
Oleh Fahmi Arif El Muniry, Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak
MAHBUB Djunaidi adalah salah satu tokoh pers, sastra, politik, dan Nahdlatul Ulama yang menarik dalam sejarah intelektual Indonesia. Lahir di Jakarta pada 27 Juli 1933, ia dikenal sebagai wartawan, sastrawan, aktivis NU, politikus, serta Ketua Umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Di dunia pers, ia dikenang sebagai “Pendekar Pena”, karena tulisan-tulisannya tajam, jenaka, sekaligus dekat dengan kehidupan masyarakat.
Mahbub tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat tradisi keagamaannya. Ayahnya, KH Djunaidi, dikenal sebagai tokoh NU dan pernah menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1955. Dari lingkungan inilah Mahbub memperoleh pertemuan menarik antara tradisi keislaman, keberanian politik, dan kebiasaan berpikir kritis. Ia kemudian memasuki dunia jurnalistik dan menjadikan pena sebagai alat untuk membaca sekaligus mengoreksi kehidupan.
Salah satu karya pentingnya adalah Asal Usul, kumpulan kolom yang ditulis di harian Kompas sejak 23 November 1986 hingga 1995. Setelah Mahbub wafat pada 1 Oktober 1995, tulisan-tulisan itu dihimpun dan diterbitkan Kompas pada 1996, kemudian diterbitkan kembali oleh IRCiSoD dalam edisi 480 halaman. Karena ditulis hampir satu dasawarsa, Asal Usul dapat dibaca sebagai catatan panjang Mahbub tentang masyarakat, politik, kekuasaan, dan manusia Indonesia (Mahbub Djunaidi, Asal Usul, Kompas, 1996).
Kalau orang mendengar kata ngaji, yang terbayang kitab, kiai, santri, tikar, dan kopi. Kalau yang dikaji Asal Usul, kitabnya berupa kolom koran. Kiainya sudah lama wafat. Santrinya pembaca. Kopinya boleh tetap ada. Yang penting, jangan sampai kopi habis sebelum pikiran bekerja.
Mahbub memang enak dibaca sambil ngopi. Ia tidak menggurui. Perkara besar sering ia dekati melalui perkara kecil. “Parlemen”, “Musyawarah”, “Mandiri”, “Kampanye”, “Miskin”, “Warga Negara”, “Manusia Indonesia”, dan “Tenang” menjadi pintu untuk melihat persoalan yang lebih luas (Mahbub Djunaidi, Asal Usul, IRCiSoD, 2018).
Dari sini kita belajar bahwa berpikir tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang persoalan besar justru bersembunyi di balik kebiasaan sehari-hari.
Belajar Berpikir dari Tawa
Mahbub mempunyai senjata yang agak aneh untuk seorang pengkritik. Bukan kemarahan, melainkan humor. Ia membuat pembaca tertawa sebelum menyadari bahwa di balik kelucuan itu terdapat kritik. Humor baginya bukan hiasan tulisan. Ia merupakan cara memasukkan gagasan melalui pintu yang tidak dijaga ketat oleh pembaca.
Penelitian tentang rubrik Asal Usul menunjukkan bahwa Mahbub menggunakan humor dan satire untuk menyampaikan kritik sosial-politik, termasuk mengenai parlemen dan kondisi masyarakat pada masa Orde Baru (Fathia Nabila Qonita dan Raisye Soleh Haghia, “Menggelitik dengan Rubrik: Kritik Sosial Politik Mahbub Djunaidi dalam Rubrik Asal Usul Harian Kompas (1986–1994)”, HISTORIA, UPI, 2024).
Itulah kecerdikan Mahbub. Ia tidak selalu berkata, “Ini salah.” Kadang ia cukup membuat kita tertawa. Setelah tertawa, kita baru sadar bahwa yang lucu itu sebenarnya menyedihkan.
Kajian stilistika terhadap Asal Usul juga menunjukkan kuatnya perpaduan humor, satire, kritik sosial-politik, ironi, bahasa komunikatif, dan pertanyaan retoris dalam tulisan Mahbub (Fathan Rizki Efendi, Yahya Nur Fadillah, dan Dilfam Aldisya Ervani, “Gaya Bahasa dalam Kolom Asal-Usul Karya Mahbub Djunaidi: Kajian Stilistika”, al-ABSAH, 2025).
Dari Mahbub kita belajar bahwa kritik tidak harus berubah menjadi kebencian. Ia dapat mengkritik pemerintah tanpa membenci negara. Ia dapat mengkritik organisasi sendiri tanpa kehilangan kecintaan. Ia dapat menyentil orang lain tanpa menempatkan dirinya sebagai manusia paling benar.
Ini semakin penting hari ini. Kita hidup pada zaman ketika orang mudah marah. Baru membaca judul sudah berkomentar. Baru melihat potongan video sudah membuat kesimpulan. Baru berbeda pendapat sudah mencari musuh.
Mahbub mungkin akan tertawa. Tetapi ia juga akan mengajak kita berpikir. Sebab orang yang mampu menertawakan dirinya sendiri biasanya lebih sulit menjadi fanatik. Humor memberi jarak antara manusia dan kesombongannya sendiri. Dalam Humor Jurnalistik, Mahbub memperlihatkan bagaimana humor dapat menjadi bagian dari kerja jurnalistik sekaligus cara menyampaikan gagasan secara ringan dan tajam (Mahbub Djunaidi, Humor Jurnalistik, Diva Press, 2018).
Dari Pena ke Jalan Kehidupan
Mahbub tidak berhenti pada gagasan. Ia hidup di dalam organisasi, pers, politik, dan masyarakat. Karena itu, tulisannya selalu mempunyai hubungan dengan tindakan. Ia menunjukkan bahwa intelektual bukan hanya orang yang pandai menjelaskan keadaan, tetapi orang yang bersedia mengambil sikap terhadap keadaan.
Rubrik Asal Usul sendiri menunjukkan ketekunan tersebut. Mahbub menulisnya sejak 23 November 1986 hingga 8 Oktober 1995 dan menghasilkan 236 tulisan (NU Online, “Mengenal Mahbub Djunaidi, Sang Pendekar Pena”, 2022).
Ia wafat pada 1 Oktober 1995 di Bandung, dalam usia 62 tahun. Namun ada kisah yang membuat kepergiannya terasa sangat Mahbub. Ia pernah berpesan kepada anak-anak geng motor yang dekat dengannya agar ketika meninggal, jenazahnya dikawal dengan sepeda motor sampai makam. Permintaan itu benar-benar dilaksanakan. Jenazahnya diantar iring-iringan motor menuju pemakaman Assalam, Bandung (NU Online, “Mahbub Djunaidi, Nyali Penulis dan Bui Membayar Ongkos Demokrasi”, 2022).
Ada ironi yang indah. Seorang tokoh NU, wartawan, sastrawan, politikus, dan Ketua Umum pertama PMII tidak hanya diantar oleh tokoh resmi. Ia juga diantar anak-anak jalanan yang memanggilnya “Om Mahbub”.
Motor-motor itu akhirnya berhenti. Ambulans sampai di makam. Mahbub dimakamkan. Tetapi tulisannya tidak. Asal Usul tetap bisa dibuka. “Parlemen” masih dapat dibaca. “Musyawarah” masih dapat direnungkan. “Kampanye” masih dapat ditertawakan. “Miskin” masih dapat dipikirkan. Dan “Tenang” masih dapat menjadi nasihat bagi zaman yang terlalu gaduh.
Maka Ngaji Asal Usul Mahbub Djunaidi bukan sekadar membaca tokoh masa lalu. Kita sedang belajar cara melihat zaman, berpikir sebelum menghakimi, mengkritik tanpa membenci, tertawa tanpa merendahkan, dan bertindak tanpa kehilangan adab. Baca Mahbub. Tertawa. Berpikir. Bertindak. Sebab ngaji yang baik tidak berhenti pada pengetahuan. Ia berakhir pada perubahan sikap.(*)




































