KEDIRI|duta.co – Bukan hanya persoalan kapan bisa diijinkan mendirikan jamaah ibadah. Lalu permasalahan bantuan kepada warga tidak mampu di masa pandemi hingga jaminan dukungan bagi pelaku UMKM di Kabupaten Kediri. Disampaikan dalam acara pertemuan antara Calon Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana dengan jamaah Umat Katolik bertempat di Gubuk Lazaris, merupakan tempat usaha pertanian organik (Agro Ecology) berada di Desa Sambirejo Kecamatan Pare, Sabtu (24/10).

Selaku tuan rumah, Romo Jauhari menyampaikan pentingnya persatuan umat di Kabupaten diantaranya kemudahan dalam menjalankan ibadah. “Apalagi di masa pandemi, kami terpaksa tidak menggelar peribadahan untuk mematuhi protokol kesehatan. Kemudian, meski jamaah kami sedikit namun hampir ada di setiap desa. Kami berharap mendapat dukungan untuk dimudahkan mendirikan ijin gereja,” ungkapnya dihadapan perwakilan para pengurus gereja se – Kabupaten Kediri.

Selanjutnya, kesempatan Mas Dhito sapaan akrab calon bupati menyampaikan gagasannya, bahwa sepenuh jiwa raganya untuk warga di Kabupaten Kediri. “Bahwa tidak saatnya Bupati harus dihormati warganya, namun sebaliknya Bupati yang harus menghormati warganya. Banyak contoh telah dilakukan seperti Presiden Jokowi, Gubernur Khofifah serta pemimpin lainnya,” ucap Mas Dhito. Bahwa antara Senin hingga Kamis, dia akan berkantor di balai desa dan siap mendengarkan aspirasi masyarakat.

“Kemudian pada Jumat, bapak ibu semua kami undang hadir di Pendopo Kabupaten dalam acara NGOPI, ngobrol menyerap aspirasi. Bahwa SILPA mencapai 524 Milyar membuktikan bahwa pemerintah tidak mampu mengoptimalkan penggunaannya kepada masyarakat. Seperti kebutuhan pupuk, mengawasi proses penanaman hingga membantu pemasaran hasil pertanian. Masih adanya permainan tengkulak jelas merugikan para petani,” tegas Mas Dhito.

Kemudian sebelum meninjau lokasi pertanian, Mas dhito memberikan solusi terkait kelangkaan pupuk. “Saya berani memberikan garansi dengan memakai pupuk organik. Minimal hasilnya sama daripada pupuk kimia, setidaknya akan dirasakan setelah dua tahun. Karena lahan sebelumnya harus didaur ulang sisa dari pemakaian pupuk kimia. Seperti cabe jika memakai pupuk kimia tidak akan diterima oleh PT. Indofood salah satunya. Hal ini sudah kami bantu komunikasikan dengan sejumlah perusahaan internasional demi membantu pemasaran hasil pertanian agar nilai jualnya bagus,” terangnya. (nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry