
KEDIRI | duta.co – Seiring dibukanya Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem online, sejumlah sekolah favorit menjadi tujuan utama para siswa maupun orang tuanya. Namun yang terjadi, mereka menemukan kejanggalan saat digelar tahapan ujian tulis melalui online di MAN 1 Kota Kediri, digelar Minggu kemarin. Salah satu orang tua pendaftar mengkuatirkan adanya rekayasa dilakukan pihak panitia.
“Mantau PPDB di MAN 1? di grup telegram kayaknya ricuh. Peraturannya tes online dimulai pukul 8 sampai 10 pagi. Namun peserta masih bisa mengerjakan walaupun waktunya habis,” ucap salah satu orang tua, minta identitasnya dirahasiakan. Sejumlah orang tua lainnya akhirnya menanyakan hal ini ke pihak panitia.
Terkait hal ini, Drs. Hary Wiyanti .MPd selaku Kepala MAN 1 Kota Kediri saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (24/05), membenarkan adanya protes dari sejumlah orang tua peserta PPBD. Namun dirinya juga belum mendapatkan penjelasan dari ketua panitia atas pelaksanaan ujian tulis secara online.
“Saat ini baru taraf seleksi tes tulis online hanya online hanya sekali dan didampingi portofolio. Belum tentu nilainya bagus apalgi tidak punya piagam penghargaan karena digabungkan menjadi nilai akhir. Kami membuka 12 kelas, dan telah terisi 100 siswa mendapatkan golden tiket saat kami menggelar Miladm,” jelasnya.
Adapun kuota yang tersisa sekitar 600 kursi, meski demiki Hary kembali menegaskan bahwa hasil ujin tes online bukan ukuran. “Karena kita tidak yakin online yang mengerjakan mereka sendiri. Rata-rata dibantu, justru jika anak pintar tidak mau dibantu tapi malah nilainya kalah dengan yang mengerjakan bersama-sama. Antisipasinya, menggunakan portofolio jadi tidak serta merta anak yang nilainya tinggi tidak diterima bisa jadi yang mengerjakan gurunya atau orang tua atau kakaknya,” jelas Kepala MAN.
Terkait molornya waktu ujian tulis, dijelaskan bahwa itu hanya selisih menit saja namun total keseluruhan waktu adalah 2 jam. Kemudian ada beberapa orang tua peserta minta digelar ujian ulang atau susulan, Hary menegaskan hal tersebut tidak mungkin dilakukan.
“Selesainya pukul 10.15, tapi hakekatnya ada selisih 1-2 menit itu masih wajar. Kalau ada yang minta tes ulang atau susulan, tidak ada, jadi sekali selesai. Karena banyak sekali kendala dari teknis, tidak menutup mata karena kita tergantung pada penyedia layanan. Saya harus tanya ke ketua panitia dulu, karena kita sebelumya panitia sudah kerja dari puasa. Namun kita berusaha melayani sebaik-baiknya aduan apalagi di MAN tidak menerapkan aturan zonasi seperti pada SMA,” ucapnya. (kin/nng)
Keterangan foto : Drs. Hary Wiyanti, Kepala MAN 1 Kota Kediri (Kintan Kinari Astuti/duta.co)





































