“Dari Kepemimpinan Imam, Diplomasi Spiritual, hingga Ikhtiar Menjadikan Masjid sebagai Kekuatan Perdamaian dan Kemanusiaan Dunia.”
Catatan Purwanto M. Ali
Wakil Ketua Umum DNIKS

PROF. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. dipilih secara aklamasi sebagai Presiden pertama The International Assembly of Mosque Imams (IAMI) dalam rangkaian International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang diikuti delegasi dari 46 negara.

Pilihan terhadap Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta sejak 2016 yang kini menjabat Menteri Agama Republik Indonesia itu bertumpu pada pengalaman kepemimpinan keagamaan dan pemerintahan, representasi Indonesia dalam mengelola kemajemukan, gagasan transformasi fungsi masjid, serta konsep spiritual diplomacy dalam membangun dialog dan perdamaian.

Arti strategis kepemimpinan itu terletak pada ikhtiar IAMI memperluas peran imam dan masjid dari wilayah ritual menuju pemberdayaan masyarakat, diplomasi keagamaan, perdamaian global, dan aksi kemanusiaan. Bagi Indonesia, ia sekaligus membuka ruang agar pengalaman hidup dalam kemajemukan berbicara lebih luas kepada dunia.

Mandat tersebut lahir ketika masyarakat global menghadapi konflik geopolitik, krisis kemanusiaan, perubahan iklim, disrupsi digital, dan kecerdasan buatan. Agama tentu tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan itu, tetapi memiliki otoritas moral dan jaringan sosial untuk mengambil bagian di dalamnya.

Karena itu, pertanyaan terpenting dari kelahiran IAMI bukan sekadar siapa yang memimpinnya, melainkan untuk apa kepemimpinan para imam dunia itu hendak digunakan? Apakah agama cukup menjadi jalan manusia menuju langit, atau harus pula menjadi kekuatan untuk memperbaiki kehidupan di bumi?

Indonesia dan Pengalaman Kemajemukan

Indonesia tidak pernah dilahirkan dari keseragaman. Ia tumbuh dari ribuan pulau, ratusan kelompok etnis, beragam bahasa, kebudayaan, dan agama.

Perjalanannya tidak selalu teduh. Ketegangan dan intoleransi masih menjadi pekerjaan rumah. Namun pengalaman panjang mengembangkan dialog, moderasi, dan kerja sama lintas agama telah memberi Indonesia modal sosial-keagamaan yang khas.

Pengalaman itu tercermin dalam perjalanan Nasaruddin Umar. Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta sejak 2016 dan kemudian Menteri Agama Republik Indonesia, ia membawa pengalaman akademik, kepemimpinan keagamaan, pengelolaan masjid, sekaligus pemerintahan.

Tetapi pengalaman baru bermakna ketika memiliki arah. Di situlah gagasan menjadi lebih penting daripada sekadar jabatan.

Ketika Masjid Tidak Cukup Hanya Menjadi Bangunan

Dalam sejarah Islam, masjid bukan sekadar ruang tempat dahi menyentuh sajadah. Pada masa Rasulullah SAW, ia menjadi jantung kehidupan umat: tempat bersujud dan belajar, bermusyawarah, melayani masyarakat, serta menumbuhkan peradaban.

Karena itu, salah satu gagasan penting Nasaruddin Umar adalah mengembalikan keluasan fungsi tersebut dalam konteks modern: masjid harus bergerak dari penerima pemberdayaan menjadi pusat pemberdayaan.

Jaringan masjid dapat menjadi simpul pendidikan, pengentasan kemiskinan, kepedulian lingkungan, pemberdayaan ekonomi, literasi digital, bantuan kemanusiaan, serta penguatan keluarga dan komunitas.

Dengan demikian, masjid menjadi ruang tempat nilai keagamaan diterjemahkan menjadi pengabdian sosial.

Sebab kesalehan menemukan keindahannya bukan hanya ketika dahi menyentuh sajadah, tetapi juga ketika tangan terulur kepada mereka yang membutuhkan.

Spiritual Diplomacy: Ketika Nurani Ikut Berunding

Dunia telah memiliki diplomat, lembaga internasional, meja perundingan, resolusi, dan berbagai instrumen politik. Namun perang belum juga kehilangan alamatnya.

Diplomasi formal tentu tidak dapat digantikan oleh pemimpin agama. Tetapi ketika kepentingan politik saling mengunci, masih ada pintu lain yang dapat diketuk.

Pintu itu bernama nurani.

Di sanalah Nasaruddin Umar menawarkan spiritual diplomacy—diplomasi spiritual: bukan menggantikan diplomasi negara, melainkan melengkapinya dengan dimensi moral melalui otoritas keagamaan, jaringan sosial, dan dialog antarpemimpin agama.

Gagasan itu bertolak dari satu kesadaran: “Humanity is only one.” Kemanusiaan hanya satu.

Perbedaan bangsa, agama, mazhab, bahasa, warna kulit, dan kepentingan politik tidak mengurangi nilai sebuah kehidupan. Air mata seorang ibu yang kehilangan anak tidak bertanya tentang agama dan kewarganegaraan. Kelaparan tidak mengenal mazhab. Kematian akibat perang pun tidak memilih identitas korbannya.

Di balik segala perbedaan, manusia dipertemukan oleh martabat kemanusiaannya.

Jika diplomasi politik mempertemukan kepentingan, diplomasi spiritual berikhtiar mempertemukan nurani. Ia hanya memiliki wibawa apabila konsisten berdiri di atas prinsip kemanusiaan dan tidak berubah menjadi pembenaran bagi kepentingan tertentu.

Spiritual diplomacy adalah ikhtiar menghadirkan jiwa di meja diplomasi.

