SURABAYA | duta.co – Seluruh warga nahdliyin, tentu, berharap PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) ke depan harus kuat dan bermartabat. Dengan demikian, keberadaan jamiyah NU akan memberikan banyak manfaat kepada umat. Bukan PBNU yang tercerai-berai apalagi menyimpan konflik berkepanjangan. “Muktamar ke-35 NU nanti harus menjadi pintu masuk PBNU untuk berbenah,” demikian harapan Yusuf Hidayat alias Gus Usuf, alumni PP Tebuireng, Jombang kepada duta.co, Rabu (15/4/26).

Menurut sarjana FISIP UNDAR (Universitas Darul Ulum) Jombang ini, apa yang disampaikan Prof Dr Ir  KH Mohammad Nuh, DEA, Rais Syuriyah PBNU mesti menjadi renungan bersama. “PWNU Jawa Timur memiliki beban moral yang tinggi untuk ‘menyelamatkan’ keberadaan NU di abad kedua. Pandangan atau masukan kader NU Jawa Timur menjadi penting dibahas dalam Konbes atau Munas Alim Ulama yang berlangsung bulan ini,” tegasnya.

Ia kemudian merujuk hasil Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jawa Timur di Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Kabupaten Tuban, Sabtu dan Minggu (12/04) kemarin. “Apa yang disampaikan Prof Nuh, bahwa, saat-saat ini PBNU perlu pandangan genuine original yang berasal dari keluarga besar NU. Ini sangat tepat. Di pundak kader NU Jawa Timur, masa depan jamiyah NU harus terbangun dengan baik dan benar,” katanya.

Apalagi, tegasnya, Muktamar ke-35 NU ini  berada di akhir abad pertama dan awal abad kedua. Ini persoalan serius. Dalam fase 100 tahun, harus menjadi miqot bagi NU untuk membumikan kembali ruh perjuangan muassis NU. “Apa yang disuarakan PWNU Jatim, tentang pentingnya kembali ke Qanun Asasi karya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari sebagaimana disampaikan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) Pengasuh Pesantren Tebuireng juga Ketua PWNU Jatim, sangat urgen,” terangnya.

PWNU Jawa Timur, tambahnya, dalam kepemimpinan Gus Kikin, tampak lebih memberikan manfaat kepada umat. Jauh dari pertikaian internal. Jamiyah NU tampak lebih kompak, guyub, menyatu dengan umat. Bangunan silaturrahim terlihat kokoh dan kuat. “Gus Kikin ini harus kita ‘tangisi’ agar berkenan menata NU ke depan. Kalau kita gagal menyambung, maka, ruh perjuangan muassis (pendiri) NU tidak bisa mengalir ke jamaah. Sangat setuju dengan Prof Nuh. Di situlah PWNU Jatim memiliki tanggungjawab moral yang jauh lebih tinggi, Muskerwil PWNU Jatim bisa ‘menggugah’ PBNU,” terangnya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry