tapi untuk bercermin. Melalui sebuah wawancara imajiner, Abah Hasyim Muzadi kami hadirkan kembali—dengan bahasa khasnya: Serius tapi lucu, tegas tapi nguwongke, nasionalis tapi santri. Dari sini, percakapan dimulai: Tentang NU, konflik, sejarah, masa depan, dan satu pertanyaan sederhana yang selalu menghantui—NU ini sedang bertengkar demi umat, atau umat yang jadi korban pertengkaran?
Nener: Abah, PBNU sekarang kok karut-marut. Rais Aam dan Ketua Umum seperti dua rel kereta yang sama-sama lurus tapi tak mau bertemu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Abah Hasyim Muzadi: (Ngrokok imajiner, tersenyum tipis) “Wahai Nener… konflik NU itu bukan barang baru. Yang baru itu cara ributnya. Dulu berbeda pendapat, sekarang berbeda kepentingan. Dulu debatnya di forum, sekarang adu narasi di publik. Ini bukan bahtsul masail, ini bahtsul masya’il—yang dibahas masalah, tapi yang muncul malah masalah baru.
Nener: Ini mirip masa lalu, Bah?
Abah: “Persis. Kamu ingat Muktamar Makassar? Itu NU seperti panggung wayang tapi dalangnya banyak. Presiden ikut nimbrung, menteri ikut cawe-cawe, Kapolri, Panglima TNI, semua turun gunung. Operatornya? Ya ada lah… namanya juga sejarah, kadang ditulis, kadang disembunyikan. Waktu itu Rais Aam dan Ketua Umum ‘dipaketkan’. NU kalah cepat dari logistik dan lobi. Tapi masih bisa adem karena para kiai sepuh menahan diri. NU diselamatkan oleh tirakat, bukan oleh teriakan.”
Nener: Lalu Muktamar Jombang di alun-alun?
Abah: (Nada berubah, serius tapi tetap nyeletuk) “Itu lebih rame lagi. NU seperti pasar malam—lampunya terang, tapi arah pulang orang bingung. Gus Solah dan saya sudah bilang sejak awal: yang merusak tatanan muktamar, suatu hari akan pecah kongsi. Dan itu hukum sosial, bukan ramalan kiai. Orang yang membangun koalisi tanpa keikhlasan, akan bubar oleh kepentingan. Wong membangun rumah di atas pasir ya ambruk, meski catnya mahal.”
Nener: Abah, sekarang yang berkonflik justru mereka yang dulu ada di lingkar kekuasaan muktamar itu…
Abah: “Lha iya. Makanya jangan heran. NU itu organisasi ulama, bukan organisasi siapa kuat dia dapat. Kalau Rais Aam dan Ketua Umum bertengkar terbuka, itu tanda keduanya gagal menjaga marwah jam’iyyah. Pemimpin NU itu tugasnya ngemong, bukan ngotot. Kalau sama-sama merasa paling benar, itu bukan kepemimpinan, itu ego kolektif.”
Nener: Ada yang bilang akar konflik ini soal tambang, Bah?
Abah: (Tertawa kecil) “NU itu tambang akhlak, bukan tambang nikel. Kalau NU ngurusi tambang, yang ditambang duluan itu kesabaran jama’ah. Ulama itu tugasnya menerangi, bukan menggali. Kalau sudah rebutan pendapatan, jangan bawa-bawa dalil. Dalil itu untuk membimbing umat, bukan untuk membenarkan nafsu.”
Nener: Abah, kenapa konflik sekarang terasa lebih kasar dan memalukan?
Abah: “Karena hilang satu hal: malu kepada jama’ah. Jama’ah NU di desa tetap tahlilan, yasinan, istighotsah—tanpa peduli siapa Rais Aam dan siapa Ketua Umum.
Yang ribut elitnya, yang istiqamah akarnya. Ini ironi. NU besar karena bawahannya ikhlas, tapi kadang pengurusnya kehabisan ikhlas.”
Nener: Andai Abah masih hidup dan memimpin (kembali) NU, apa yang Abah lakukan?
Abah: “Sederhana. Yang ribut disuruh ngopi bareng, bukan konferensi pers. Kalau masih ribut, disuruh istirahat dari jabatan, bukan tambah jabatan. NU itu bukan soal menang-kalah. Kalau ada yang menang dan ada yang kalah, yang kalah itu NU.”
Nener: Terakhir, Abah… NU ini ke depan bagaimana?
Abah: “NU akan tetap selamat. Tapi mungkin tidak semua elitnya ikut selamat secara sejarah. Ingat, wahai para Nener… Orang bisa besar karena NU, tapi NU tidak pernah bergantung pada orang. NU itu diwarisi oleh orang-orang yang ikhlas, bukan dikuasai oleh orang-orang yang licin.”
Abah tersenyum. Saya terdiam. Di luar, jama’ah kampung tetap melantunkan shalawat.
NU tetap hidup—meski para elitnya sedang sibuk berdebat tentang siapa yang paling berhak memegang mikrofon.(*)







































