JAKARTA | duta.co – Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama, Daerah Khusus Jakarta menyelenggarakan Sarasehan Pendidikan Tinggi NU 2026 bertajuk “Nahdlatul ‘Ilmi, Kebangkitan Sains dan Teknologi Kaum Nahdliyin” di Roemah Djan, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 25 Juli 2026.

Sarasehan ini menjadi forum strategis untuk merumuskan konsep, prinsip, dan langkah konkret penguasaan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau STEM bagi warga Nahdlatul Ulama. Forum tersebut juga membahas pengembangan perguruan tinggi NU yang berorientasi pada STEM, termasuk kemungkinan pendirian kampus berbasis sains dan teknologi di Jakarta.

Sejak kelahirannya pada 1926, Nahdlatul Ulama telah menempatkan pendidikan sebagai salah satu pilar utama perjuangan. Jaringan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi NU telah melahirkan jutaan kader bangsa yang berpegang pada nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Modal sosial dan tradisi keilmuan tersebut dinilai perlu diarahkan untuk menjawab perubahan dunia yang semakin bertumpu pada ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

Perkembangan ekonomi berbasis pengetahuan, digitalisasi, kecerdasan artifisial, teknologi kesehatan, energi terbarukan, dan otomasi membuat kebutuhan terhadap sumber daya manusia di bidang STEM semakin mendesak. Pada saat yang sama, keterwakilan kader dan tenaga ahli Nahdliyin dalam bidang tersebut masih perlu diperkuat melalui strategi pendidikan yang terencana dan berkesinambungan.

Semangat Nahdlatul ‘Ilmi diusung sebagai gerakan kebangkitan ilmu pengetahuan di kalangan Nahdliyin. Penguasaan STEM yang bertumpu pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah diharapkan dapat melahirkan ilmuwan, teknolog, insinyur, peneliti, dan inovator yang unggul secara intelektual, kuat secara moral, serta memiliki komitmen kebangsaan dan kemanusiaan.

Sarasehan tersebut dihadiri Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A. yang mewakili Menteri Agama RI, serta Staf Ahli Bidang Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Dr. Muhammad Hasan Chabibie, S.T., M.Si. yang mewakili Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI.

Hadir pula Ketua PBNU Bidang Pendidikan Dr. KH. Ahmad Suaedy, perwakilan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jajuli serta Biro Pendidikan dan Mental Spiritual Herman, S.Ag., M.Si. Sarasehan juga diikuti jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta, badan otonom dan lembaga di lingkungan PWNU DKI Jakarta, serta pengurus PCNU se-DKI Jakarta.

Kemajuan STEM NU Menjadi Bagian dari Kemajuan Indonesia

Ketua LPTNU DKI Jakarta Mulyadin Permana menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia Nahdliyin di bidang STEM memiliki arti strategis bagi kemajuan Indonesia. Besarnya jumlah warga NU membuat keberhasilan transformasi pendidikan di lingkungan NU akan memberikan dampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia nasional.

“Wajah NU adalah wajah Indonesia. Ketika sumber daya manusia NU di bidang STEM masih terbatas, hal itu menunjukkan bahwa perkembangan sains dan teknologi Indonesia juga belum berlangsung secara merata dan masif. Mengurus kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di lingkungan NU berarti ikut mengurus masa depan Indonesia,” kata Mulyadin.

Menurutnya, penguasaan STEM di lingkungan NU harus dimulai dengan membangun kesadaran kolektif. Berbagai ikhtiar individual yang selama ini telah dilakukan oleh tokoh, akademisi, dan keluarga Nahdliyin perlu dikonsolidasikan menjadi agenda kelembagaan yang terintegrasi dalam struktur organisasi NU.

“Selama ini banyak tokoh dan keluarga NU yang telah menyekolahkan anak-anaknya dalam bidang STEM, menyediakan beasiswa, atau mendukung pengembangan sains dan teknologi secara individual. Upaya tersebut sangat penting, tetapi belum cukup. Kita membutuhkan desain organisasi, kebijakan, dan program yang dijalankan secara serius pada seluruh tingkat kepengurusan NU, terutama pada tingkat nasional oleh PBNU,” ujarnya.

Ia mendorong agar pesantren dan madrasah NU mulai membangun program unggulan yang berfokus pada teknologi pertanian, teknologi kesehatan, teknologi informasi, ilmu komputer, teknik dan rekayasa, kecerdasan artifisial, robotika, energi terbarukan, matematika, serta cabang-cabang ilmu pengetahuan lain yang dibutuhkan pada masa depan.
Lulusan dari lembaga-lembaga tersebut selanjutnya harus memperoleh jalur pendidikan yang jelas menuju perguruan tinggi NU berbasis STEM atau perguruan tinggi nasional dan internasional yang menjalin kemitraan strategis dengan NU.

“Ekosistemnya perlu dibangun secara utuh. Pesantren dan madrasah menyiapkan dasar keilmuan, perguruan tinggi menyediakan pendidikan lanjutan dan riset, sedangkan pemerintah, dunia usaha, serta lembaga penelitian mendukung pembiayaan, laboratorium, beasiswa, dan ruang inovasi,” kata Mulyadin.

Mendorong Kolaborasi Pemerintah dan NU

LPTNU DKI Jakarta juga mendorong kerja sama yang lebih intensif antara NU, pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan sektor industri. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI diharapkan dapat membantu pembangunan ekosistem riset dan pengembangan perguruan tinggi berbasis STEM di lingkungan NU.

LPTNU DKI Jakarta turut mengapresiasi berbagai program beasiswa Kementerian Agama RI yang mulai membuka akses lebih luas bagi santri dan kader Nahdliyin untuk menempuh pendidikan pada bidang-bidang STEM.

Kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta lembaga penelitian lainnya juga dinilai penting untuk memperluas akses ilmuwan dan mahasiswa NU terhadap laboratorium, pendanaan riset, pendampingan inovasi, publikasi ilmiah, dan hilirisasi hasil penelitian.

“Kami mengundang Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Agama, BRIN, serta berbagai pemangku kepentingan dalam sarasehan ini agar dapat dirumuskan pola kolaborasi yang konkret. NU memiliki jaringan sosial dan pendidikan yang sangat luas, sedangkan pemerintah dan lembaga penelitian mempunyai sumber daya, regulasi, dan infrastruktur. Kekuatan tersebut harus dipertemukan,” ujar Mulyadin.

LPTNU DKI Jakarta juga meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan dukungan terhadap pengembangan sumber daya manusia Nahdliyin melalui pendidikan, pelatihan, beasiswa, riset, dan pengembangan keterampilan di bidang STEM.

Selain itu, LPTNU mengusulkan dukungan penyediaan lahan untuk pengembangan kampus NU berbasis STEM di Jakarta. Kampus tersebut diharapkan dapat menjadi pusat pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan teknologi yang memberikan manfaat bagi warga Jakarta dan masyarakat Indonesia secara luas.

Potensi Ilmuwan NU Perlu Dikonsolidasikan

Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta Drs. Mualif, Z.A. mengapresiasi inisiatif LPTNU dalam mendorong penguatan STEM. Ia mengingatkan bahwa pada masa pemerintahan Presiden KH. Abdurrahman Wahid, NU pernah mengalami kesulitan dalam menemukan kader dengan keahlian tertentu di bidang sains dan teknologi.

Saat ini, menurut Mualif, jumlah profesional, akademisi, peneliti, dan ilmuwan berlatar belakang NU telah berkembang cukup pesat. Potensi tersebut belum sepenuhnya terpetakan, terhubung, dan dikelola sebagai kekuatan bersama.

“Dahulu Gus Dur mengalami kesulitan ketika mencari orang NU yang memiliki keahlian dalam berbagai bidang sains dan teknologi. Sekarang jumlahnya sudah cukup banyak, tetapi belum dikelola dan dikonsolidasikan secara optimal,” katanya.

Jajuli, perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DKI Jakarta yang hadir mewakili Gubernur DKI Jakarta, menyampaikan dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap pengembangan sumber daya manusia unggul, khususnya dalam bidang STEM.

Ia menilai Pemprov DKI Jakarta dan PWNU DKI Jakarta perlu merumuskan pola kerja sama yang terukur untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Jakarta dalam bidang sains, teknologi, inovasi, dan keterampilan masa depan.

Mengembalikan Aswaja sebagai Tradisi Keilmuan

Ketua PBNU Bidang Pendidikan Dr. KH. Ahmad Suaedy menekankan pentingnya membangun kembali kesadaran bahwa Ahlussunnah wal Jamaah mencakup seluruh dimensi kehidupan, termasuk ilmu pengetahuan, penelitian, dan pengembangan teknologi.

Ia mengusulkan perlunya suatu “Aswaja turn”, yakni titik balik pemikiran yang menempatkan Aswaja sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Menurut Ahmad Suaedy, sejarah Islam pada abad ke-14 hingga ke-16 menunjukkan kuatnya perhatian para ulama dan cendekiawan Muslim terhadap ilmu pengetahuan. Tradisi tersebut telah melahirkan pemikir, ilmuwan, dan berbagai penemuan yang berpengaruh terhadap perkembangan sains dan teknologi.

“Kesadaran ini perlu dikembalikan. Islam memiliki hubungan yang sangat kuat dengan ilmu pengetahuan. Memahami Islam juga berarti mengembangkan pengetahuan, sains, dan teknologi untuk kemaslahatan manusia,” ujarnya.

Penguatan STEM di lingkungan NU, menurutnya, perlu ditempatkan sebagai bagian dari keberlanjutan tradisi intelektual Islam. Pendidikan agama dan pendidikan sains tidak boleh berjalan secara terpisah, tetapi harus saling memperkuat dalam membentuk manusia yang berpengetahuan, berakhlak, dan bertanggung jawab.

