SURABAYA | duta.co – Wakil Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Nadjib Hamid memandang, gerakan ekstrimisme muncul dan berkembang karena dipicu oleh berbagai kepentingan, baik personal maupun kelompok. Banyaknya kepentingan itu antara lain pertarungan ideologi global, pemahaman agama yang salah, ketidak adilan politik, hukum dan ekonomi kemiskinan serta kepentingam politik adu domba.

Kondisi ini diperparah dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kehadiran transformasi teknologi ini turut mempercepat penyebaran ekstrimisme. “Dalam konteks Indonesia pancasila merupakan hasil dari konsensus para pendiri bangsa sebagai jalan tengah untuk mengakomodir berbagai kepentingan yang berbeda,” ujarnya dalam Diskusi Publik bertema merawat kebhinnekaan tangkal ekstrimisme dengan memperkuat kesadaran berpancasila di FISIP Unair, Rabu (21/8).

Mantan komisioner KPU Jawa Timur ini bependapat kebhinnekaan perlu dirawat dengan baik untuk menangkal berkembangnya gerakan ekstrimisme di Indonesia. Caranya adalah peningkatan komunikasi sosial. Saat ini komunikasi sosial masyarakat Indonesia lemah.

“Komunikasi sosial lemah di tengah meningkatnya sikap individualisme. Masyarakat kampung sudah mulai susah diajak gotong royong,” jelasnya.

Selain komunikasi sosial ditingkatkan, fungsionalisasi tempat ibadah sangat urgen. Tempat ibadah harus menjadi pusat pembinaan agama. Peningkatan wawasan kebangsaan juga sangat penting. Pengetahuan kebangsaan perlu disemai melalui lembaga pendidikan, ormas, tokoh masyarakat dan kelurahan.

Ahli Perbandingan Agama Menachem Ali yang juga menjadi pembicara menganggap Indonesia sebagai negara unik. Negara yang hiterogen harus menjadi kesadaran bersama. Apapun agama di muka bumi hadir di Indonesia.

“Kita jadi tempat transit dari berbagai agama, ” jelasnya.

Agama yang bermacam di Indonesia tidak perlu dipersoalkan. Sebagai bangsa yang beragama, perlu mencari meeting point di antara berbagai agama. Menachem mencontohkan soal peristiwa banjir pada masa Nabi Nuh dalam islam.

Dia mengungkapkan, dalam agama Kristen juga berbicara soal banjir besar. Hanya tokohnya tidak menyebut nabi Nuh, yang disebut adalah Noah. Dalam peristiwa ini kisahnya sama, yakni banjir besar.

“Jadi kisah banjir buka lokal tapi lerisitwa universal. Walaupun agama tidak sama tapi harus dicari titik pertemuannya. Ada sesuatu yang menjadi klu. Dari sini jiwa akan menjadi besar, besar memahmi perbedaan. Karena kita di bawah payung besar, yaitu bhinneka,” ungkapnya.

Dosen FISIP Unair Airlangga Pribadi menambahkan, di dalam Pancasila hadir di dalamnya sejarah bangsa Indonesia. Bahwa Indonesia bukan untuk satu golongan, bukan satu agama, tapi Indonesia berdiri untuk semua.

“Indonesia gang kita dirikan untuk semua,” jelasnya. azi

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry