
SURABAYA | duta.co – Dugaan pencemaran nama baik dan pencurian data pribadi menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) kembali terjadi. Kali ini, nama dokter ortopedi ternama, dr. Tony Setiobudi, dicatut dalam sebuah tayangan promosi obat diabetes yang viral di berbagai platform digital. Merasa dirugikan, kuasa hukum dr. Tony resmi melaporkan kasus ini ke Kepolisian Daerah Jawa Timur, Selasa (29/7/2025).
Laporan tersebut teregister dengan Nomor: LP/B/1057/VII/2025/SPKT/POLDA JAWA TIMUR, yang menyatakan adanya dugaan tindak pidana kejahatan transaksi elektronik sesuai Pasal 35 jo Pasal 27A UU No. 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas UU ITE.
Kuasa hukum dr. Tony, Teguh Wibisono S, S.H., S.E., M.M., M.Kn., menyatakan bahwa konten video tersebut merupakan hasil rekayasa teknologi yang memanfaatkan kecanggihan AI untuk menciptakan tayangan palsu (deepfake).
“Hari ini kami resmi melaporkan dugaan pencemaran nama baik dan pencurian data pribadi terhadap klien kami, dr. Tony Setiobudi. Video yang beredar mencatut nama dan visual beliau seolah-olah mempromosikan obat diabetes bernama Glukoformin. Padahal, klien kami adalah seorang dokter ortopedi, bukan diabetolog, dan tidak pernah mengiklankan produk tersebut,” tegas Teguh kepada awak media.
Tayangan tersebut juga menampilkan mantan Menteri Kesehatan dr. Siti Fadilah Supari dan presenter televisi Rosianna Silalahi. Ketiganya ditampilkan secara manipulatif seolah-olah sedang mempromosikan metode pengobatan diabetes berbasis herbal (fenugreek) yang diklaim mampu menyembuhkan dalam waktu 24 jam.

Kuasa hukum lainnya, Dody Eka Wijaya, S.H., M.H., menyebut bahwa dari hasil penelusuran timnya, video palsu tersebut terhubung ke tautan pemesanan produk yang mengarah pada satu perusahaan e-commerce.
“Kami telah melacak bahwa link pemesanan produk tersebut mengarah ke perusahaan bernama PT EXODO ECOMMERCE INNOVASIA yang beralamat di Jakarta Selatan. Perusahaan inilah yang kami laporkan sebagai pihak terlapor dalam perkara ini,” terang Dody.
Berdasarkan hasil deteksi AI-Generated Content, sekitar 95 persen konten dalam video tersebut dipastikan merupakan hasil manipulasi teknologi AI. Hal ini juga telah diklarifikasi langsung oleh dr. Tony melalui kanal YouTube resminya @DrToniSetiobudi, di mana ia membantah terlibat atau memiliki kerja sama dengan pihak manapun terkait promosi produk kesehatan.
“Kami menekankan bahwa klien kami tidak pernah menerima penghargaan Nobel sebagaimana disebutkan dalam tayangan, dan tidak pernah memberikan testimoni terhadap produk Glukoformin. Ini adalah hoaks yang sangat merugikan reputasi beliau sebagai tenaga medis profesional,” tambah Teguh.
Para kuasa hukum juga menghimbau masyarakat yang merasa dirugikan akibat tayangan tersebut untuk melapor atau menghubungi kantor hukum mereka sebagai bentuk dukungan terhadap proses hukum yang sedang berjalan.
“Kami terbuka bagi masyarakat atau pasien yang sudah terlanjur membeli produk tersebut akibat percaya pada tayangan palsu ini, untuk melapor. Ini penting untuk mengungkap secara terang siapa saja pihak yang terlibat,” ujar Teguh.
Saat ini, pihak penyidik Polda Jawa Timur tengah mendalami laporan tersebut dan akan menelusuri keterlibatan pihak-pihak terkait. Kuasa hukum berharap kepolisian segera menindaklanjuti laporan dengan serius mengingat potensi penyebaran hoaks melalui AI kini makin masif dan membahayakan reputasi banyak pihak. (gal)




































