SURABAYA | duta.co – Fenomena kecemasan yang banyak dialami mahasiswa dan generasi Z (genzi)  belakangan ini menarik perhatian publik. Selama ini banyak genzi  lari ke kafe untuk menikmati secangkir kopi agar kecemasan itu sirna.
Dekan Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya,  Dr Diah Sofiah menjelaskan perbedaan mendasar antara rasa takut dan kecemasan. Rasa takut memiliki objek yang jelas, sedangkan kecemasan muncul terhadap sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak pasti. Ketidakjelasan inilah yang membuat kecemasan terasa lebih mengganggu secara psikologis.

“Kecemasan sebenarnya bentuk rasa takut, tetapi objeknya tidak spesifik. Justru karena tidak jelas, respons emosional menjadi lebih berat,” ungkapnya.

Dalam kajian psikologi, kecemasan terbagi menjadi dua jenis, yaitu state anxiety dan trait anxiety. State anxiety merupakan kecemasan situasional yang bersifat sementara, seperti menjelang presentasi atau pertemuan penting. Sementara itu, trait anxiety berkaitan dengan karakter kepribadian, ketika seseorang cenderung memandang lingkungan sebagai ancaman sehingga lebih sering mengalami kecemasan dalam berbagai kondisi.

Lebih lanjut, Dr. Diah memaparkan bahwa kecemasan melibatkan tiga komponen utama, yakni kognitif, fisiologis, dan perilaku. Pada aspek kognitif, kecemasan ditandai oleh kekhawatiran berlebihan, pikiran obsesif, serta distorsi kognitif seperti catastrophizing, yaitu kecenderungan membayangkan skenario terburuk. Dari sisi fisiologis, tubuh merespons melalui jantung berdebar, keringat dingin, hingga ketegangan otot. Sementara pada aspek perilaku, individu cenderung melakukan penghindaran terhadap situasi yang dianggap memicu kecemasan.

Meski sering dipersepsikan negatif, kecemasan sebenarnya memiliki fungsi adaptif. Berdasarkan hukum Yerkes-Dodson, tingkat kecemasan moderat justru dapat meningkatkan fokus dan kewaspadaan. Sebaliknya, kecemasan yang terlalu rendah menurunkan motivasi, sedangkan kecemasan yang berlebihan berpotensi melumpuhkan performa.

Dr. Diah juga menjelaskan konsep anxiety cycle atau siklus kecemasan. Siklus ini diawali oleh pemicu, kemudian muncul respons cemas dan ketidaknyamanan fisik, yang berujung pada perilaku penghindaran. Penghindaran memang memberi kelegaan sesaat, tetapi dalam jangka panjang justru memperkuat kecemasan karena individu tidak memperoleh pengalaman bahwa situasi tersebut sebenarnya dapat dihadapi.

Fenomena budaya ngopi di kalangan mahasiswa turut menjadi sorotan. Dr. Diah menilai kebiasaan ini kerap berfungsi sebagai misguided coping mechanism atau mekanisme koping yang kurang tepat.

Banyak mahasiswa datang ke kafe bukan semata mencari kafein, melainkan perubahan suasana dan distraksi dari kecemasan. Kafe dipersepsikan sebagai third place, ruang netral setelah rumah dan kampus, yang memberikan ilusi kontrol dan rasa aman. Namun, pola ini sering menjadi bentuk penghindaran terhadap tugas akademik, sehingga justru memperburuk kecemasan.

Dalam perspektif psikologi klinis, Dr. Diah menyinggung DSM-5 yang mencatat kondisi caffeine intoxication dan caffeine withdrawal sebagai gangguan yang perlu diwaspadai. Meskipun kafein tidak tergolong zat adiktif berat, konsumsi berlebihan tetap berpotensi memengaruhi kesehatan mental dan kualitas tidur.

Dr. Diah Sofiah berharap mahasiswa mampu memahami kecemasan secara ilmiah, mengenali pola perilaku yang tidak adaptif, serta mengembangkan strategi koping yang lebih sehat dan efektif dalam menghadapi tuntutan akademik maupun kehidupan sehari-hari. ril/lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry