Keterangan foto duta.co

SURABAYA | duta.co – Warga Nahdlatul Ulama (NU) kehilangan ulama karismatik yang dikenal kedalaman ilmu agama serta wawasan kebangsaannya. Ialah KH Muhammad Tholchah Hasan. Menteri Agama RI tahun 1999 – 2001 di era Presiden Abdurrahman Wahid, ini meninggal dunia, Rabu (29/5/2019) pukul 14.10 WIB.

“Benar! Ini kami masih di rumah sakit (RSUD Saiful Anwar, Malang),” ujar Rektor Universitas Islam Malamg Masykuri siang itu.

Menurut sumber duta.co, usai disalatkan di Masjid Ainul Yaqin UNISMA, maka, setelah salat tarawih almaghfurlah dimakamkan di Pemakaman Bungkuk Singosari. “Nahdliyin berkabung, tinggal beliau yang bisa mengingatkan pengurus NU,” jelas sumber tersebut.

Pesan Penting untuk Pengurus NU

Meski kesehatannya menurun, tetapi, semangat Kiai Tholchah membenahi organisasi NU tak pernah surut. Ketika mendengar dzurriyah muassis NU membentuk Komite Khitthah (KK) 26 NU guna mengamankan organisasi dari kepentingan politik praktis, Kiai Tholchah memberikan apresiasi yang tinggi.

Saat digelar Halaqah V Komite Khitthah 1926 Nahdlatul Ulama (NU)   di PP Al-Taqwa, Cabean, Pasuruan, Sabtu 16 Februari 2019, Kiai Tholchah hadir. Bahkan rekaman taushiyahnya selalu diputar setiap halaqah.

Pesannya jelas dan tegas: NU Itu Melayani Umat Bukan Menguasai Umat. “NU ini (oleh pendiri red.) sudah diberi pakem, yaitu melayani umat, bukan menguasai umat,” demikian disampaikan KH Tholchah yang juga dikenal sebagai pendiri Universitas Islam Malang (UNISMA) di depan peserta halawah V KK-26 NU.

NU sebagai sarana atau alat untuk melayani umat Islam di Indonesia, bukan dijadikan alat untuk mengausai umat. “Melayani dan menguasai ini, tafsirkan sendiri. Punya arti berbeda. Kalau melayani apa yang diberikan kepada umat, kalau menguasai apa yang bisa diperoleh dari umat,” tegasnya.

Hari ini, katanya, bisa jadi, sama, ada kegelisahan di mana NU tidak lagi berfungsi melayani, melain menguasai umat. Kiai Tholchah kemudian menjelaskan bagaimana kegelisahan warga NU yang terjadi pada tahun  1970-an, dan itu mirip dengan yang terjadi sekarang.

Masih menurut Kiai Tholchah, tahun 70an, ada kegelisahan yang merata, baik ulama sepuh maupun pemuda-pemudanya. “Mereka yang gelisah ini para aktivis NU yang kebanyakan tidak punya kedudukan di struktur NU. Tetapi orang-orang ini punya pikiran yang perlu didengar,” jelasnya.

Mereka, jelas Kiai Tholchah, mempertanyakan,  apa sih sesungguhnya yang menjadi keinginan dasar agar NU bisa melayani umat, sehingga umat punya keberdayaan. “Ternyata, intinya, kita harus melayani umat. Caranya? Dengan membuat pendidikan yang lebih bagus, kedua kesejahteraan yang lebih bagus, dan ketiga memberikan dakwah yang benar kepada umat,” tegasnya.

Jadi, masalah pentingnya pendidikan, kesejahteran dan dakwah, ini sudah terpatri oleh para pendiri sejak 1926. “Nah setelah itu, KH Achmad Shiddiq mengundang kami kami. Intinya apa yang harus dilakukan agar NU melanjutkan perjuangan. Maka dimunculkan kembali butir-butir utama dari perjuangan NU. Di rumah KH Achmad Shiddiq itu, hampir setiap minggu kami dipanggil,” tambahnya.

Tokoh-tokoh yang aktif mengikuti, seperti KH Muchit Muzadi, Kiai Tholhah (sendiri), Kiai Imron Hamzah, Kiai Wahid Zaini, dan lain sebagbainya. “Kita mendiskusikan, dan beberapa pikiran itu yang sudah ditulis Kiai Ahmad,” tambahnya.

Sampai akhirnya muncul buku kecil yang ditulis beliau, yaitu kembali ke Khitthah NU 26. “Dari situ kita berpijkir bagaimana mengembalikan NU sesuai dengan khitthah, sebagai pelayani (khodimul) umat. Di kalangan pemuda (saat itu) juga mulai terjadi kegelisahan, mungkin beda sebab, tapi sama tujuan,” tegasnya.

Tahun 70-an itu, warga NU merasa bahwa NU ditempatkan di wadah yang lebih kecil, PPP. Padahal, kekuatan atau kebesaran NU ini melebihi wadahnya, tidak akan mampu menampung PPP. Akhirnya meluber, ada yang ke Golkar, PDI, birokrat. “Karena kebesaran NU tidak bisa dijawab dengan satu wadah begini,” jelasnya.

“Saya menduga, bapak-bapak, kiai-kiai yang kumpul di sini, juga gelisah, sama dengan kami kami tahun 1970an. Kami juga menduga kiai kehilangan arah, gimana mengingatkan NU agar khitthah. Maka kita harus berjuang bagaimana NU ini sebagai pelayan umat bukan penguasa umat. Selamat berjuang untuk NU,” tegasnya sambil wanti-wanti agar perjuangan itu dilakukan dengan baik, bukan dengan MLB dan lain-lain.

Kiai Tholchah telah pergi untuk selamanya. Selamat jalan Kiai Tholchah Hasan. Ulama karismatik yang dikenal dalam ilmu agama dan wawasan kebangsaannya. Beliau menghadap Rab-nya, Rabu 29 Mei 2019 bertepatan dengan 24 Ramadhan 1440 H di RS Syaiful Anwar Malang pukul 14.10 WIB. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Amin. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry