
JOMBANG | duta.co – Ketika Bupati Warsubi dan Wakil Bupati Gus Salman maju dalam kontestasi Pilkada, mereka menjual mimpi besar pembangunan infrastruktur merata hingga desa untuk mempercepat perputaran ekonomi rakyat. Program unggulan ASTACITA Bangun Desa Noto Kuto dipromosikan sebagai jawaban atas ketimpangan pembangunan dan menjadi magnet elektoral yang mampu mengantarkan pasangan ini menang telak dengan 74 persen suara.
Namun, beberapa bulan setelah dilantik, tanda-tanda program itu hanya akan menjadi slogan kosong mulai tampak. Bukan dari ketiadaan anggaran, melainkan dari lemahnya tata kelola sumber daya manusia di tubuh Pemkab Jombang. Mutasi pejabat yang baru saja dilakukan justru menunjukkan pola lama: pejabat bermasalah kembali dimunculkan, sementara ASN berkompetensi tinggi dibiarkan menyingkir mencari “zona aman”.
Alih-alih memperkuat birokrasi profesional untuk mengawal janji kampanye, langkah Bupati Warsubi menghidupkan kembali pejabat yang sebelumnya non job justru mengundang pertanyaan publik. Apakah pejabat-pejabat ini mampu menjadi motor penggerak ASTACITA? Ataukah mutasi ini sekadar akomodasi politik demi menjaga stabilitas kekuasaan?
Padahal, keberhasilan program pembangunan bukan hanya soal gagasan, melainkan eksekusi yang bergantung pada integritas dan kapasitas aparatur. Mengembalikan pejabat dengan rekam jejak abu-abu ke posisi strategis hanya akan menimbulkan keraguan dan melemahkan kepercayaan publik.
“Banyak ASN sebenarnya mumpuni, tapi mereka memilih tidak menonjol karena melihat mutasi ini sarat kepentingan politik,” ungkap seorang sumber internal Pemkab Jombang kepada duta.co, Kamis (18/9).
Kontradiksi ini menempatkan Bupati Warsubi dan Gus Salman dalam dilema apakah tetap mempertahankan pola mutasi setengah hati yang rawan mengorbankan visi besar ASTACITA, atau berani melakukan reformasi birokrasi yang sungguh-sungguh. Tanpa keberanian politik untuk menata ulang SDM dengan objektif, janji Bangun Desa Noto Kuto hanya akan menjadi isapan jempol di tengah rakyat yang menaruh harapan besar. (din)





