Imam di Tengah Dunia yang Berubah

Menjadi imam pada abad ke-21 berarti memimpin umat di tengah krisis lingkungan, konflik, kemiskinan, disinformasi, revolusi digital, hingga kecerdasan buatan.

Karena itu, imam masa depan tidak cukup memahami teks; ia juga perlu membaca konteks. Tidak cukup memahami ritual, tetapi harus memahami manusia dan zamannya.

Di sinilah eko-teologi, literasi digital, dan perhatian terhadap artificial intelligence (AI) memperoleh relevansi. Menjaga bumi merupakan tanggung jawab spiritual; ruang digital membutuhkan tuntunan etis; sementara AI mulai menyentuh pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dan hubungan sosial.

Agama tidak harus menjadi ahli teknologi. Tetapi agama tidak boleh kehilangan suara moral ketika teknologi ikut menentukan wajah masa depan.

Mandat IAMI karena itu bertumpu pada empat pilar: kepemimpinan imam; diplomasi keagamaan; perdamaian global dan aksi kemanusiaan; serta masjid dan komunitas yang berkelanjutan.

Keempatnya membentuk satu mata rantai: imam memperkuat masjid, masjid memberdayakan komunitas, dan jejaring komunitas lintas negara menopang diplomasi serta aksi bersama.

Tiga Tahun untuk Meletakkan Fondasi

Prof. Nasaruddin Umar memperoleh mandat memimpin IAMI selama tiga tahun, dengan kemungkinan diperpanjang satu kali.

Bagi organisasi internasional yang baru lahir, tiga tahun mungkin cukup untuk menanam, tetapi belum tentu cukup untuk menikmati seluruh buahnya.

Salah satu agenda utamanya adalah pertemuan virtual bulanan antar-imam besar dunia untuk merespons dinamika sosial dan kemanusiaan global. Teknologi memungkinkan para imam lintas negara membicarakan konflik, bencana, lingkungan, dan perubahan sosial tanpa menunggu konferensi besar berikutnya.

Namun forum itu tidak boleh berhenti menjadi percakapan. Ia harus bergerak dari koordinasi menuju rekomendasi, dari rekomendasi menuju program, dan dari program menuju tindakan.

Di situlah ujian IAMI.

Konferensi dapat selesai dalam hitungan hari dan deklarasi ditandatangani dalam hitungan menit. Tetapi institusi hanya hidup oleh konsistensi, program konkret, dan kemampuan membangun respons lintas negara.

Sebab sebuah organisasi tidak menjadi besar karena banyaknya tokoh yang hadir pada hari kelahirannya, melainkan karena banyaknya manfaat yang tumbuh sepanjang kehidupannya.

Diplomasi Indonesia Tanpa Kehilangan Universalitas

Terpilihnya tokoh Indonesia sebagai Presiden pertama IAMI juga membuka ruang bagi soft power Indonesia.

Modalnya bukan sekadar besarnya populasi Muslim, melainkan pengalaman mengelola kemajemukan, kuatnya organisasi kemasyarakatan Islam, tradisi pendidikan keagamaan, serta praktik dialog lintas agama.

Namun IAMI tidak boleh menjadi perpanjangan kepentingan satu negara. Independensi, inklusivitas, dan universalitas justru harus menjadi sumber kredibilitasnya.

Indonesia tidak harus mendominasi untuk memberi pengaruh. Ia cukup menyumbangkan pengalaman, gagasan, dan keteladanan.

Sebab pengaruh terbesar terkadang tidak lahir dari suara yang paling keras, melainkan dari teladan yang paling dapat dipercaya.

Dari Simbol Menuju Kerja Nyata

Pemilihan secara aklamasi adalah kehormatan. Tetapi setiap kehormatan membawa saudara kembarnya: tanggung jawab.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan terlalu lama mengingat bagaimana sebuah jabatan diperoleh. Sejarah akan mengingat apa yang dikerjakan setelah amanah itu diberikan.

Karena itu, ukuran keberhasilan IAMI bukan banyaknya konferensi, deklarasi, ataupun tokoh yang hadir, melainkan apa yang sungguh-sungguh berubah karena organisasi itu ada.

Sebagai Presiden pertama, Nasaruddin Umar ikut menggambar cetak biru IAMI—menentukan arah, membangun kultur, memperluas jaringan, dan meletakkan fondasi bagi kepemimpinan berikutnya.

Jika empat mandat besarnya dapat diterjemahkan menjadi kerja konkret dan terukur, IAMI dapat bergerak melampaui simbol dan seremoni menjadi kekuatan moral yang benar-benar bekerja.

Sebab dunia tidak kekurangan forum, deklarasi, ataupun pidato tentang perdamaian. Yang sering hilang adalah keberanian menjembatani kata dengan tindakan, keyakinan dengan pengabdian, dan doa dengan kerja nyata.

Barangkali di situlah diplomasi spiritual menemukan maknanya: ketika agama tidak berhenti berbicara tentang perdamaian, tetapi bekerja untuk menghadirkannya.

Dan di situlah masjid menemukan kembali kebesarannya: ketika cahaya yang menyala di mihrab tidak berhenti di ruang ibadah, tetapi menembus pintu-pintunya, menyentuh kehidupan, dan menerangi dunia.

Selamat, Kyai Prof. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan, kesehatan, kebijaksanaan, dan kemudahan untuk menunaikan amanah besar ini—membawa suara para imam dan pesan perdamaian melintasi batas bangsa, negara, dan peradaban.

Terima kasih, Kyai Prof, telah mengharumkan nama bangsa. Kini dunia menanti bukan hanya suara dari Indonesia, tetapi jejak pengabdian Indonesia bagi dunia.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry