BANTUAN : (ki-ka) Dr Agus Hariyanto, SpA (K), dr  Risa Etika,Sp A(K) dan dr Aminuddin Harahap, SpA saat memperlihatkan fasilitas di dalam mobil ambulance anak yang diberi nama Neonatal Emergency Transport Surabaya (NETS), Senin (8/4). DUTA/endang 

SURABAYA | duta.co – Penah tahu ambulance khusus bayi? Ternyata Surabaya memiliki ambulance bayi yang diberinama Neonatal Emergency Transport Surabaya (NETS).

Memang ini baru pertama dan satu-satunya dimiliki Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang disiagakan di RS Soewandi. Namun ke depan, akan ditambah menjadi lima unit yang akan disebar di seluruh kawasan.

Mobilnya sama dengan ambulance pada umumnya. Namun di dalamnya peralatan yang digunakan sangat canggih dan mahal. Ada incubator bayi lengkap dengan respirator dan perangkat lainnya.

Satu unit ambulance bayi ini memang tidak murah. Investasinya bisa mencapai Rp 3 miliar. Sehingga tidak semua rumah sakit mau menyediakan ambulance jenis ini. bahkan ini satu-satunya ambulance bayi di Jawa Timur.

 “Memang satu-satunya harus pemerintah yang menyediakan. Dan kami berterima kasih pada Pemkot Surabaya,” ujar penggagas NETS, dr Aminuddin Harahap, SpA yang juga Direktur RS Marinir Gunung Sari Surabaya.

Fasilitas NETS ini diperlihatkan saat ajang The Continuum of Care in Pre Eclampsia Mother  Imfant Child di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Senin (8/4).

Dikatakan dr Aminuddin, NETS ini sebenarnya implementasi dari kepedulian bersama antara Pemkot Surabaya dengan para tenaga medis, untuk menekan angka kematian ibu dan anak.

Selama ini, banyak kasus kelahiran yang menyebabkan kematian ibu dan anak di Surabaya khususnya.  Dari data yang ada kata dr Aminuddin, kasus kematian bayi di Surabaya sebesar enam bayi per mil.

Dari evaluasi yang dilakukan bersama, ternyata salah satu variable yang menentukan kematian anak terutama bayi usai dilahirkan adalah karena masalah transportasi. Transportasi yang mengantarkan bayi yang mengalami masalah menuju rumah sakit rujukan.

Sehingga ketika sudah sampai di rumah sakit rujukan, justru kondisi bayi masalah memburuk. “Semua itu karena fasilitas dalam kendaraan itu tidak sesuai dengan kondisi bayi,” tukas dr Aminuddin.

Selama ini transportasi yang digunakan untuk merujuk pasien bayi menggunakan ambulance biasa seperti yang digunakan pasien dewasa pada umumnya.

Kalau di ambulance biasa itu, ACnya terlalu dingin maka akan memperburuk kondisi pasien bayi itu di mana bayi mengalami hipotermia.

Sementara jika ambulance tidak menggunakan AC justru semakin memperburuk kondisi pasien bayi.

“Kalau di NETS, kita sudah atur semuanya. Suhu yang bagus buat bayi seperti apa. Peralatan yang dibutuhkan oleh bayi dan sebagainya. Sehingga ketika sampai di rumah sakit rujukan, kondisi bayi tetap stabil dan kita bisa melakukan tindakan untuk menyelamatkan si bayi,” jelas dr Aminuddin.

Ditambahkan dr Agus Hariyanto, SpA (K), selama ini memang banyak bayi yang baru lahir mengalami  gangguan napas atau jaringan paru-parunya mengalami kerusakan.

 “Tidak semua bayi itu dilahirkan di rumah sakit yang lengkap fasilitasnya. Kalau yang tidak lengkap harus dirujuk ke rumah sakit yang lengkap. Nah proses merujuknya itu butuh transportasi yang memadai, makanya ada NETS ini,” tukasnya.

Untuk sementara NETS ini siaga di RS Soewandi. Jika membutuhkan bisa langsung menghubungi Unit Gawat Darurat (UGD) RS Soewandi.

Nantinya  jika sudah ada lima unit ambulance ini, pusat informasi runukuan neonates (Pirna) yang sudah dibentuk bisa difungsikan.

“Saat ini Pirna sudah ada, tapi karena masih satu unit NETS-nya maka bisa langsung hubungi RS Soewandi. Tapi kalau nanti sudah ada lima unit, yang akan mengatur lalu lintas keluar masuknya unit ambulance ini Pirna,” tukas dr Aminuddin. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.