Kondisi sungai Welang saat air sungai sedang normal. (foto/duta/abdul aziz)
PASURUAN | duta.co  – Banjir yang beberapa kali terjadi sejak sebulan ini akibat meluapnya sungai Welang yang membelah Kabupaten dan Kota Pasuruan, hingga merendam ribuan rumah dan ratusan hektar sawah di tiga kecamatan yakni Pohjentrek, Kraton, Kabupaten Pasuruan dan Gadingrejo, Kota Pasuruan,  dikeluhkan warga yang berada di bantaran sungai tersebut.
Sebagian besar warga mengeluhkan, lantaran sungai Welang yang berada
di batas kedua daerah ini, sebelumnya sudah diupayakan normalisasi. Namun, sayangnya upaya tersebut seakan tidak ada gunanya. Banjir tetap merugikan warga. Sehingga mereka berharap agar normalisasi sungai yang kerap timbulkan banjir disaat musim hujan, dioptimalkan dan tak hanya sebatas formalitas saja.
Saat musim kemarau, sungai Welang ini sudah dikeruk menggunakan alat berat. Pengerukan dilaksanakan hingga beberapa bulan. Tapi anehnya, pada musim hujan tiba, perkampungan kami masih terendam banjir. Ini terjadi seminggu bisa tiga kali. “Air sungainya naik dan meluber, ”papar Samsul Hadi, warga Dusun Bulu, Desa Tambakrejo, Kecamatan Kraton, Jumat (1/12/2017).
Ia bersama warga lainnya hanya berharap kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur  kembali melakukan upaya maksimal terhadap sungai Welang secara tepat. Sebab, dengan normalisasi setidaknya bisa meminimalisir banjir tahunan yang melanda pemukiman warga sekitar sungai Welang. Warga hanya berharap agar pemerintah tak setengah-setengah dan agar warga di bantaran sungai terbebas banjir.
Sekadar diketahui kalau terjadi hujan  dengan insensitas tinggi di bagian hulu yakni wilayah bagian selatan Kabupaten Pasuruan, mampu merendam ribuan rumah warga di enam Kecamatan di Kabupaten dan Kota Pasuruan. Banjir tersebut terjadi akibat meluapanya sungai Welang, Kecamatan Kraton, Petung, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan dan Kedunglarangan, Bangil.
Pengakuan seorang warga asal Kelurahan Karang Ketug, Kecamatan Gadingrejo, Abdullah mengatakan setiap musim penghujan, ia bersama keluarganya cemas. Meski kondisi rumahnya sudah ditinggikan. Sebab, banjir datangnya tidak bisa diprediksi. “Di musim penghujan seperti ini, saya sangat ekstra waspada dengan kondisi air banjir yang tidak menentu, ”tandas bapak tiga orang anak ini. (dul)
Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry