Duka cita datang dari berbagai kalangan dan menyebar di media sosial.

SURABAYA | duta.co – Prof Dr H Imron Arifin M.Pd, Selasa (27/4/21) pagi, mengabarkan, bahwa, K Ng H Agus Sunyoto, M.Pd sejarawan NU, pengasuh PP Tarbiyatul Arifin  yang juga Ketua Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), kapundut.

“Telah berpulang ke Rahmatullah kakak saya, K Ng H Agus Sunyoto, M.Pd. Mohon maaf lahir bathin bila ada salah dan khilafnya beliau dan, jika ada sangkutan utang piutang agar menghubungi kami. Insya Allah beliau husnul khotimah, dimakamkan di makam keluarga, Makam Tembok Surabaya,” demikian disampaikan Prof Dr H Imron Arifin.

Sosok Agus Sunyoto, tidak asing bagi arek-arek Suroboyo. Ia lahir di Surabaya pada 21 Agustus 1959 dari pasangan K Ng H Amir Arifin dan Hj Dalicha. Sebagaimana lazimnya ‘arek kampung’ Surabaya, pendidikan informal diawali di madrasah dan langgar kampung di bawah asuhan H Mochammad Ali dan Kiai Mochammad Sulchan.

Sejak SMP mengikuti pendidikan ilmu hikmah di Pesantren Nurul Haq Surabaya di bawah asuhan KH M. Ghufron Arif yang dilanjut kepada KH Ali Rochmat di Wedung, Demak, Jawa Tengah. Tahun 1994 masuk Pesulukan Thariqah Agung (PETA), Kauman, Tulungagung di bawah asuhan KH Abdul Jalil Mustaqiim dan KH Abdul Ghofur Mustaqiim.

Telaah Hari Santri

Adalah KH Agus Sunyoto yang menjelaskan secara apik, mengapa Indonesia perlu Hari Santri. Ia menegaskan, bahwa kaum santri merupakan representasi bangsa pribumi dari kalangan pesantren yang sangat berjasa membawa bangsa ini menegakkan kemerdekaan melalui Resolusi Jihad 22 Oktober yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

Dia juga menerangkan, istilah santri memang asli dari Indonesia, berbeda dengan istilah siswa yang berasal dari Belanda. Jika dirunut sejarahnya, kata Ketua PP Lesbumi NU ini, awalnya Indonesia dianggap negara boneka Jepang oleh Negara sekutu karena kemerdekaannya dinilai pemberian dari Nippon ini. Hal ini bisa dijelaskan, menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Hatta menyambangi Jepang untuk bertemu dengan Kaisar.

“Rapat besar di Lapangan Ikada juga dijaga ketat oleh tentara Jepang. Belum lagi naskah teks Proklamasi yang diketik oleh orang berkebangsaan Jepang, Laksamana Meida,” terang Agus saat berkunjung ke Redaksi NU Online, Rabu (14/10) di Jakarta.

Setelah Jepang kalah perang dengan Tentara sekutu atau NICA, lanjutnya, mereka berusaha kembali menjajah Indonesia dalam agresi militer kedua. Agus menjelaskan, ternyata tentara NICA dikagetkan oleh perlawanan orang-orang pribumi dari kalangan santri.

“Dari sinilah mereka berpikir, bahwa kemerdekaan Indonesia bukan karena pemberian dari bangsa Jepang, melainkan betul-betul didukung oleh seluruh rakyat Indonesia,” jelas penulis buku Atlas Wali Songo ini.

Sebab itu, menurut Agus, penetapan Hari Santri Nasional bukan hanya sebagai agenda kepentingan kelompok tertentu, tetapi untuk kepentingan seluruh bangsa Indonesia yang ketika itu digerakkan oleh Resolusi Jihad, yakni fatwa jihad KH Hasyim Asy’ari yang menyatakan bahwa membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu. Selamat jalan Kiai! Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu. Alfaatihah. (mky,nu.or.id)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry