Oleh Bey Arifin*

SETIAP Agustus, merah putih memenuhi ruang publik. Gang-gang kampung dihias, perlombaan digelar, panggung hiburan didirikan, dan masyarakat berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan.

Semua itu wajar. Kemerdekaan memang layak dirayakan. Ia merupakan buah perjuangan panjang, pengorbanan darah, air mata, dan doa para pendahulu bangsa.

Bagi seorang Muslim, kemerdekaan juga merupakan nikmat Allah SWT. Karena itu, memperingatinya semestinya menjadi momentum untuk bersyukur.

Namun, di sinilah pertanyaan kritis perlu diajukan: apakah setiap bentuk perayaan kemerdekaan otomatis merupakan bentuk syukur?

Tidak.

Syukur bukan hanya soal niat. Syukur juga menyangkut cara. Nikmat Allah harus digunakan untuk sesuatu yang diridhai-Nya.

Karena itu, ketika sebuah perayaan kemerdekaan diisi dengan perjudian, minuman keras, pergaulan bebas, tontonan yang melanggar kesopanan, atau kegiatan yang menyebabkan kewajiban agama ditinggalkan, kita patut bertanya: di mana letak syukurnya?

Jangan sampai kita menggunakan nikmat Allah untuk melakukan sesuatu yang justru bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan-Nya.

Nasionalisme Bukan Kartu Bebas Syariat

Kita perlu membedakan antara kemerdekaan sebagai nikmat dan cara merayakan kemerdekaan.

Kemerdekaannya adalah sesuatu yang patut disyukuri. Tetapi cara memperingatinya tetap harus tunduk pada norma agama dan akhlak.

Label “Agustusan” tidak otomatis membuat semua kegiatan menjadi halal.

Perjudian tetap perjudian meskipun dibungkus sebagai lomba.

Minuman keras tetap haram meskipun disajikan dalam pesta kemerdekaan.

Kemaksiatan tetap kemaksiatan meskipun dilakukan dengan alasan “memeriahkan suasana”.

Inilah prinsip yang sering terlupakan: tujuan yang baik tidak menghalalkan cara yang buruk.

Islam tidak anti-kegembiraan. Masyarakat boleh bersenang-senang, berolahraga, mengembangkan seni, mengadakan perlombaan, dan mempererat silaturahmi.

Tetapi kegembiraan harus memiliki batas.

Sebab kebebasan tanpa kendali bukan kemerdekaan. Ia dapat berubah menjadi kekacauan.

Merdeka Bukan Berarti Bebas dari Nilai

Kemerdekaan tidak pernah berarti bebas dari seluruh aturan. Justru masyarakat yang merdeka membutuhkan aturan agar kebebasan tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan.

Bagi seorang Muslim, kebebasan juga harus berjalan bersama iman, takwa, dan akhlak.

Kita boleh menentukan pilihan, tetapi harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

Kita boleh bergembira, tetapi tidak boleh merugikan orang lain.

Kita boleh membuat acara, tetapi tidak boleh mengabaikan kewajiban agama.

Kita boleh melestarikan tradisi, tetapi tradisi tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan kemaksiatan.

Dari Euforia Menuju Syukur

Peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi lebih dari sekadar pesta tahunan.

Ia harus menjadi momentum evaluasi: apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan?

Apakah pendidikan semakin baik? Apakah masyarakat miskin semakin terbantu? Apakah lingkungan semakin terawat? Apakah solidaritas sosial semakin kuat? Apakah generasi muda semakin berkarakter?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar seberapa meriah sebuah panggung hiburan.

Kemerdekaan seharusnya melahirkan kontribusi, bukan hanya konsumsi.

Masyarakat dapat merayakannya melalui santunan anak yatim, bakti sosial, donor darah, penghijauan, kegiatan olahraga, penguatan UMKM, perlombaan edukatif, pengajian kebangsaan, dan berbagai kegiatan yang memperkuat persaudaraan. Dengan cara itu, kegembiraan berubah menjadi kemanfaatan.

Tradisi Perlu Dirawat, tetapi Juga Ditimbang

Dalam tradisi Aswaja yang berkembang di lingkungan Nahdlatul Ulama, tradisi masyarakat tidak serta-merta harus ditolak.

Tetapi tradisi juga tidak boleh diterima secara membabi buta.

Ada prinsip penting: adat dan kebiasaan dapat dipertimbangkan selama tidak bertentangan dengan syariat dan tidak menimbulkan kemudaratan.

Karena itu, perayaan kemerdekaan harus ditempatkan dalam kerangka tersebut.

Yang baik dipertahankan. Yang mendatangkan maslahat dikembangkan. Yang mengandung kemudaratan diperbaiki.

Dan yang jelas bertentangan dengan syariat harus ditinggalkan.

Sikap seperti ini bukan berarti anti-kebudayaan. Justru inilah cara menjaga tradisi agar tetap hidup tanpa kehilangan arah moral.

Jangan Sampai Merah Putih Berkibar, tetapi Akhlak Memudar

Ada ironi yang harus kita hindari.
Merah putih berkibar di mana-mana, tetapi kepedulian sosial melemah.

Panggung kemerdekaan semakin megah, tetapi pendidikan anak-anak terbengkalai.

Acara semakin ramai, tetapi masjid semakin sepi.

Kita berbicara tentang jasa para pahlawan, tetapi lupa membangun karakter generasi penerus.

Tentu tidak semua perayaan seperti itu. Banyak pula kegiatan kemerdekaan yang sangat positif.

Tetapi kritik tetap diperlukan agar perayaan tidak kehilangan substansi.

Kemerdekaan terlalu mahal untuk dirayakan dengan cara yang merendahkan martabat bangsa.

Para pahlawan tidak berjuang agar kita menjadi bangsa yang bebas tanpa arah. Mereka berjuang agar Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat dan bermartabat.

Karena itu, penghormatan terbaik kepada mereka bukan sekadar seremoni.
Penghormatan terbaik adalah bekerja, belajar, menjaga persatuan, menegakkan keadilan, membantu sesama, dan menjaga moral bangsa.

Yang Penting Bukan Meriah, tetapi Berkah

Mungkin sudah waktunya slogan perayaan kemerdekaan kita ubah. Dari “yang penting meriah” menjadi “yang penting berkah.”

Bukan seberapa besar panggungnya, tetapi seberapa besar manfaatnya. Bukan seberapa mahal hadiahnya, tetapi seberapa kuat persaudaraannya. Bukan seberapa viral acaranya, tetapi seberapa lama kebaikannya bertahan.

Inilah cara menjadikan kemerdekaan sebagai pendidikan kebangsaan. Anak-anak boleh bermain. Remaja boleh berkompetisi. Masyarakat boleh bergembira.

Tetapi semuanya harus tetap berada dalam koridor agama, kesopanan, ketertiban, dan kemanusiaan.

Merdeka sebagai Bangsa, Tunduk sebagai Hamba

Pada akhirnya, kita perlu memahami satu hal sederhana. Indonesia boleh merdeka sebagai bangsa. Tetapi manusia tetap hamba Allah.

Kita boleh bebas dari penjajahan manusia. Tetapi tidak bebas dari pertanggungjawaban kepada Allah.

Kita boleh merayakan kemerdekaan dengan penuh kegembiraan. Tetapi jangan mengubah kegembiraan menjadi kemaksiatan.

Merdeka bukan berarti bebas dari syariat. Justru kemerdekaan memberi kita kesempatan untuk menjalankan kehidupan dengan lebih baik.

Maka mari kita kibarkan merah putih setinggi-tingginya, tetapi pada saat yang sama kita tegakkan pula akhlak setinggi-tingginya.

Sebab kemerdekaan yang sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan. Kemerdekaan yang sejati adalah kemampuan menggunakan kebebasan untuk membangun bangsa yang beriman, beradab, adil, sejahtera, dan bermartabat.

*BEY ARIFIN adalah Pemerhati NU dan Pengurus LKSPHK IKAPETE
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry