Saat ziarah ke Maroko KH Abdullah Muchit (duduk di lantai) saat mendapat ijazah konkret dari Syekh Zawiyah Kubro Asysyarif Moch Zubeir. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Barangkali ialah (kiai sepuh) satu-satunya yang masih konsisten dengan dzikir dan doa untuk NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Namanya KH Abdullah Muchit. Kiai asal Malang, Jawa Timur ini, Ahad dan Senin (9-10 November 2025) besuk akan menggelar dzikir dan doa untuk bangsa.

“Kita tidak boleh bosan memohon kepada Allah SWT demi perbaikan negeri ini. NKRI tidak bisa dibangun dengan congkrah, gegeran, eker-ekeran apalagi saling fitnah,” tegas KH Abdullah Muchit kepada duta.co, Kamis (6/11/25).

Menurut Kiai Muchit, tokoh-tokoh negeri ini harus melakukan taubatan nasional. Artinya, kalau selama ini masih tersekat oleh kepentingan politik, kepentingan pribadi, kepentingan kelompok, maka, ke depannya, demi perbaikan Indonesia, harus kita akhiri. “Tunjukkan kekompakan kepada rakyat. Tegakkan hukum sesuai dengan aturan. Jangan hukum itu tebang pilih,” tegasnya.

Masih kata Kiai Muchit, kebijakan Presiden Prabowo ini harus mendapat dukungan masyarakat luas. Indonesia tidak bisa bangkit, kalau elitnya tidak memahami kondisi rakyat. Begitu sebaliknya, rakyat harus paham upaya penguasa dalam menata negeri ini. “Lha yang bisa mengatur semua itu, hanyalah Allah SWT. Karena itu kami ndepe-ndepe, mohon agar penghuni NKRI ini bisa sejahtera,” pungkasnya.

Jarang yang Paham
Bersama Syarif Muhammad Al Habib Al-Jazair. (FT/IST)

Ya! Memang jarang orang paham, siapa KH Abdullah Muchit? Ialah mursyid tarekat sekaligus pendiri Ikatan Persaudaraan Imam Masjid Indonesia (IPIM), yang sering lolos dari pemberitaan publik.

Kiai Muchit, demikian akrab dipanggil, selama ini terus menggelar dzikir ‘berputar’ dari daerah ke daerah. Bukan hanya Jawa, Sulawesi, Kalimantan yang dijelajahi, Kiai Muchit juga tak jarang muncul di daerah pedalaman, Irian Jaya.

“Sekedar mengikuti maunya jamaah, agar lebih dekat dengan Sang Kholiq,” demikian kepada duta.co, suatu  saat.

Cintanya kepada NU dan NKRI ‘setengah mati’. Mesti bukan pengurus NU, bukan pula pejabat negara, Kiai Muchit yakin, NU adalah soko guru NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Dua-duanya tak pernah absen dalam doanya. “Kalau NU kuat, NKRI juga kuat. Kalau NU keropos, NKRI ikut goyah,” tambahnya lirih.

Lazimnya di jamaah NU, peran ulama salaf, tidak pernah terlupakan. Termasuk muassis NU, Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Chasbullah dll., namanya selalu berada di depan dalam kalimat doanya. “Hari ini saya lapor Mbah Raden Rahmad (Sunan Ampel), seraya minta kepada Allah swt agar NU ini diselamatkan, dikembalikan ke tujuan awal,” tegas Kiai yang rajin dzikir di Masjid Ampel, Surabaya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry