SURABAYA | duta.co – Menarik! Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) membedah ‘modus’ kerusakan bumi dan cara mengatasinya. Diakui, belakangan, kepedulian akan kelestarian bumi, kian menipis.

Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) M Ali Yusuf, mengatakan, bahwa tugas manusia di bumi ini yang pertama adalah memakmurkan sekaligus mensejahterahkannya.

Hari ini, LPBINU berkonsentrasi terhadap sampah plastik. “Sampah plastik ini bahkan menjadi salah satu faktor penyebab utama dari kejadian bencana dan perubahan iklim,” demikian M Ali Yusuf saat ‘Ngaji Plastik’ di Aula Kampus UNUSIA (Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia) Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat, Rabu (15/5/2019).

Ali Yusuf juga mengutip Alquran surah Hud ayat 61. Artinya; “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya”.

“Nah! Kenapa di sini ada kata memakmurkan? Karena segala sesuatu yang mengganggu dan berpotensi merusak  bumi atau lingkungan itu harus kita hindari. Kalau itu berlawanan dengan mandat yang diperintahkan Allah,” tegasnya.

Kemudian, lanjutnya, ada juga ayat yang melarang kita untuk berbuat fasad. Ini penting. “Fasad di sini termasuk bahaya sampah plastik, jadi ketika sampah plastik dibiarkan ternyata dampaknya luar biasa bahkan akan meruntuhkan peradaban manusia, mengganggu kemanusiaan,” tambah Ali dalam sambutannya.

Untuk itu, LPBINU konsen pada isu perubahan iklim, khususnya sampah plastic. Karena ini menjadi salah satu faktor penyebab utama dari kejadian bencana dan perubahan iklim.

“Sudah kita ketahui, banyaknya bencana di Indonesia disebabkan kerusakan lingkungan, dan saya kira sampah menjadi salah satu penyebab dari kerusakan bumi itu, maka dsini sampah secara umum masuk dalam katagori fasad,” ungkapnya

Menurutnya, terkait dengan pengelolaan sampah, kita masyarakat Islam, terutama NU mengenal kesucian itu wajib, di pesantren kita sudah belajar ada bab yang namanya bab thoharah terkait kebersihan.

Atthohuru minal iman, kesucian bagian dari keimanan, kata thohuru ini sebenarnya memiliki makna lebih kompleks tidak hanya berarti soal fisik. Nah inilah kenapa PBNU perlu konsen dengan isu soal sampah khususnya sampah plastik,” paparnya

Ngaji Plastik yang bertema “Kajian Keagamaan Pantang Plastik” merupakan kerjasama LPBINU dengan Greenpeace Indonesia, dihadiri peserta dari komunitas urban di wilayah Jakarta, seperti millennials, ibu muda, dan siswa atau mahasiswa. (rls)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.