Oleh: Suparto Wijoyo*
PEMILU ini bagi nalar Cak Mispon mirip ladang Kurusetra setarikan pesan dalam tragedi Karbala. Lebih dari lima ratus orang mati atas nama demokrasi dan julukan sebagai Pahlawan disemat seolah-olah itu sudah lebih dari cukup. Ribuan orang “pengabdi pemilu” tercatat sakit dan ancaman kematian sungguh menerawangkan logaritma perhitungan. Kisah sedih dan lelehan tangis air mata keluarga serta handai taulan dianggap biasa saja sebagaimana orang menjemput takdirnya. Negara melalui kuasanya tampak membisu dan menikmati bencana ini sebagai festival prestasi yang selalu dicitrakan dengan mengunggah ucapan selamat dari negara-negara sahabat.
Dan pemanggul kekuasaan itu masih tersenyum dan sambil melemparkan sungging yang bermuatan sedikit sinis selaksa pemenang berkeabadian dalam ranah yang diyakini. Para dokter turun tangan dan menyuarakan gelisahnya atas tewasnya “pelayan demokrasi”. Ragam tuduhan menggelantung di langit-langit Nusantara dan agar kecurigaan tidak menjadi areal liar, sudah semestinya pemegang otoritas menyuarakan responnya secara humanis. Bukan soal pengajuan dan pengiriman santunan untuk memberikan tanda bahwa negara turut berduka atas masalah yang sebelum menimpa rakyat seharusnya dapat dicegah.
Semua ini semakin menyempurnakan jerit kegemparan atas tangis demokrasi yang sengaja dialirkan dengan bervariasi alibi agar kecurangan itu diterima selaksa kebenaran. Kebenaran atas kecurangan bukan sebangun dengan mencurangi kebenaran. Begitulah para kolega Mispon yang sangat berpengetahuan lumintu tetapi menggunakan kosakata yang sedemikian rupa sehingga apa yang dikemukakan sudah sangat menghentak bagi saya, kaum akademisi yang terkesan “membeo” informasi dari panggung kewenangan.
Kebenaran atas kecurangan bukanlah sesuatu yang mengusik sehingga kampus tetap saja asyik dengan jurnal-jurnal untuk kepangkatan yang harus diraih. Begitukah kapasitas intelelektual hari ini memasuki episode “sendiko dawuh” demi posisi dan fungsi netralitas ASN-PNS.
Ketahuilah bahwa akademisi itu adalah ASN-PNS yang memiliki kebebasan mimbar akademik untuk menyikapi realitas “nyawa yang melayang” dalam rumpun penyelenggaraan pemilu 17 April 2019. Pemilu yang menyorongkan kedamaian tetapi mencoba meminggirkan jurdil. Adakah ini bermakna silakan berdamai dengan ketidakadilan yang sudah sangat dirasa banyak orang, tetapi masih perlu dibuktikan dan selalu diserukan minta bukti sambil laporkan saja. Di sinilah olah rasa sudah tidak ada sebab yang ada adalah olah penggelembungan angka-angka walau Ramadan mengajarkan makna berpuasa.
Kondisi ini semakin nestapa di kancah internasional.  Kekejaman terus terhelat di Palestina tanpa mampu dihentikan oleh masyarakat internasional. Hukum-hukum yang dirumuskan oleh organisasi sekaliber PBB dibuat mandul, tumpul, dan hanya memenuhi laci-laci peradaban manusia. Asyik dipelajari di kampus-kampus dan diberitakan dengan senyaring-nyaringnya bahwa komunitas global sangat mengutuk tindakan zalim yang tidak terperikan.
Demonstrasi digelar di banyak aktivitas manusia yang masih menyisakan dalam hati sosialnya tentang keadilan. Semuanya terhenti dalam lembar sejarah penumpukan pasal-pasal yang digeluti kaum politisi dan yuris yang setiap saatnya menyimak tanpa jeda. Apakah itu semua menghentikan tindakan brutal Israel yang “diproklamasikan” negara pemilik suara kuat di PBB, bahkan menduduki kursi terhormat Dewan Keamanan?
Pengeboman itu setiap hari mengoyak tubuh kebangsaan Palestina yang pada mulanya adalah pemilik sah “tumpah darah” yang diklaim  Israel. Kemudian lembaran historis dapat dibaca ulang tentang asal usul pendirian Negara Israel yang mengusung  alasan memberi tempat “yang layak”  akibat derita yang selama ini dialami. Urusan Hitler dan pembantaian kaum Yahudi yang disorongkan dalam Peran Dunia di abad ke-20 itu harus ditebus oleh “kerumun politik” mondial dengan memberikan status kenegaraan pada Israel. Inggris-Prancis dan Amerika Serikat bersekutu mengerek tinggi-tinggi Israel dengan “menempatkannya” di tanah Palestina. Mengapa tidak di sebagian wilayahnya “negara promotor” kalaulah mereka itu hendak memberikan “permen perdamaian” demi kehormatan orang-orang Yahudi-Isreal?
Biarlah para pakar di bidang ini membuat pengkajian perlindungan bagi setiap nyawa warga Palestina. Adakah  warga  Palestina mengenyam HAM dan sampai di mana pejuang HAM memberikan  keberpihakan yang mampu menghentikan buldoser Israel. Ah… alas legalitas dapat dibuat guna mengabsahkan Israel,  persis selaksa sebuah negara berdaulat dapat dihancurkan dengan alasan yang sangat provokatif dan  kontroversial. Penghancuran Iraq, Afghanistan, Libya, dan bagaimana kini nasib pengungsi Rohingya. Adakah jerit tangis yang kian mengoyak itu biarlah tetap tersembunyi dalam kelambu dunia yang masih memulai mencari keadilannya?
Dalam deret hitung kasus-kasus itu ditambah adanya kegemparan “teror politik di Indonesia” untuk “menyelisik setiap tokoh”. Hal ini sangat kentara dengan luapan  yang sangat apresiatif dengan bukti  medsos yang dapat disaksi. Gerakan mengakui “kami yang berkuasa, lu mau apa” tentu tidak sepadan dengan berkibarnya duka pelaksana pemilu maupun nasib warga Palestina yang memang ada hubungan diplomatik. NKRI ini tidak mengakui negara Isreal.  Lantas,  pemanggul keamanan negara berbilang terang bahwa  semua harus aman-aman saja, termasuk menoleransi perasaan yang ‘nyesek’ di dada kibat salah input yang permanen.
Kalaulah demikian,  sudilah menjenakkan diri dan menyimpuh dalam hening, adakah itu baik terutama di saat-saat Ramadan seperti sekarang ini?  Selanjutnya saya harus menahan diri  layaknya orang berpuasa, saya dan Mispon tengah mengawali puasa di sepuluh hari pertama sekaligus hendak merawat niat agar tidak berkhianat terhadap kehidupan. Lagi poso jare.  Pemilu dalam bulan puasa ini handaknya jangan melahirkan  fenomena  ajang fitnah yang berkelanjutan dengan input yang terang-terangan tidak semestinya. Begitu yang terbaca dan orang berpuasa itu bisa ngajeni posone.  
* Sekretaris Badan Pertimbangan Fakultas Hukum & Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga.
 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry