Catatan Pinggir
Dr ROMADLON SUKARDI, MM*

DI TENGAH dunia yang sedang mengalami kegelisahan geopolitik, krisis kemanusiaan, perang berkepanjangan, degradasi moral digital, hingga retaknya relasi sosial global, Harlah ke-80 Muslimat NU di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya justru tampil sebagai oase peradaban. Bukan sekadar seremoni organisasi perempuan keagamaan, tetapi menjelma menjadi panggung besar diplomasi moral dunia. Dari Surabaya, Muslimat NU mengirimkan pesan universal kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB): hentikan perang, bangun kedamaian, dan rawat kemanusiaan. Ini bukan hanya suara organisasi, melainkan suara nurani bangsa.

Dalam konteks inilah kepemimpinan transformasional, inovatif, kreatif, dan berkelas dunia dari Ibu Dr. Hj. Khofifah Indar Parawansa menemukan relevansinya secara sangat kuat. Sebagai Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU sekaligus Gubernur Jawa Timur, Khofifah tidak sedang membangun pengaruh berbasis kekuasaan semata, tetapi membangun soft power peradaban melalui spiritualitas, pendidikan karakter, diplomasi kemanusiaan, dan pemberdayaan perempuan. Ia berhasil mengubah forum keagamaan menjadi forum global yang menyuarakan perdamaian lintas bangsa dan lintas peradaban.

Yang menarik, pendekatan Khofifah bukanlah pendekatan politik konvensional yang kering dari nilai-nilai ruhani. Ia justru memadukan antara kekuatan spiritual Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan modernitas global secara elegan dan futuristik. Kehadiran ulama dunia Al Sheikh Al Sayid Afeefuddin Al-Jailani bersama keluarga besarnya memperlihatkan bahwa Muslimat NU hari ini tidak lagi hanya menjadi organisasi domestik, tetapi telah tumbuh menjadi bagian penting dari jaringan spiritual dunia Islam moderat yang membawa pesan rahmatan lil ‘alamin.

Di titik ini, kita melihat bagaimana Muslimat NU di bawah kepemimpinan Khofifah sesungguhnya sedang membangun global spiritual civilization. Sebuah gerakan peradaban yang tidak hanya mengajarkan ritual keagamaan, tetapi juga menanamkan akhlak, ketahanan keluarga, pendidikan karakter generasi muda, hingga etika penggunaan teknologi digital. Ketika Syeikh Afeefuddin–yang masuh cicit Murabbi Ruhina Syaikhona Syekh Abdul Qadir Jailani dari Iraq–mengingatkan bahaya kecanduan gawai dibanding dzikir kepada Allah, sesungguhnya itu adalah kritik spiritual terhadap krisis manusia modern yang kehilangan arah batin di tengah ledakan teknologi.

Karena itu, pesan yang lahir dari Harlah ke-80 Muslimat NU bukan sekadar nostalgia organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Ini adalah gerakan peradaban perempuan Islam modern yang berpijak pada nilai-nilai Aswaja, namun mampu berbicara di panggung dunia. Muslimat NU tidak hanya mengurus majelis taklim, tetapi ikut merumuskan masa depan perdamaian global, ketahanan moral keluarga, hingga pembangunan generasi berkarakter di era digital.

Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan atau SDGs, langkah Muslimat NU sangat relevan dengan tujuan besar dunia: quality education, gender equality, peace justice and strong institutions, reduced inequalities, hingga partnership for the goals. Sementara dalam kerangka Nawa Bhakti Satya Jawa Timur, gerakan ini menjadi manifestasi nyata dari Jatim Harmoni, Jatim Sejahtera, Jatim Cerdas, dan Jatim Berkah. Artinya, pembangunan tidak cukup hanya berbasis ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga harus berbasis spiritualitas, kemanusiaan, dan ketahanan moral masyarakat.

Lebih jauh lagi, keberhasilan menghadirkan lebih dari lima belas ribu jamaah secara mandiri dari berbagai daerah, termasuk kepulauan seperti Kangean dan Sepudi, menunjukkan bahwa Muslimat NU memiliki modal sosial luar biasa besar. Ini bukan sekadar loyalitas organisasi, tetapi bukti adanya ikatan ruhani, kepercayaan moral, dan kepemimpinan yang mampu menyentuh hati masyarakat akar rumput hingga level global.

Pada akhirnya, Harlah ke-80 Muslimat NU mengajarkan kepada dunia bahwa perempuan bukan hanya objek pembangunan, melainkan subjek utama penjaga peradaban. Dan di tangan Khofifah Indar Parawansa, Muslimat NU tampak berhasil melampaui batas-batas organisasi keagamaan biasa. Ia menjelma menjadi gerakan moral global yang membawa pesan damai dari Indonesia untuk dunia.

Dari Masjid Al Akbar Surabaya, dzikir tidak lagi hanya menggema di langit-langit masjid, tetapi juga mengetuk nurani dunia. Dan dari Muslimat NU, dunia belajar bahwa perdamaian sejati lahir bukan dari kekuatan senjata, melainkan dari kekuatan cinta, doa, akhlak, dan kemanusiaan.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry