PASURUAN | duta.co – Luar biasa! Peserta Halaqah V Komite Khitthah 1926 Nahdlatul Ulama (NU)  yang berlangsung di PP Al-Taqwa, Cabean, Pasuruan, Sabtu 16 Februari 2019, bisa mendengar langsung taushiyah KH Tholchah Hasan sesepuh NU, yang terlibat langsung proses lahirnya keputusan Khitthah 26 NU melalui Muktamar 27 di Situbondo, Jawa Timur.

“NU ini (oleh pendiri red.) sudah diberi pakem, yaitu melayani umat, bukan menguasai umat,” demikian disampaikan KH Tholchah yang juga dikenal sebagai pendiri Universitas Islam Malang (UNISMA) di depan peserta halawah V KK-26 NU.

NU sebagai sarana atau alat untuk melayani umat Islam di Indonesia, bukan dijadikan alat untuk mengausai umat. “Melayani dan menguasai ini, tafsirkan sendiri, punya arti berbeda. Kalau melayani apa yang diberikan, sementara kalau menguasai apa yang bisa kami peroleh dari umat,” tegasnya.

Kiai Tholchah kemudian menjelaskan bagaimana kegelisahan warga NU yang terjadi pada tahun  1970-an. Hari ini, bisa jadi, sama, ada kegelisahan yang sama di mana NU tidak lagi berfungsi melayani, melain menguasai umat.

Masih menurut Kiai Tholchah, tahun 70an, ada kegelisahan yang merata, baik ulama sepuh maupun pemuda-pemudanya. “Mereka yang gelisah ini para aktivis NU yang kebanyakan tidak punya kedudukan di struktur NU. Tetapi orang-orang ini punya pikiran yang perlu didengar,” jelasnya.

Mereka ini mempertanyakan,  apa sih sesungguhnya yang menjadi keinginan dasar agar NU bisa melayani umat, sehingga umat punya keberdayaan. “Ternyata, intinya, kita harus melayani umat. Caranya? Dengan membuat pendidikan yang lebih bagus, kedua kesejahteraan yang lebih bagus, dan ketiga memberikan dakwah yang benar kepada umat,” tegasnya.

Jadi, masalah pentingnya pendidikan, kesejahteran dan dakwah ,ini sudah terpatri oleh para pendiri sejak 1926.

“Nah stelah itu, KH Achmad Shiddiq mengundang kamikami. Intinya apa yang harus dilakukan agar NU melanjutksn perjuangan. Maka dimunculkan kembali butir-butir utama dari perjuangan NU. Di rumah KH Achmad Shiddiq itu, hampir setiap minggu kami dipanggil,” tambahnya.

Tokoh-tokoh yang aktif mengikuti, seperti KH Muchit Muzadi, Kiai Tholhah (sendiri), Kiai Imron Hamzah, Kiai Wahid Zaini, dan lain sebagbainya. “Kita mendiskusikan, dan beberapa pikiran itu yang sudah ditulis Kiai Ahmad,” tambahnya.

Sampai akhirnya muncul buku kecil yang ditulis beliau, yaitu kembali ke Khitthah NU 26. “Dari situ kita berpijkir bagaimana mengembalikan NU sesuai dengan khitthah, sebagai pelayani (khodimul) umat. Di kalangan pemuda (saat itu) juga mulai terjadi kegelisahan, mungkin beda sebab, tapi sama tujuan,” tegasnya.

Tahun 70-an itu, warga NU merasa bahwa NU ditempatkan di wadah yang lebih kecil, PPP. Padahal, kekuatan atau kebesaran NU ini melebihi wadahnya, tidak akan mampu menampung PPP. Akhirnya meluber, ada yang ke Golkar, PDI, birokrat. “Karena kebesaran NU tidak bisa dijawab dengan satu wadah begini,” jelasnya.

Gerakan mengembalikan NU ke jalan yang benar terus dilakukan. Pemuda-pemuda NU berkumpul di Jakarta. Ada pertemuan kecil, seperti Gus Dur, Gus Fahmi kakak menteri agama dan KH Tholchah sendiri.

Apa yang sedang terjadi? Dari yang tua sampai yang muda sepakat. “Akhirnya sepakat pertemuan di Hotel HASTA, ada 25 orang dan ternyata semua sama, gelisah. Bagaimana caranya NU ini tidak terus menerus ‘diperkosa’, NU tidak bisa berbuat apa-apa. Seakan-akan yang di Golkar dan PDI tidak diakui NU-nya. Pejabat juga tidak diakui NU-nya.”

Kondisi ini menimbulkan penyadaran, dari 25 orang tadi dibentuk 7 panitia kecil. Ada Gus Fahmi, Pak Said Budairi, Pak Slamet Effendi Yusuf. Mereka ditugasi oleh kelompok 25 untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang telah diputuskan kepada masyarakat pecinta NU seluruh Indonesia. Akhirnya dikirimi semua.

Dalam satu tahun, pemikiran itu tersebar di seluruh Indonesia. Diundanglah seluruh daerah untuk Munas Alim Ulama. “Saya kebagian untuk bertemu KH As’ad Samsul Arifin, KH Masjkur (Malang), KH Mahrus Ali. Diluar dugaan, kata para kiai, apa yang anda rasakan, kami rasakan,” tegas Kiai Tholchah.

Berikutnya, karena KH Idham Cholid sebagai Ketum PBNU sudah 30 tahun, maka, perlu diberbarui, otoritas diselenggarakan Munas Alim Ulama. Bagaimana mengembalikan khitthah NU sehingga ke NU kembali ke jalur aslinya. “Maka, diiusulkan Munas, dan dilaksanakan di Asembagus, Situbondo.”

Semua pengagas jadi panitia. Ikut membantu mendiskusikan. Semua kiai sama, minta muktamar 27 digelar. “Kerja keras selama 1 tahun, tanpa anggaran, kecuali makan di PP Asembagus,” tegasnya.

Nah, Tahun 84, terjadi salah satu putusan penting kembali ke khitthah 26. Sempat kontroversi, ada istilah NU politik, NU khitthah. Maka, dibutuhkan sosialisasi dengan alasan rasional dengan data-data konkret.

“Kiai As’ad membuat istilah NU tidak ke mana-mana tetapi ada di mana-mana. Ini disampaikan di masjid pondok Asembagus. Intinya NU tidak menjadi pengikut khusus satu partai.”

Ketika NU khitthah, dampaknya luar biasa. Dari tahun 1984 s/d 1989 berdiri  52 Perguruan Tinggi. PT masuk desa. Muncul ibu-ibu muslimat dengan poli kliniknya, rumah sakit-nya. “Banyak berpikir kesejahteraan, saya mendirikan Unisma tahun 1982. Sekarang luar biasa. Dari 200 mahasiwa sekarang 16 ribu. Ini karena NU khitthah,” tegasnya.

“Saya menduga, bapak-bapak, kiai-kiai yang kumpul di sini, juga gelisah, sama dengan kami kami tahun 1970an. Kami juga menduga kiai kehilangan arah, gimana mengingatakan NU agar khitthah. Maka kita harus berjuang bagaimana NU ini sebagai pelayan umat bukan penguasa umat. Selamat berjuang untuk NU,” tegasnya sambil wanti-wanti agar perjuangan itu dilakukan dengan baik, bukan dengan MLB dan lain-lain.

Hadir KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), Prof Dr Ahmad Zahro , Choirul Anam (Cak Anam), Prof Dr Rahmat Wahab, Prof Dr Nasihin, KH Luthfi Basori (Gus Luthfi) Ketua Pelaksana Halaqah Komite Khitthah H Agus Solachul A’am Wahib (Gus A’am Wahib) yang notabene putra Menteri Agama RI ke-8 Almaghfurlah KH Wahib Wahab. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.