Oleh: Imam Safi’i, MPd

Al Ilmu bi Ta’allum wal Barakah bil Khidmah. Slogan ini mempunyai makna yang mendalam di dunia santri, jika santri ingin mendapatkan ilmu, maka dengan cara belajar dan jika ingin mendapatkan keberkahan ilmu, maka dengan berkhidmah kepada sang kiai.

Ada kondisi yang berbeda, sebagian masyarakat Indonesia tidak memandang penting keberkahan ilmu itu. Mereka hanya memaknai bahwa menuntut ilmu itu sebatas bagaimana anak dididik pintar dalam ilmu yang ditekuninya dan menjadi kebanggaan.

Bisa kita lihat fenomena yang terjadi baru-baru ini, seorang wali santri dengan arogansinya membentak dan marah kepada kiai. Ia merasa benar secara hukum, rasional pikirannya tapi dia lupa bahwa sang kiai mendidik santri dengan penuh keikhlasan, kesabaran dan do’a terus dipanjatkan untuk anak didiknya, mempunyai kelengkapan ilmu dhohir dan kedalaman ilmu batin.

Hubungan antara anak didik dan pendidik sama seperti anak dengan orang tua, keduanya harus didasari dengan kasing sayang, penuh hormat dan saling mendoakan. Akan tetapi, ketika hubungan itu sudah tidak berjalan baik, seringkali muncul kecenderungan saling menjatuhkan, mencaci, lebih parah lagi jika dengan kebencian. Bagaimana mungkin ilmu yang didapatkan akan berkah jika sikap kepada kiai tidak memuliakan serta tidak mau berkhidmah kepadanya?

Anak didik serta wali santri harus sadar betul bahwa kepandaian belum cukup untuk mengarungi bahtera kehidupan ini, akan tetapi ilmu yang berkah atau bermanfaat itulah menjadikannya akan terus dekat dengan Allah SWT. Dengan begitu akan menjadi manusia di jalan lurus, terus menebar kebaikan di manapun dia berada.

Berkhidmah terhadap kiai menjadi salah satu kunci mendapatkan ilmu yang manfaat, dengan cara menciptakan hubungan baik secara dhohir dan batin untuk berharap mendapatkan keridhoan seorang kiai.

Cara berkhidmah kepada kiai bisa disederhanakan menjadi tiga macam. Khidmah pertama ialah khidmah bin nafs, mengabdi dengan tenaga atau fisik. Hal ini biasanya bisa kita lihat di pondok pesantren salaf. Misalnya santri menata sandal kiai, mencuci mobil, membantu berkebun, membantu pekerjaan di dalem kiai dll. Kedua, Berkdimah bil maal ini bisa kita maknai bagaimana seorang santri jangan sampai tidak ikhlas di dalam membayar kebutuhannya di pondok pesantren. Berkhidmah yang ini bisa kita tarik lebih jauh bahwa seorang wali santri yang mempunyai kelebihan harta seharusnya memperhatikan kebutuhan seorang kiai, sebab para kiai-lah yang menjadikan santri mengetahui ilmu dan mengenal Allah SWT. Ketiga, khidmah bi du’a yaitu dengan cara mendoakan kiak. Hal ini di dalam sejarah dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hambal, murid dari Imam Assyafi’i. Dalam salatnya selama empat puluh tahun, Imam Ahmad bin Hambal selalu berdoa ”Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad Idris bin Assyafi’i.”

Pertanyaan besarnya, apakah desain pendidikan yang dicanangkan pemerintah mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan perguruan tinggi mempertimbangkan dasar berkhidmah seorang peserta didik terhadap pendidik? atau hanya sebatas mendesain transfer ilmu semata yang menyampingkan marwah kemulian seorang pendidik?

Jangan sampai kesuksesan pendidikan ini hanya dibebankan kepada pendidik, tetapi bagaimana penyadaran bersama antara anak didik, orang tua dan pendidik bersinergi menempatkan posisi yang saling mendukung satu dengan yang lainnya. Dengan begitu akan muncul generasi Indonesia cerdas, berilmu dan ber-akhlakul karimah.

Penilus adalah Dosen Fakultas Agama Islam UNISMA dan Kepala Bagian keagamaan UNISMA

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry