Suharmono K  – Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

ALI AKBAR Navis atau A.A. Navis adalah sastrawan Indonesia kelahiran Padang Panjang umatera Barat yang karya-karyanya monumental dan religius. Karya-karyanya yang sering mendapat apresiasi adalah cerpen “Robohnya Surau Kami” dan novel yang berjudul Kemarau.

Karya-karya A.A. Navis termasuk kategori karya-karya yang religius. Dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”, menggambarkan surau yang tidak terurus hingga roboh.  Mushola, langgar, surau atau masjid yang dibangun oleh masyarakat dewasa ini  kian hari kondisinya semakin baik, juga pelayanan terhadap jamaah.

 Saat ini banyak masjid yang menyediakan takjil di bulan puasa, atau makanan selepas sholat Jumat. Namun tidak demikian surau dalam cerpen A.A. Navis yang berjudul “Robohnya Surau Kami”. Mengapa seperti itu?

Itu gara-gara tokoh yang bernama Ajo Sidi, yang bercerita kepada Kakek yang setia merawat surau. Kakkek itu hidupnya dicurahkan untuk surau. Ajo Sidi bercerita kepada Kakek ada  seorang bernama Haji Saleh yang telah meninggal dunia.

Ketika di akhirat diperiksa dosa-dosanya ia busungkan dada, senyum-senyum saja, karena yakin akan masuk surga.Haji Saleh mengatakan tidak ada pekerjaannya di dunia  selain beribadat menyambah Allah, menyebut-nyebut nama-Nya.

Ketika ia sakit nama Allah menjadi buah bibirnya juga. Ia selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Nya. Tetapi hawa panas neraka justru melibasnya. Ia menangis. Malaikat pun menjewer masuk  ke neraka.

Haji Saleh tidak habis mengerti mengapa dimasukkan ke dalam neraka, maka ia berusaha menghadap Allah SWT.  Dan ia mendapat serentetan pertanyaan seperti ini: Kalian di dunia  tinggal di mana. Di negeri yang tanahnya subur itu? Tanahnya yang maha kaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya bukan?

Di negeri di mana penduduknya sendiri melarat. Negeri yang lama diperbudak orang lain? Hasil tanahmu mereka yang mengangkutnya  dan diangkut ke negerinya bukan? Di negeri yang selalu kacau hingga kamu dengan kamu selalu berkelai? Engkau rela tetap melarat bukan?

Semua pertanyaan itu dijawab dengan “ya” , dan “benar Tuhanku”. Namun demikian Haji Saleh masih berkilah. “Sungguh pun anak cucu kami  itu melarat, tetapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala,” kata Haji Saleh.

 “Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan? Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua.Sedang harta bendamu kaubiarkan  orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Engkau  lebih suka berkelahi anatara kamu sendiri, Saling menipu, saling memeras….”

Cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis baik untuk pembelajaran karakter yang dicanangkan pemerintah saat ini. Ada delapan belas nilai  dalam pengembangan pendidikan budaya  karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas.

Delapan belas nilai karakter itu ialah: Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja  keras, kratif,  mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab.

Unsur religius dalam cerpen Robohnya surau kami tampak pada sikap Haji Saleh bahwa kitab suci hanya sekedar dihafal, tidak dihayati dan diamalkan sebagaimana mestinya.

Cerpen itu mengajak masyarakat agar menghayati dan mengamalkan kitab suci. Apa yang disebut Haji Saleh dalam kitab suci  tidak dimasukkan ke dalam hatinya.

Seharusnya sebagai seorang muslim Haji Saleh jujur dan toleransi, tetapi lebih suka berkelai antar sesama, saling menipu, dan saling memeras. Kondisi itu ada pada Haji Saleh dan masyarakatnya.

Nilai karakter toleransi, jujur, disiplin, dan kerja keras tampak dalam dialog Haji Saleh dengan Alllah SWT, “Dan engkau lebih suka berkelai antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas.”

Dari kutipan ini tampak sekali perlunya toleransi, tidak berkelai antar sesama, jujur tidak saling menipu dan memeras, dan bekerja keras tidak malas, cinta damai, peduli sosial dan tanggung jawab.

Kesalahan yang fatal bagi Haji Saleh seperti yang dikatakan Malaikat kepada Haji Saleh  bahwa ia egois terlalu mementingkan diri sendiiri sehingga melupakan anak, isteri, dan masyarakatnya seperti kutipan berikut, “Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri.

Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tetapi kau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya.

Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya., tapi engkau tak mempedulikan sedikit pun.”

Ada pendapat bahwa sastra hendaknya  mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur. Melalui cerpen “Robohnya Surau Kami” A.A. Navis  telah memberi pelajaran yang berharga bagi pembacanya dengan cerpennya ini.

Cerpen ini cocok untuk anak-anak yang tengah menempuh pendidikan di tingkat SMP, SMA, maupun mahasiswa. Juga bisa menjadi bahan perenungan bagi masyarakat agar dapat menjalankan syariat agama dengan baik. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry