Keterangan foto metrotv.com
“Batiniyah Jam’iyyah, Renungan Sejarah dan Nasihat Gus Dur untuk Akhiri Konflik PBNU.”

Catatan Pinggir ROMADLON SUKARDI*

KETIKA Struktur Lengkap, Tetapi Batin Jam’iyyah Gelisah. Itulah kondisi Nahdlatul Ulama hari ini. Padahal jam’iyah tidak sedang kekurangan apa pun dalam ukuran organisasi modern. Struktur lengkap. Jaringan luas. Sumber daya manusia melimpah. Akses kekuasaan terbuka.

Nama besar NU bergema dari kampung hingga forum global. Namun justru di tengah kelengkapan itulah NU diuji oleh sesuatu yang tidak tercantum dalam AD/ART, tidak bisa diukur dengan indikator kinerja, dan tidak bisa dimenangkan lewat konferensi pers: ketenteraman batin jam’iyyah.

Konflik yang mengeras di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama—antara Syuriyah dan Tanfidziyah—tidak lagi berhenti sebagai perbedaan tafsir organisatoris. Ia telah bergerak ke wilayah yang jauh lebih sunyi dan sensitif: kepercayaan warga, otoritas moral ulama, serta etika kepemimpinan jam’iyyah.

Di banyak forum warga NU, pertanyaan yang mengemuka bukan lagi, “siapa yang benar?” Melainkan pertanyaan yang lebih dalam dan lebih menggetarkan: “NU ini sedang dibawa ke mana, dan atas nama apa?”

Pada titik kegelisahan inilah ingatan kolektif warga NU selalu kembali kepada satu nama. Bukan untuk dijadikan stempel legitimasi. Bukan pula untuk menghakimi pihak mana pun. Melainkan sebagai cermin kejujuran, keberanian moral, dan kejernihan nurani. Namanya: KH Abdurrahman Wahid—Gus Dur.

NU sebagai Peristiwa Batin Sejarah

Sering, kami berkesempatan untuk mewawancara Gus Dur, baik di Kantor PWNU Jl Raya Darmo Surabaya, maupun di tempat-tempat acara. Hari ini, kami sangat rindu dengan pemikiran Gus Dur. Berikut ini kami tampilkan Wawancara Imajiner antara Romadlon wartawan Majalah AULA/Duta Masyarakat  bersama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di suatu tempat yang penuh kehangatan, kelembutan,  keindahan, kesyahduan, penuh nuansa kebahagiaan dan kedamaian serta keheningan, tentang kondisi NU akhir-akhir ini.

Wartawan: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sugeng Gus. Jika Gus Dur menyaksikan konflik PBNU hari ini, apa yang pertama kali panjenengan rasakan?

Gus Dur: (tersenyum kecil, sambil menghela nafas besar lalu terdiam sejenak) Saya sedih. Bukan karena NU konflik—NU dari dulu gudangnya beda pendapat. Kalau NU sepi perdebatan, justru patut dicurigai.

Yang membuat saya sedih adalah karena NU sekarang terlalu cepat bicara dan terlalu lambat mendengar batin warganya. NU itu rumah besar. Kalau pengurus ribut di ruang tamu, jamaah di dapur bisa kehilangan selera makan. Bukan karena masakannya tidak enak, tapi karena suasana batinnya panas.

Tambang, Kekuasaan dan Retaknya Kepercayaan

Wartawan: Gus, konflik ini sering dikaitkan dengan isu tambang dan sumber daya alam. Bagaimana panjenengan melihatnya?

Gus Dur: Tambang itu urusan hajat hidup orang banyak. Bukan sekadar izin, bukan hanya angka, apalagi bagi-bagi posisi. NU boleh bicara ekonomi. Bahkan NU wajib memperjuangkan keadilan ekonomi. Tetapi haram hukumnya NU kehilangan kompas moral. Kalau NU terlihat menukar doa dengan konsesi, yang runtuh bukan struktur organisasi, melainkan kepercayaan umat. NU itu bukan perusahaan holding. NU itu penjaga nurani bangsa.

Ulama, Anak Kesayangan, dan Etika Kekuasaan

Wartawan: Bagaimana pandangan Gus Dur terhadap Ketua Umum PBNU dan Rais ‘Aam Syuriyah PBNU hari ini?

Gus Dur: (tersenyum lebih lebar) Anak pintar itu ujiannya paling berat. Kepintaran tanpa eling bisa berubah menjadi kesepian di puncak. Saya tidak pernah melarang NU bergaul dengan siapa pun. Tetapi NU harus ingat satu hal: kalau terlalu dekat dengan kekuasaan, jarak dengan rakyat kecil jangan sampai terputus.

Tentang Rais ‘Aam, saya ingin menegaskan: ulama boleh tegas, tetapi tidak boleh kehilangan welas asih. Kalau keputusan lahir dari rasa benci, itu bukan fatwa—itu amarah yang disucikan.

Gus Dur: Saya menangis ketika mendengar kabar adanya pengurus NU menerima suap. (Gus Dur berkata dengan suara bergetar:) “Saya masih bisa menerima kalau jabatan presiden dikomersilkan. Tapi saya tidak bisa menerima NU dikomersilkan. Karena NU ini bikinan kakek saya.”

(Saya melihat kata-kata nada  Gus Dur tersebut  bukan sekadar pernyataan politik. Tapi, itu ratapan seorang cucu kepada amanah sejarah).

Jalan Keluar: Islah sebagai Keberanian Moral.

Wartawan: Gus, apa jalan paling bijak untuk mengakhiri konflik ini?

Gus Dur: Turunkan ego, bukan sekadar menurunkan tensi. Islah itu bukan foto bersama. Islah itu keberanian mengakui kesalahan dan luka. Kembalikan NU ke khittahnya: Syuriyah memimpin arah ruhani. Tanfidziyah melayani kerja organisasi.

Kalau perlu, lakukan: Istighotsah nasional yang sungguh-sungguh, musyawarah tertutup para kiai sepuh, dan moratorium konflik—hentikan saling pecat dan saling curiga. NU itu besar karena sabar, bukan karena viral.

NU di Tengah Dunia Digital dan Perubahan Ekstrem

Wartawan: Apa pesan Gus Dur posisi NU di tengah derasnya perubahan teknologi informasi, perubahan iklim, bencana alam, dan dunia digital yang riuh?

Gus Dur: Saya berpesan: NU harus bergerak cepat, tetapi jangan sampai kehilangan jiwanya. NU memiliki tiga modal besar: jaringan sosial yang kuat, legitimasi moral ulama, dan kedekatan dengan *wong cilik*. Jika NU ikut berisik di media sosial, maka NU harus lebih khusyuk lagi berdoa di langgar-langgar kecil.

Wartawan: Matur nuwun sanget Gus Dur atas kesediaan waktunya untuk berbincang ringan tebtan NU. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Gus Dur: Sama-sama. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.(*)