“….sejarah berdirinya Masjid Rahmat mirip dengan sejarah Masjid Kubah di Madinah. Di mana Rasulullah sebelum sampai di Madinah singgah di Kubah dan mendirikan masjid Kubah.”

 Oleh: Achmad Murtafi Haris – Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

SEPERTI biasa Masjid Rahmat Kembang Kuning Surabaya pada akhir Jumadal Ula selalu mengadakan peringatan Haul sang mertua Sunan Ampel itu.  Siapakah beliau? Berikut tulisan yang disadur dan dikembangkan penulis lewat makalah Agus Sunyoto.

Kedatangan Sunan Ampel ke Tanah Jawa

Sejarah Mbah Karimah yang makamnya ada di Kembang Kuning Surabaya berawal dari masuk Islamnya beberapa anggota  keluarga raja dan pejabat tinggi Majapahit pada abad keempat belas. Hal ini terbukti dengan ditemukannya  situs nisan Islam Troloyo yang menunjukkan keberadaan komunitas muslim pada masa kejayaan Majapahit. Keberadaan komunitas muslim juga dikuatkan dengan keberadaan Masigit (masjid) Agung di selatan lapangan Bubat.

Pengaruh Islam ke dalam istana Majapahit semakin kuat dengan menikahnya Raja Majapahit Brawijaya III dengan seorang putri penguasa Surabaya  Aria Lembu Sura yang  beragama Islam.

Setelah itu Brawijaya V yang bernama Sri Kertawijaya juga menikah dengan seorang muslimah asal Campa (Kamboja) bernama Darawati yang datang ke Majapahit membawa pusaka berupa pedati bernama Kyai Jebat Betri dan gong pusaka bernama Mahesa Lawung.

Meski agama Islam telah dianut oleh anggota istana dan sebagian kecil masyarakat sehingga terbentuk komunitas muslim di Tuban, Gresik dan Surabaya pada abad ke-14, namun gerakan dakwah besar-besaran belum nampak hingga datang Raden Rahmat  bersama kakak kandungnya yang bernama Ali Murtadho dan sepupunya Abu Huraerah.

Kedatangan Raden Rahmat bersamaan dengan laju migrasi warga Cempa ke Semenanjung Malaya dan pantai utara Jawa. Bersamaan dengan itulah Raden Rahmat berkunjung ke bibinya puteri Darawati sang permaisuri Raja Brawijaya V di Majapahit.

Sumber sejarah seperti Babad Tanah Jawi, Walisana Babadipun Para Wali, Babad Majapahit lan Para Wali, Babad Ngampel Denta dengan sepakat menuturkan bahwa atas kebaikan hati suami bibinya, Raja Brawijaya V, Raden Rahmat diangkat sebagai imam di Masjid Surabaya dan kakaknya diangkat sebagai Raja Pandhita di Gresik.

Babad Tanah Jawi menuturkan bahwa Raden Rahmat menikahi Nyai Ageng Manila puteri Arya Teja dari Tuban, yaitu cucu Aria Lembu Sura Surabaya. Dari pernikahan dengan istri pertama tersebut Raden Rahmat memiliki putera Raden Ibrahim Sunan Bonang, Nyai Gede Maloka dan Raden Qasim Sunan Drajat.

Babad Cirebon menambahkan bahwa selain ketiga orang putra-putri tersebut, Raden Rahmat memiliki putri dua orang yaitu Siti Syari’ah alias Nyai Gede Panyuran dan Siti Hafshah alias Nyi Pengulu.

Selain Nyai Ageng Manila – dalam Babad Tanah Jawi Naskah Badu Wanar/Naskah Drajat juga disebutkan, bahwa Raden Rahmat saat datang ke Surabaya menikahi Mas Karimah putri Ki Bang Kuning.

Dari pernikahan itu, Raden Rahmat dikaruniai dua orang putri, yaitu Mas Murtasiyah dan Mas Murtasimah. Penuturan ini diperkuat dengan naskah Ahlal Musamaroh Fi Hikaayatil ‘Auliyaa’i  al-‘Asyroh yang disusun oleh Syekh Fadhol As-Senori, yang  mengisahkan bahwa dari pernikahan dengan Dewi Mas Karimah puteri Ki Bang Kuning, Raden Rahmat dikarunia dua orang putri, yaitu Dewi Murtiyah dan Dewi Murtasiyah.

Bertemu Jodoh Karimah

Dalam cerita tutur yang berkembang di kalangan masyarakat Surabaya dikisahkan, bahwa sebelum tinggal di Ampel Denta sebagai imam masjid, Raden Rahmat terlebih dahulu tinggal di kediaman Ki Bang Kuning yang kelak menjadi mertuanya.

Mampirnya Raden Rahmat ke Ki Bang Kuning dijelaskan oleh Prof Aminuddin Kasdi dalam sarasehan napak tilas mBah Karimah, bahwa hal itu bisa diterima lantaran sarana transportasi zaman dahulu adalah lewat laut dan sungai. Kepergian Raden Rahmat atau yang dikenal dengan Sunan Ampel dari Majapahit ke Surabaya adalah melewati kali Brantas.

Sesampainya di Surabaya terdapat lima cabang sungai yang salah satunya dilewati Raden Rahmat untuk menuju Ampel Denta. Sungai tersebut adalah sungai yang melintasi daerah Ki Bang Kuning atau yang sekarang disebut dengan Kali Kembang Kuning.

Dalam sumber tutur dikisahkan bahwa Ki Bang Kuning pada awal pertemuannya dengan Raden Rahmat masih belum memeluk Islam dan menjadi muallaf setelah bertemu Raden Rahmat.

Namun, ada pula yang mengatakan bahwa dimungkinkan Ki Bang Kuning telah memeluk Islam. Hal ini lantaran telah adanya minoritas muslim di Surabaya bahkan Raja Surabaya, Aria Lembu Sura sudah masuk Islam. Besar kemungkinan persinggahan Raden Rahmat ke tempat tinggal Ki Bang Kuning adalah persinggahan ke sesama saudara seiman yang disambut dengan hangat.

Selama tinggal di kediaman Ki Bang Kuning, Raden Rahmat mempersunting putri Ki Bang Kuning yang bernama Mas Karimah sebagai istri kedua. Selama tinggal di Bang Kuning  itulah Raden Rahmat  mendirikan masjid yang kelak disebut Masjid Rahmat. Seiring perjalanan waktu nama Ki Bang Kuning pun bergeser dan menjadi Kembang Kuning mengikuti lidah orang Surabaya lebih mudah menyebutnya seperti itu.

Berdirinya Masjid Rahmat

Aminuddin Kasdi mengatakan bahwa sejarah berdirinya Masjid Rahmat mirip dengan sejarah Masjid Kubah di Madinah. Di mana Rasulullah sebelum sampai di Madinah singgah di Kubah dan mendirikan masjid Kubah. Sedangkan Sunan Ampel sebelum sampai ke Ampel singgah di Bang Kuning dan mendirikan Masjid Rahmat. Untuk lebih pastinya diperlukan adanya dokumen sejarah tentang hal ini.

Agus Sunyoto mengatakan, jika  cerita tutur ini benar, maka berdirinya Masjid Rahmat Kembang Kuning berlangsung antara tahun 1440 – 1441 Masehi, yakni saat kedatangan Raden Rahmat ke Majapahit sampai pengangkatannya menjadi imam masjid Surabaya.

Siapa Ki Bang Kuning?

Berdasar naskah sejarah yang sangat singkat yang mengkaitkan kisah Ki Bang Kuning dengan seorang kepala desa di Surabaya bernama Wirajaya, dapat diduga nama pribadi Ki Bang Kuning adalah Wirajaya, sebagaimana dicatat Syaikh Fadhol as-Senori. Sementara masyarakat sekitar mengenal nama pribadi Ki Bang Kuning sebagai Wiro Saroyo. Karena pada zaman dahulu orang sering memanggil nama seseorang dengan nama anaknya (Jawa: karan anak), maka Ki Bang Kuning pun menjadi lebih dikenal dengan mBah Karimah. Apalagi setelah Karimah dinikahi oleh Raden Rahmat maka nama Karimah semakin melekat kepada Ki Bang Kuning.

Agus Sunyoto  menelisik nama Ki Bang Kuning berkaitan dengan kata  “Bang” dan “Kuning” yang berarti warna merah dan  gading pada bangunan batu sebagai  tanda perbatasan keraton atau wilayah administratif pada zaman Majapahit. Dengan demikian, Ki Bang Kuning yang memiliki nama pribadi Wirajaya atau Wiro Saroyo bisa ditafsirkan sebagai  seorang pemimpin lokal  yang bertugas menjaga perbatasan, dalam hal ini perbatasan selatan Kota Surabaya.  Sebagaimana nama serupa, yaitu Desa Bang Kuning di Kediri yang menjadi perbatasan Daha dengan wilayah Blitar di masa lalu dan Desa Bang Koneng di Madura yang menjadi perbatasan Sumenep-Pamekasan.

Terlepas dari status dan kedudukan Ki Bang Kuning dalam struktur masyarakat Majapahit dewasa itu, yang pasti beliau adalah seorang pemimpin lokal di selatan Surabaya yang masuk ke dalam lingkungan Puri Surabayan, wilayah kekuasaan Aria Lembu Sura yang Muslim dan mertua dari Brawijawa III dan kakek dari Nyai Ageng Manila Istri pertama Sunan Ampel seperti disebutkan pada awal tulisan ini.

Dari Karimah Lahir Keturunan Besar

Sekali pun tokoh Ki Bang Kuning tertutupi kabut sejarah namun keberadaannya sebagai tokoh sejarah tidak diragukan lagi. Pernikahan putrinya, Mas Karimah, dengan Raden Rahmat yang menurut Sadjarah Regent Surabaja adalah Bupati Surabaya pertama, telah melahirkan keturunan yang kelak menjadi tokoh-tokoh besar yang berperan dalam dakwah Islam dan kekuasaan Islam pasca runtuhnya Majapahit.

Dalam naskah Tedhak Poesponegaran yang didukung naskah Babad ing Gresik, disebutkan bahwa Prabu Satmata Sunan Giri  menikah dengan Dewi Murtosiyah, putri Sunan Ampel dari istri kedua Mas Karimah  putri Ki Bang Kuning. Dari pernikahan tersebut lahir empat orang putra yaitu Sunan Dalem Timur, Sunan Kidul Ardi Pandan, Sunan Waruju ing Ardi Kelud, serta Nyai Ageng Sawo. Sementara Sjamsudduha (2004) mengutip Babad Tanah Jawi Naskah Badu Wanar menyebut keempat orang putera Prabu Satmata Sunan Giri tersebut bernama Raden Prabu, Raden Musani, Raden Guwa, dan Retnawati. Kiranya yang disebut Babad Tanah Jawi adalah nama pribadi sedang yang disebut Tedhak Poespanegaran dan Babad ing Gresik adalah  nama gelar ketika putera-puteri tersebut dewasa dan menduduki jabatan tertentu.

Selain Murtosiyah, putri Sunan ampel yang lain dari istri kedua Mas Karimah adalah Dewi Murtosimah yang  diperistri Raden Patah Adipati Demak. Dalam naskah Babad Tanah Jawi Badu Wanar disebutkan, bahwa mereka memiliki lima orang putra yaitu: Pangeran Prabu, Raden Trenggana, Raden Bagus Sayid Ali, Gendhuruan, dan Dewi Ratih.

Di antara ke lima orang putra Raden Patah, yang menduduki kekuasaan tertinggi adalah Raden Trenggana yang menjadi Sultan Demak, penerus kekuasaan Majapahit yang dirintis ayahandanya. Yang kedua adalah Gendhuruan yang tidak lain adalah Pangeran Kanduruan yang menurut Babad Songenep adalah Raja Sumenep menggantikan Aria Wigananda. Pangeran Kanduruan ini menikahi saudari sepupunya puteri Adipati Terung dan menurunkan Pangeran Ellor dan Pangeran Wetan, yang belakangan adalah kakek Raden Abdullah – Pangeran Cakraningrat.

Dengan menelusuri silsilah tokoh-tokoh sejarah yang menjadi cucu-cucu Ki Bang Kuning, baik yang berhubungan dengan trah Giri maupun trah Demak, dapat dikatakan bahwa penguasa-penguasa Islam di Demak, Pajang, Mataram, Kediri, Surabaya, Ponorogo, hingga Palembang, Sambas, dan Brunei Darussalam adalah keturunan Ki Bang Kuning dari jalur perempuan (Murtosiyah dan Murtosimah).

Di samping itu, muncul pula tokoh-tokoh keagamaan termasyhur yang terkenal sebagai penyebar Islam seperti Sunan Dalem (Sunan Giri II), Sunan Prapen, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Kyai Abdullah Mursyad, Kyai Kasan Besari Tegalsari, dsb yang tidak lain  adalah keturunan Ki Bang Kuning atau Mbah Karimah yang makamnya berada di kampung Kembang Kuning dan diziarahi banyak orang.

(Disadur dari Makalah Agus Sunyoto pada Sarasehan “Napak Tilas Mbah Karimah Mertua Sunan Ampel” dalam rangka Haul Mbah Karimah tanggal 8 Mei 2010 di Restoran Taman Sari, Jl. Taman Apsari Surabaya).

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.