Kampus NU Perlu Bergerak dari Administrasi Menuju Riset

Dr. Muhammad Hasan Chabibie menyatakan bahwa NU sebenarnya telah memiliki banyak kader unggul dalam bidang STEM yang bekerja dan menempuh pendidikan di berbagai negara. Tantangan utama saat ini terletak pada kemampuan organisasi untuk memetakan, menghubungkan, dan memberdayakan potensi tersebut.

Program Nahdlatul Ulama Scholarship dan NU Fellowship dinilai telah memberikan fondasi yang baik untuk membangun jaringan akademisi dan ilmuwan Nahdliyin. Program tersebut perlu diperkuat dan dihubungkan dengan pengembangan perguruan tinggi NU.

Hasan mengakui bahwa pengembangan program studi STEM di perguruan tinggi NU menghadapi tantangan besar, mulai dari pembiayaan, ketersediaan dosen, laboratorium, manajemen, hingga konsistensi pengelolaan.

“Membuka satu program studi STEM saja di kampus NU membutuhkan perjuangan yang sangat besar, terlebih jika ingin membangun kampus baru berbasis STEM. Banyak perguruan tinggi NU masih berkutat pada persoalan akreditasi, KIP Kuliah, pembiayaan, dan bantuan. Pembicaraan mengenai pengembangan riset, inovasi, dan penguatan STEM masih perlu diperluas,” katanya.

Ia menekankan bahwa persoalan perguruan tinggi NU tidak hanya berkaitan dengan kemampuan finansial, tetapi juga menyangkut ketersediaan orang-orang yang bersedia mengelolanya secara fokus, konsisten, dan profesional.

“Mengurus perguruan tinggi adalah memilih jalan sunyi. Pekerjaan ini membutuhkan fokus, ketekunan, dan komitmen jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak selalu terlihat cepat dan pekerjaannya tidak selalu populer, tetapi sangat menentukan masa depan NU,” ujar Hasan.

Ia juga mengingatkan pentingnya melanjutkan momentum pengembangan perguruan tinggi NU yang pernah digerakkan secara luas oleh Mohammad Nuh. Pendirian berbagai kampus NU dan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia di sejumlah daerah menjadi fondasi yang perlu diperkuat.

Ada perguruan tinggi NU bahkan telah memiliki fakultas kedokteran dan program unggulan. Menurut Hasan, agenda yang perlu dilakukan saat ini adalah memperkuat kualitas institusi yang sudah berdiri, meningkatkan kapasitas riset, dan secara bertahap membuka program studi STEM yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dibutuhkan Konseptor dan Teknokrat NU

Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A. menilai NU memiliki keunggulan berupa fondasi nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan yang kuat. Pengembangan STEM membutuhkan konseptor dan tenaga teknokratik yang mampu menerjemahkan gagasan besar menjadi kebijakan, program, institusi, dan langkah kerja yang konsisten.

“NU mempunyai nilai keagamaan yang kuat. Pengembangan STEM membutuhkan para konseptor dan teknokrat yang bersedia merumuskan gagasan besar, menyusun peta jalan, serta menjalankannya secara konsisten untuk memperkuat kampus-kampus NU,” katanya.

Sahiron berharap hasil sarasehan dapat menjadi bahan yang disampaikan kepada PBNU setelah Muktamar NU 2026. Penguasaan sains dan teknologi harus ditempatkan sebagai agenda kelembagaan yang tidak bergantung pada pergantian kepemimpinan.

“Setelah Muktamar, kita perlu mendorong PBNU memiliki konsep dan program yang dijalankan oleh para teknokrat NU untuk mengembangkan STEM. Siapa pun yang menjadi Ketua Umum PBNU, penguasaan sains dan teknologi harus terus didorong hingga menjadi bagian dari ekosistem pendidikan NU,” ujarnya.

Menuju Peta Jalan STEM Nahdliyin

Sarasehan Pendidikan Tinggi NU 2026 diharapkan menjadi langkah awal penyusunan peta jalan pengembangan STEM di lingkungan Nahdlatul Ulama. Peta jalan tersebut akan mencakup penguatan pendidikan STEM di pesantren dan madrasah, pengembangan program studi pada perguruan tinggi NU, pemberian beasiswa, pemetaan ilmuwan Nahdliyin, pembangunan jaringan riset, kerja sama dengan pemerintah dan industri, serta pengembangan kampus berbasis STEM.

LPTNU DKI Jakarta menegaskan bahwa kebangkitan sains dan teknologi kaum Nahdliyin harus dibangun melalui gerakan organisasi yang terencana, berkelanjutan, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Gerakan Nahdlatul ‘Ilmi diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berkembang menjadi agenda bersama untuk melahirkan generasi Nahdliyin yang mampu menjadi ilmuwan, peneliti, insinyur, teknolog, tenaga kesehatan, ahli matematika, dan inovator yang berkontribusi bagi kemajuan Indonesia serta kemaslahatan umat manusia.(*)