Oleh: Suparto Wijoyo*

SAYA menyimak dengan sungguh-sungguh. Dari Presiden sampai Gubernur atau para kepala desa alias lurah-lurah, sangat perhatian mengenai agenda keagamaan. Bahkan memang demikianlah adanya. Gubernur Jawa Timur terpotret keliling pasar-pasar tradisional. Menyapa pedagang dan mencermati harga-harga yang kian merangkak menuju tangga kehormatan. Ketersediaan pasokan pangan harus lancar, tiada boleh ada rintangan yang menghalang. Ibadah puasa Ramadhan 1447 H ini diniatkan: semuanya harus tercukupi. Rakyat tidak boleh mengeluh tentang sembako yang tidak terjangkau. Daya beli masyarakat ditaksir mestilah kuat, sehingga dapat memenuhi kebutuhan selama bulan yang diagungkan ini, Ramadhan.

Para Bupati dan para pengusaha di desa-desa, apalgi di kota-kota terasa melayani untuk tercukupinya sandang pangan umat dalam menjalankan ibadah. Puasa sebagai bagian dari inti Ramadhan tidak boleh terganggu oleh geopolitik serta geoekonomi global yang tidak sedang baik-baik saja. Fluktuasi ekonomi dengan harga saham yang turun naik, bahkan ada yang terjerembab, jangan sampai mempengaruhi kekhusukan orang berpuasa. Pokoknya puasa ini seyogianya berlangsung aman serta tenang. Bahan pokok melimpah. Cabe dan telor tersedia, ikan teri dan tongkol masih nongol di lapak-lapak pasar, bawang putih dan brambang serta kebutuhan “infrastruktur perdapuran” tersaji lengkap.

Ini semua untuk menjaga agar puasa, terawih dan amalan-amalan tadarus bisa terselenggara tanpa gelisah. Dalam rangka itu semuanya, menandakan bahwa instrumen ajaran agama itu sangat menggerakkan konstalasi sosial. Masyarakat menggeliat nan terus bergerak dan bergulir dengan ajaran agama. Ada shalat terawih berjamah di masjid-masjid, termasuk dan momentum suka-suka berbagi takjil alias iftar yang semakin ngetren di perkotaan. Langgar-langgar, surau-surau, musollah-musollah di kampung serta gang-gang sempit metropolitan tetap menjadi penanda bahwa ada perubahan gerakan publik. Filantropi berbasis landasan teologis semakin semarak dan akan membuncah dalam jelang waktu surup.

Kebutuhan orang beribadah puasa ataupun shalat mengakibatkan ada kebijakan pemerintahan untuk membangun toko-toko serta pabrik-pabrik tekstil, karoseri kendaraan, aneka rupa persawahan ditata kelola untuk pemenuhan pangan. Dan ini menggerakan negara. Pemerintah tampak hadir untuk turut serta menyediakan semua kebutuhan amsyarakat. Rakyat yang sedang puasa dijamin oleh negara agar dapat bergerak nyaman. Inilah sejatinya negara itu. Otoritasnya tidak boleh diam. Uniknya hal ini justru kerana ajaran agama. Jadi ruang ramadhan ini memberikan definisi baru bahwa ajaran agama menggerakkan semua sendi kehidupan, terutama negara. Sidang-sidang dan rapat-rapat para pejabat diadakan khusus untuk membahas segala pernik-pernik ramadhan.

Saksikanlah. Di indonesia ini negara bergerak karena adanya saat-saat berlakunya ajaran beragama. Mulai urusan shalat saja harus ada jam penanda waktu, maka perlu pabrik jam dinding, pabrik tekstil juga didirikan sehubunga dengan kebutuhan perlengkapan shalat, bukan sekadar pakaian harian. Pangan adalah yang paling vital sebab masalah makan adalah sesuatu yang amat fundamental. Dalam konteks inilah adanya Surah Hidangan, jamuan, sajian makanan alias al-maidah menjadi bukti urusan pangan adalah esensial. Negara wajib memenuhi kebutuhan rakyatnya agar terdapat kehidupan yang berkelanjutan, karena tanpa pangan tidak dapat dibayangkan adanya kehidupan yang bergenerasi-generasi.

Di bulan puasa acap kali orang beriman mau berbagi dan berarti harus ada yang dibagi. Dala skala inilah negara menyediakan apa yang harus dibagi-bagi oleh warganya. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”. Penyediaan makanan adalah narasi untuk mendapatkan pahala sekaligus mengembangkan rasa kasih kepada sesama. Meski tanpa perlu dikait-kaitkan, jadinya ingat program BMG.

Betapa dahsyat ajaran puasa Ramadhan ini. Ingatlah Al-Baqarah: 183-185 yang memberikan pengajaran luar biasa. Demikianlah maknanya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka, barang siapa di antara kalian sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Wajib bagi orang–orang yang berat menjalankannya, (jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, itulah yang lebih baik baginya. Berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Oleh karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa yang sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Hendaklah kalian mencukupkan bilangan (bulan) itu dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian supaya kalian bersyukur.”

Dahsyat dan yakinlah ke depan untuk merealisir pesan Alquran tersebut pastilah negara akan semakin bergerak untuk menjamin ketersediaan kebutuhan rakyat dalam mengimplementasikan tuntunan agamanya. Terima kasih NKRI, inilah negara yang seolah gupuh-lugguh-suguh memenuhi tugas kenegaraannya mempercukupkan kebutuhan orang-orang yang beriman. Selamat beramadhan.

*SUPARTO WIJOYO adalah Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III  Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry