(Nomor dua dari kanan) Pengasuh Pondok Pesantren Hamalatul Quran (PPHQ) Jogoroto KH Ainul Yaqin, SQ. (FT/MKY)

JOMBANG | duta.co – Pengasuh Pondok Pesantren Hamalatul Quran (PPHQ) Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur,  KH Ainul Yaqin, SQ, sangat prihatin menyaksikan kondisi masyarakat yang kian terpuruk. Apalagi informasinya, negara kita, Indonesia, tidak sedang baik-baik saja.

Dalam kondisi demikian, kita wajib mendesak Ormas Islam terbesar — NU dan Muhammadiyah – untuk berbicara. Jangan diam saja. “Kita harus dorong dua Ormas ini agar menjelaskan kondisi riil negara kita. Apakah republik ini baik baik saja, atau sedang sakit parah?“ jelas Mbah Yaqin, panggilan akrabnya, kepada kabarnahdliyin.com saat menghadiri acara pelepasan santri putri di PPHQ Putri (1) Jarakkulon, Kecamatan Jogoroto, Selasa (7/9) pekan kemarin.

Menurut Mbah Yaqin, ini penting kita lakukan agar keresahan masyarakat di tingkat bawah teratasi, sekaligus mencegah terjadinya perpecahan. Sebab, kabar yang sampai ke bawah, negara ini tidak sedang baik-baik saja, bahkan terkesan ‘salah urus’.

Banyak hal yang harus dijelaskan: Benarkah dana penanggulangan covid-19 itu sampai ribuan triliun rupiah? Untuk apa saja? Berapa utang luar negeri negara kita? Apakah benar sudah menembus angka 415 miliar dollar AS atau setara Rp 6.017 triliun per Mei 2021? Lalu ada kabar bahwa harta pejabat justru naik drastis? Lebih miris lagi kabarnya Menteri Keuangan RI sedang ‘sempoyongan’ sehingga harus memburu pajak sembako sampai pajak sekolah?

Dalam kondisi begini, rakyat Indonesia, terutama umat Islam hanya berharap kepada NU dan Muhammadiyah agar bersuara. Jangan diam saja. “Karena kedua Ormas ini memiliki legitimasi yang sangat kuat di masyarakat. Ini sangat penting untuk kita dengar,” tegasnya.

Masih menurut Mbah Yaqin, kalau kedua Ormas ini mau duduk bareng,  peduli masa depan Indonesia, maka, keduanya akan memberikan informasi yang akurat, benar dan tidak mengada-ada.

“Kita semua sangat percaya, bahwa, NU-Muhammadiyah itu menjadi kunci penyelesaian NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia red.),” terangnya.

Mbah Yaqin juga menyinggung sejumlah tokoh NU yang menjadi pejabat BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Termasuk Ketua Umum PBNU yang duduk sebagai Komisaris PT Kereta Api Indonesia. “Semoga ini tidak menggerus kecintaannya kepada masa depan Indonesia,” pungkasnya.

Pentingnya Kejujuran

Senada, Solikil Abadi, Ketua Perkumpulan Guru Taswirul Afkar (PGTA) Kabupaten Jombang, mendukung gagasan Mbah Yaqin untuk mendorong NU-Muhammadiyah segara duduk bareng menjelaskan kodisi negara. “Sangat bagus! Semua pasti mendukung gagasan ini. Apa yang beliau sampaikan, semata-mata demi bangsa dan negara,” kata Soliki Abadi.

Sementara H Achmad Rifa’i, pengacara senior asal Jombang yang namanya lebih terkenal di Jakarta, pun ikut mendukung ide Mbah Yaqin. Pengasuh Pondok Pesantren ‘Cinta Rosullullah’ tersebut, juga menekankan pentingnya kejujuran, di mana hal tersebut semakin langka di republik kita, Indonesia.

“Semua persoalan, kuncinya pada dialog dan kejujuran. Ini sudah sering saya katakan di mana mana, pentingnya kejujuran dalam dialog untuk menjelaskan kondisi (negara) yang sesungguhnya,” katanya. (mu,kabarnahdliyin.com)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry